o1

AIDS dan NARKOTIKA: Pengalaman ASEAN 
Awal April 1999, penulis mengikuti seminar AIDS Asean di Hanoi selama seminggu penuh. Seminar, yang sebetulnya lebih tepat disebut sebagai pelatihan intensif tersebut, ditujukan untuk meningkatkan manajemen program AIDS. Acara yang diselenggarakan oleh JICWELS dari Jepang bersama UNAIDS ini dihadiri oleh para pakar dan fasilitator dari CDC Atlanta, Amerika. Sementara peserta dating dari Brunei, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Indonesia, dan Vietnam sendiri. Ada beberapa catatan dari forum tersebut yang bisa menjadi pelajaran buat kita di Indonesia dalam menghadapi masalah HIV/AIDS.

Yang paling menghawatirkan adalah kemungkinan melonjaknya infeksi HIV/AIDS di kalangan pecandu narkotika. Untuk diketahui jumlah pecandu narkotika di Jakarta ada sekitar 100.000 –120.000 orang, dan sebagian besar memakainya melalui suntikan. Pada pertemuan Hanoi tersebut, wakil dari Vietnam melaporkan peningkatan prevalensi HIV di kalangan pecandu narkotika di beberapa kota: dari 0% pada tahun 1996 menjadi 12% di kota Lang Son dan 32.5% di kota Hai Phong pada akhir 1998. Di Nha Trang, juga pada akhir tahun lalu, ditemukan 170 pecandu narkotika terinfeksi HIV dari 200 orang yang diperiksa (85%), sedangkan di Dha Nang didapatkan 124 positif HIV dari 155 orang pecandu yang diperiksa . Di Ho Chi Minh City (HCMC) prevalensi HIV di kalangan tersebut 3% pada tahun 1992, kemudian meningkat menjadi 28% pada tahun 1997 dan 1998. Perlu diketahui Vietnam mempunyai jumlah penduduk 75 juta dan GNP 310 dollar Amerika pada tahun 1996. Myanmar dengan penduduk 45.57 juta juga mengalami nasib serupa. Infeksi HIV yang hanya satu orang pada tahun 1988, mulai tahun 1990 paling sedikit ditemukan 1000 orang pertahun. Pada tahun 1998 bahkan ditemukan 3.689 orang yang terinfeksi HIV dan 517 AIDS dan Narkotika

Di beberapa kota di Myanmar prevalensi HIV di kalangan pecandu narkotika melebihi 60%. Penularan HIV di kalangan pecandu narkotika terjadi amat cepat karena beberapa faktor. Antara lain (a) karena kebiasaan pinjam
meminjam jarum suntik tanpa disterilkan lebih dulu, sehingga dengan mudah memindahkan darah yang mengandung HIV ke pecandu berikutnya, (b) kaitan yang erat antara narkotika dan pekerja seks dan seks bebas, serta (c) belum adanya upaya pencegahan yang efektif.

Wakil dari Thailand mengemukakan data yang lebih rinci. Di negara Gajah Putih tersebut ditengarai 6 gelombang wabah HIV/AIDS. Gelombang pertama adalah mencoloknya peningkatan infeksi HIV/AIDS di homoseksual di sekitar tahun 1987, disusul gelombang kedua di pecandu narkotika pada tahun 1990, kemudian pekerja seks pada tahun 1992, disusul gelombang ke-4 pada laki-laki dengan PMS (penyakit menular seksual). Gelombang ke-5 pada wanita hamil, yang langsung diikuti gelombang terakhir pada bayi dan anak-anak pada tahun 1997.

