bungaperempuan

 

Hari Perempuan Internasional

Hari ini, 8 Maret, diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional – hari di mana kita mengenang apa yang sudah dilakukan oleh perempuan dalam hidup kita. Perempuan itu bisa berarti ibu kita, kakak dan adik perempuan kita, pasangan kita, ibu guru kita sejak dari sekolah paling awal hingga saat ini, pahlawan bagi negara kita, sampai perempuan asisten rumah tangga yang setiap hari mempermudah hidup kita dan keluarga kita.

Untuk kita, para perempuan itu ada yang sosok dan wajahnya menghiasi hari-hari kita. Sejak kita kecil hingga saat ini. Ada pula yang kita hanya kenal namanya namun menginspirasi hidup kita. Ada yang memberi pelajaran berharga, dengan cara yang menyenangkan ataupun sebaliknya. Tapi yang lebih banyak lagi adalah perempuan tanpa nama dan wajahnya tak pernah kita lihat. Mereka “tidak lebih” dari statistik, tapi statistik itu nyata dan atas dasar itu sebagian kita bekerja.

Proporsi perempuan miskin, perempuan yang menjadi kepala keluarga, perempuan yang bekerja sebagai buruh, perempuan yang terinfeksi HIV, perempuan pecandu narkoba, perempuan yang mengalami kekerasan, perempuan di pertanian dan perkebunan, perempuan yang meninggal karena proses paling alamiah dalam hidup ini yakni melahirkan … daftarnya bisa sangat panjang.

Seratus tahun lebih sudah berlalu sejak gerakan perempuan pertama muncul di Eropa, menuntut hak memberikan suara dalam pemilihan umum. Hak tersebut telah diterima perempuan di Inggris sejak 1918, namun baru tahun lalu diterimakan kepada perempuan di Arab Saudi. Hari ini, setelah seperlima kursi parlemen di dunia (bahkan di Indonesia kuotanya adalah 30 persen) diisi oleh perempuan, hanya 19 perempuan yang menjadi kepala Negara. Padahal secara teori ada 196 negara di mana perempuan bisa menjadi pemimpin. Sudah jauh lebih baik dibanding 20 tahun lalu, tapi artinya masih jauh lebih banyak lagi yang harus dilakukan. Jumlah perempuan yang menjadi menteri sudah meningkat tiga kali lipat pada 2014, dibanding tahun 1994. Tapi dibanding laki-laki, jumlah mereka hanya 17 persen.

Belum lagi kalau kita bicara soal ketimpangan dalam upah. Diperkirakan perempuan masih harus menunggu 118 tahun untuk mendapatkan persamaan upah dengan laki-laki. Ekonomi, mau tidak mau, menjadi indikator penting untuk menunjukkan ketimpangan itu masih ada. Di sini, partisipasi angkatan kerja perempuan dalam 10 tahun terakhir ini meningkat hingga mencapai sekitar 51 persen. Persoalannya, angka ini masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan angka partisipasi angkatan kerja laki-laki yang mencapai 85 persen. Selain itu, pada jenis-jenis pekerjaan yang sama, upah perempuan Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan upah laki-laki, selisih ini bahkan mencapai 25 persen (http://www.mampu.or.id/id/program/meningkatkan-akses-perempuan-pada-pekerjaan-serta-menghilangkan-diskriminasi-di-tempat-kerja)

Hari Perempuan Internasional tahun ini temanya didekatkan kepada Agenda Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 2030, yang berangkat dari target-target Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) yang belum tercapai pada 2015. Momen ini menjadi penting sebagai pengingat untuk bekerja lebih keras bagi 120 juta anak perempuan dan perempuan di bawah 20 tahun yang dipaksa melakukan hubungan seks baik karena motivasi ekonomi keluarga ataupun atas nama agama. Kekerasan seksual diyakini bisa dikurangi jika perempuan mendapatkan akses kepada pendidikan dan pekerjaan yang layak.

Namun, seperti dikatakan oleh Clara Zetkin, perempuan aktivis Jerman yang pertama kali menggagas Hari Perempuan Internasional pada 1911, ketidakadilan yang dialami perempuan tidak bisa selesai jika motivasinya hanya ekonomi belaka. Gerakan perempuan seharusnya didasarkan pada spiritualitas dan berbasis moralitas yang melintasi batas-batas kelas, ras, dan agama. Dan itu artinya perjuangan kesetaraan perempuan pada hakikatnya adalah perjuangan untuk mencapai kesetaraan bagi semua umat manusia.