cover photo

 

1 Maret: Hari Nol Diskriminasi

” Tak satupun manusia dilahirkan untuk membenci orang lain karena perbedaan warna kulit, latar belakang, ataupun agamanya. Orang harus belajar untuk membenci, dan karena itu pula mereka bisa belajar untuk mencintai, karena mencintai lebih alamiah bagi hati manusia daripada sebaliknya.”    –  Nelson Mandela

Sebagai bangsa yang ditakdirkan hidup dalam kemajemukan, tampaknya masih banyak yang perlu kita pelajari untuk mengikis sikap diskriminatif terhadap mereka yang berbeda dari kita. Perbedaan latar belakang ekonomi, pendidikan, agama dan kepercayaan, asal suku, kemampuan fisik dan mental, hingga politik dan orientasi seksual, adalah di antara perbedaan yang kerap memisahkan kita. Bahkan memicu kekerasan dan pelanggaran hak-hak paling dasar sebagai manusia. Tidak hanya kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan dalam bentuk ancaman, penghilangan rasa aman, dan pengingkaran terhadap akses untuk hidup layak sebagai warga negara yang merdeka. Termasuk akses kepada layanan kesehatan yang setara, apapun status kesehatan yang dialami.

Diperingati untuk pertama kalinya pada 1 Maret 2014, Hari Nol Diskriminasi (Zero Discrimination Day), adalah sebuah hari istimewa untuk merayakan kebebasan, kesetaraan, dan mengakhiri pengucilan. Hari ini digagas oleh UNAIDS untuk melawan rasisme, diskriminasi di lapangan kerja dan di sekolah, dan lain sebagainya yang pada intinya mencegah orang untuk berpartisipasi secara penuh dan bermakna di masyarakat. Gerakan Hari Nol Diskriminasi ini mendapat dukungan dari tokoh-tokoh dan kelompok masyarakat di seluruh dunia yang benar-benar menginginkan sebuah dunia yang bebas stigma dan diskriminasi.

Beberapa pekan terakhir media massa dan media sosial kita disibukkan oleh isu LGBTIQ. Kita tentu saja boleh tidak setuju dengan pilihan orientasi seksual seseorang, namun itu tidak menjadikan kita berhak untuk bertindak semena-mena terhadap mereka. Apalagi sampai menghilangkan nyawa mereka. Sebuah laporan UNDP menyebutkan, bahwa antara Januari 2008 sampai Desember 2012, telah terjadi 1.123 pembunuhan terhadap kelompok transgender di 57 negara di dunia. Pembunuhan yang tidak banyak orang bereaksi atasnya. Sangat senyap dibandingkan dengan hukuman mati atas pengedar narkoba.

Dalam konteks penanganan HIV dan AIDS, ini adalah momen yang mengingatkan kita semua untuk bekerja lebih keras mengakhiri stigma dan diskriminasi. Kita semua tahu, bahwa setiap tindakan yang berujung pada intoleransi dipicu dan dipacu oleh hukum, kebijakan, dan praktik-praktik yang sebagian besarnya hanya didasarkan pada informasi yang keliru, ketakutan, dan penilaian berbasis moral belaka. Semuanya tidak membantu apa-apa — tidak pengidap, dan tidak juga kesiapan kita menangani epidemi ini. Sekadar mengingatkan saja, HIV tidak lagi bisa diidentikkan dengan pekerja seks, pengguna narkoba suntikan, lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki, ataupun transgender. Karena pada kenyataannya hari ini sudah ratusan, mungkin ribuan ibu rumah tangga yang terinfeksi, dan bayi-bayi tak berdosa yang lahir dengan virus di tubuhnya. Sampai kapan kita akan menutup mata dari kenyataan ini?

Mungkin sulit membayangkan beban stigma dan diskriminasi jika kita bukan kelompok minoritas menurut kriteria apapun, atau kita tidak terinfeksi HIV. Tapi bagi yang mengalaminya, diskriminasi adalah kenyataan yang hidup dalam kesehariannya. Ia bukan teori, tapi fakta yang hidup. Menurut catatan UNAIDS, secara global masih ada banyak negara yang tidak mendukung berkurangnya kerentanan terhadap HIV dan AIDS hanya karena ketakutan dan prasangka. “Diskriminasi adalah pelanggaran hak dan tidak bisa dibiarkan,” kata Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon. “Setiap orang berhak untuk hidup secara terhormat dan penuh harga diri.”

Sementara Direktur UNAIDS, Michel Sidibe, dalam sambutannya untuk Hari Nol Diskriminasi tahun ini mengatakan bahwa “Stigma dan diskriminasi menciderai dan memecahbelah masyarakat. Tidak seharusnya orang menderita karena ketakutan dan kebodohan

Dalam siaran persnya menyambut Hari Nol Diskriminasi, UNAIDS menekankan pada diskriminasi di layanan kesehatan yang masih terus berlangsung hingga saat ini di banyak masyarakat dan negara. Laporan mengenai kasus-kasus diskriminasi terus masuk dari berbagai belahan dunia: perempuan muda dengan HIV yang diharuskan oleh dokternya menjalani sterilisasi, perempuan pekerja seks yang mengalami kekerasan dari petugas, gay muda yang diancam oleh petugas akan dibuka identitasnya, seorang transgender yang mencoba bunuh diri setelah kabur dari klinik, sampai seorang dengan cacat fisik yang terpaksa tidak bisa mengakses layanan kesehatan seksual karena tidak ada petugas termasuk dokter yang mampu menangani kasusnya.

Klinik dan rumah sakit, atau tempat-tempat pengobatan lainnya, harus menjadi lingkungan yang aman dan memulihkan. Namun nyatanya kesenjangan masih ada di mana-mana. Pelayanan kesehatan yang berkualitas seharusnya bisa diakses oleh setiap orang, sehingga setiap hambatan yang ada, termasuk untuk melakukan test, harus bisa dihilangkan.

Hari Nol Diskriminasi harus menjadi momentum bagi kita semua untuk memikirkan cara-cara baru menghilangkan stigma dan diskriminasi. Yang terpenting adalah mengubah sudut pandang, bahwa perbedaan adalah sesuatu yang perlu dirayakan, bukan sesuatu yang menakutkan.