Untuk pecandu narkotika, survei terakhir di Thailand pada bulan Juni menunjukkan prevalensi infeksi HIV yang tinggi, yaitu 47.46% pecandu narkotika sudah terinfeksi HIV. Menyimak data dari negara-negara ASEAN tersebut, kita patut khawatir akan terjadi ledakan infeksi HIV di masyarakat pecandu narkotika di Indonesia yang jumlahnya makin membengkak. Para ahli memperkirakan jumlah pecandu narkotika sekitar 100.000 sampai 120.000 di Jakarta dan sekitar 1 juta di seluruh Indonesia.Makin banyak di antara mereka yang memakai narkotika suntikan (75%). Data di negara tetangga tersebut menunjukkan waktu sekitar 5-10 tahun untuk mencapai 10% infeksi HIV pada pecandu narkotika.

Walaupun sama-sama negara ASEAN, latar belakang social budaya dan agama Indonesia memang tidak sama dengan negara-negara tersebut di atas. Namun bila kita mencari negara yang paling menyerupai Indonesia, Malaysia misalnya, kita akan lebih terkejut. Malaysia dengan jumlah penduduk sekitar sepersepuluh Indonesia, melaporkan 30.314 orang dengan infeksi HIV/AIDS sampai dengan 30 November 1998, dengan rincian 28.185 orang infeksi HIV dan 2.129 orang dengan AIDS. Pecandu narkotika merupakan bagian terbesar dari infeksi HIV yaitu 75.56%. Dengan demikian sangat layak jika kita khawatir akan terjadi lonjakan infeksi HIV di kalangan pecandu narkotika di Indonesia.

Maka, upaya pencegahan perlu segera dikerjakan, karena HIV menjalar amat cepat di kalangan pecandu narkotika, untuk kemudian dengan cepat menyebar ke anggota masyarakat yang lain. HIV/AIDS juga akan mempunyai dampak segera ke bayi dan anak-anak. Baik akibat pengaruh langsung melalui penularan dari ibu ke bayi, atau pengaruh tidak langsung akibat kematian salah satu atau kedua orangtuanya.
Cara pencegahan terbaik untuk memperlambat epidemi HIV pada pecandu narkotika adalah mengurangi atau menghentikan sama sekali pemakaian narkotika dan perilaku risiko tertular HIV yang lain. Ada beberapa prioritas kegiatan untuk mengurangi risiko tertular HIV, yaitu:
a) Abstinensi , menghentikan sama sekali semua jenis pemakaian narkotika.
b) Menghentikan menyuntik narkotika, walaupun tetap meneruskan pemakaian narkotika non suntikan.
c) Tetap menyuntik, tetapi hanya memekai jarum dan spuit (syringe) steril.
d) Menghentikan pinjam-meminjam jarum suntik untuk dipakai bergantian.
e) Tetap meneruskan pinjam meminjam jarum suntik tetapi dibilas dulu dengan bleach (cairan pemutih baju, natrium hipoklorit).

Makin banyak bukti menunjukkan bahwa mengurangi seringnya pinjam-meminjam alat suntik untuk dipakai bergantian, dapat mengurangi penularan HIV walaupun tidak disertai program lain. Salah satu upaya intervensi yang penting untuk mengurangi infeksi HIV di kalangan pecandu narkotika adalah penyuluhan untuk meningkatkan kewaspadaan mereka mengenai risiko penularan HIV. Dalam menjalankan program ini perlu diingat bahwa pecandu narkotika bukan kelompok masyarakat yang homogen. Keragaman yang dijumpai di kalangan pecandu narkotika bervariasi. Mulai dari jenis narkotika yang mereka gunakan, hingga faktor risiko (misalnya kedekatan dengan pekerja seks) yang bermacam-macam. Karena itu diperlukan strategi penanggulangan yang juga bervariasi.

