oplosan

Alkohol Oplosan: Risiko dan Penanganan

Medio April 2018 ini kita (kembali) dikagetkan oleh berita 307 orang dirawat dan 34 orang meninggal di RSUD Cicalengka (Republika, 15/04/2018) karena keracunan minuman keras oplosan. Secara total korban tewas mencapai 52 orang, termasuk Bandung Selatan dan Sukabumi (Kompas 12/04/2018). Bahkan dalam catatan Wakapolri, 112 nyawa tewas akibat menenggak miras oplosan dalam waktu satu bulan terakhir, termasuk di Cicalengka dan Jabodetabek (CNN nasional 19/04/2018).

Tragedi yang sesungguhnya kerap berulang di Indonesia ini juga mendapatkan sorotan internasional. BBC News edisi 19 April 2018 mewartakan hasil penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) yang menyebutkan bahwa dalam kurun 10 tahun (sampai 2016) total korban tewas akibat miras oplosan mencapai 837 orang. Jika ditelusuri lebih jauh, sebanyak 300 orang menjadi korban tewas selama tahun 2008-2013, dan melonjak tajam menjadi lebih dari 500 orang pada periode 2014-2018.

Akar Tradisi

Minuman beralkohol, perlu diakui, memiliki akar panjang di negeri ini. Kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca, misalnya, menjelaskan bagaimana minuman beralkohol kerap digunakan dalam perjamuan agung di Kerajaan Majapahit. “Ritual” serupa juga tercatat pada masa penjajahan Belanda, yakni di Keraton Yogyakarta yang kerap mengadakan acara minum bersama di Bangsal Sarangbaya. Minum untuk pergaulan juga dilakukan oleh masyarakat Indonesia di wilayah timur seperti Lombok dan Papua yang menghidangkan sopi untuk menghormati tamu dan mengukuhkan persudaraan. (https://peminumbijak.com/2017/08/09/mengenal-budaya-minum-minuman-beralkohol-di-indonesia/).

Selain untuk tujuan sosial, minuman beralkohol juga memiliki tempat dalam berbagai upacara adat di Indonesia. Dari fermentasi sari kelapa dan buah-buahan, masyarakat Bali mengenal arak Bali yang kadar alkoholnya bisa mencapai 50%. Selain untuk konsumsi, arak di Bali juga menjadi bagian penting dalam upacara adat dan sesembahan, termasuk dalam ritual Bhuya Yadnya yang dimaksudkan untuk mengusir roh jahat.

Tidak terlalu sulit untuk mendapatkan referensi mengenai penggunaan dan konsumsi alkohol di banyak masyarakat daerah di Indonesia. Dari Sulawesi Utara kita mungkin pernah mendengar minuman keras Cap Tikus yang berbahan dasar sagoer, cairan dari pohon enau yang mengandung alkohol 5 persen. Lalu ada tuak yang bahannya beragam: mulai dari nira kelapa, legen dari pohon siwalan, atau hasil fermentasi buah-buahan manis lainnya, dan juga beras. Tuak tidak hanya popular di daerah Batak (ingat istilah “lapo tuak”), tapi juga di wilayah Jawa. Selain ketiga minuman alkohol tersebut masih ada sopi (Maluku dan Papua), ciu-ciu yang diproduski di daerah Banyumas hingga Solo, intisari (Jakarta), lapen (Yogyakarta), milo yang terbuat dari sari pohon kelapa (Papua), dan cong yang (Semarang) (www.satuharapan.com/life/9-minuman-tradisional-beralkohol-di-indonesia).

Oplosan Mematikan

Kebiasaan mengoplos minuman keras juga sebenarnya bukan hal baru. Masyarakat yang akrab dengan minuman beralkohol sudah lama melakukan kebiasaan ini antara lain untuk mendapatkan variasi rasa, selain faktor ekonomis atau mencampur minuman berkualitas tinggi dengan kualitas rendah untuk mendapatkan efek yang sama dengan rasa yang paling optimal.