Menyediakan jarum steril merupakan upaya yang paling mengundang kontroversi. Banyak yang menyetujui, namun banyak pula yang akan menentangnya. Pengalaman di banyak negara menunjukkan, penyediaan jarum suntik steril dapat menekan penularan HIV maupun hepatitis B. Penyediaan jarum dan spuit steril dapat melalui program penukaran jarum, program yang melalui apotek atau puskesmas, ataupun program jangkauan. Kendala utama penerapan program ini di beberapa negara adalah masalah hukum. Dekontaminasi jarum suntik bekas pakai untuk menginaktivasi HIV dapat dikerjakan dengan cara pemanasan atau kimiawi. HIV di jarum suntik bekas dapat dimatikan dengan memasukkan dalam air mendidih selama 20 menit. Cara ini tidak praktis dan sering tidak mampu laksana buat pecandu narkotika. Alternatif lain adalah membilas jarum suntik dan spuit bekas pakai dengan memakai cairan pemutih baju. Cairan pemutih ini mudah didapat di sebagian besar rumah tangga, tidak merusak jarum suntik, tidak mengganggu kesehatan dan mudah dikerjakan.

Menurut Institut Nasional Penyalahgunaan Obat dan CDC Amerika, membilas dengan cairan pemutih dapat mengurangi risiko penularan HIV di antara pecandu narkotika, walaupun tidak ada jaminan menghilangkan risiko penularan dan tidak sebaik memakai jarum steril dan spuit sekali pakai.

Pengobatan untuk masalah kecanduan narkotika, baik di klinik ataupun di rumah sakit, ternyata dapat mengurangi risiko penularan HIV. Pecandu narkotika yangberobat ke klinik-klinik metadon di Amerika terbukti mempunyai prevalensi HIV yang lebih rendah secara bermakna dibandingkan yang tidak berobat ke klinik metadon. Intervensi dengan cara menjangkau keluar atau “menjemput bola” (outreach) merupakan cara yang efektif untuk penyuluhan AIDS dan mengurangi risiko tertular HIV buat pecandu narkotika. Untuk diketahui, sukar sekali mengajak pecandu narkotika ke tempatpenyuluhan, sehingga cara yang sebaiknya dipilih adalah penyuluh yang mendatangi tempat pecandu narkotika berkumpul.

Mengembangkan agar pecandu narkotika dan mantan pecandu mendirikan organisasi ternyata mempunyai dampak positif di lingkungan masyarakat yang belum bisa menerima kehadiran mereka. Di negara lain, organisasi ini terbukti dapat menekan penularan HIV/AIDS. Kegiatan yang dilakukan adalah melakukan layanan penukaran atau penyediaan jarum suntik, melakukan penyuluhan kepada anggotanya, dan melakukan advokasi. Tentu diperlukan sosialisasi dan dukungan masyarakat untuk melaksanakan ide ini. Program intervensi pada pecandu narkotika akan mengundang polemik masyarakat, sehingga diperlukan penyuluhan ke masyarakat untuk membentuk opini bahwa program tersebut jauh lebih banyak manfaatnya, baik untuk pecandu narkotika maupun untuk masyarakat sendiri. Untuk itu diperlukan juga kemauan politik dari pemerintah agar program penyuluhan masyarakat ini dapat mencapai hasil yang diharapkan.

Program intervensi seks aman (safe sex) untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual di kalangan pecandu narkotika hasilnya ternyata tidak menggembirakan. Masalahnya, sulit membuat pecandu narkotika menerima, mengenal, dan memahami risiko tertular HIV melalui hubungan seksual yang dikaitkan dengan masalah pemakaian obat.


Kesimpulan
Narkotika menghancurkan kehidupan banyak individu dan merusak tatanan msyarakat. Konfrontasi terhadap perdagangan obat bius dan dampaknya, merupakan tantangan besar untuk masyarakat internasional. Walaupun masalah narkotika sudah dikenal berabadabad namun sekarang ini masalahnya makin besar dan subur seperti jamur di musim hujan.

Masalah HIV pada pecandu narkotika ternyata merupakan masalah yang besar dan serius. Beberapa negara tetangga kita, Vietnam, Myanmar, Malaysia mengalami lonjakan infeksi HIV diantara pecandu narkotika. Tampaknya kita harus siap dan segera menjalankan upaya-upaya pencegahan dan dukungan dan pengobatan agar tidak mengalami nasib yang sama.

Dimuat di harian Republika, 2 Mei 1999.
(Tulisan ZD 19 tahun yl)