Tetapi, mencermati kasus-kasus berujung maut belakangan ini, tampaknya belakangan kebiasaan mengoplos semakin lama lebih karena pertimbangan mendapatkan efek paling “nendang” atau paling memabukkan. Tidak cukup dengan mencampur minuman berbahan dasar ethanol dengan soda atau ginseng, oplosan dilakukan dengan menggunakan methanol. Methanol dicampurkan kedalam minuman beralkohol karena harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan ethanol (alkohol). Padahal meski sama-sama keluarga alkohol ethanol berbeda dari methanol. Ethanol atau ethil alcohol memiliki rumus kimia C2H5OH, sementara methanol atau ethil alcohol memiliki rumus kimia CH3OH. Methanol adalah hasil produksi pabrik kimia, digunakan sebagai bahan pelarut industri dan sedikitpun tidak boleh kita dikonsumsi karena menyebabkan kerusakan otak dan retina. Jika sampai terminum, meski hanya sedikit (sekitar 25-90 cc), methanol dapat menyebabkan kematian karena sifatnya yang beracun dan mudah terbakar. Spiritus adalah contoh methanol yang mudah didapatkan di rumah tangga.

Betapa berbahayanya methanol bagi kesehatan bisa dilihat dari sempitnya waktu yang tersedia untuk menyelamatkan seseorang yang menelan zat tersebut. Keracunan methanol hanya dapat disembuhkan bila didiagnosis dini, beberapa jam pertama setelah minum methanol dan segera diobati. Untuk diketahui, keracunan methanol tidak hanya bisa terjadi melalui mulut (diminum), tetapi juga melalui inhalasi (terhirup), dan paparan ke kulit yang menyebabkan kulit menjadi kering, gatal-gatal dan iritasi.

Di dalam tubuh methanol yang terminum diubah menjadi asam format, yang menyebabkan darah menjadi asam (asidosis metabolik). Mula-mula gejala awal keracunan methanol mirip sekali dg keracunan minum minuman alkohol berlebihan, disusul dengan gejala yang berat beberapa jam kemudian, antara lain nyeri perut hebat, mual dan muntah, kesukaran bernafas, penglihatan kabur, buta, kejang, koma hingga akhirnya meninggal.

Faktor prognosis yang buruk adalah asidosis berat, kejang dan koma. Bila pH kurang dari 7 (asidosis berat) angka kematian 20x dibandingkan dengan pH di atas 7. Pasien dengan kejang dan koma mempunyai angka kematian 10 kali lipat dibandingkan dengan pasien tanpa gejala tersebut.

Penanganan

Bila ada sangkaan keracunan methanol pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas cuci darah (hemodialysis). Hemodialisis sangat penting untuk mengeluarkan methanol dari darah pasien. Hemodialisis berfungsi untuk mengeluarkan methanol dan asam format serta mengatasi asidosi metabolik. Karena itu heamodialisis harus dipertimbangkan pada pasien oplosan dengan indikasi:

  1. Asidosis berat
  2. Kejang
  3. Kadar asam format tinggi
  4. Kelainan funduskopi
  5. Perubahan mental

Namun dokter harus mewaspadai risiko timbulnya komplikasi seperti perdarahan otak, karena iskemia serebral bilateral akibat toksisitas asam format dan pemakaian heparin sewaktu dialisis.

Selain itu hypophosphatemia bila diperlukan hemodialisis yang lama.

Selain hemodialysis, Fomepizole bermanfaat untuk menghambat metabolisme methanol, namun seringkali tidak tersedia di rumah sakit. Bila Fomepizole tidak tersedia, untuk pertolongan pertama dapat diberikan ethanol. Liver pasien akan memetabolisir ethanol lebih dahulu baru kemudian methanol, sehingga memperlambat timbulnya keracunan methanol. Selain itu pemberian natrium bicarbonate dapat menetralisir asam format dan memperbaiki asidosis.

Beberapa tindakan penyelamatan awal seperti memindahkan korban ke tempat yang udaranya lebih segar, memasang masker berkatup, atau membersihkan kulit yang terpapar methanol dengan air mengalir bisa dilakukan. Tetapi menghubungi dokter dan rumah sakit terdekat tetap yang utama untuk menyelamatkan pasien dari kematian.

Penutup

Kasus keracunan methanol tidak hanya terjadi di Indonesia. Dengan sedikit upaya penelusuran kita bisa melihat bahwa kasus serupa pernah terjadi juga di Kamboja (2012) dengan korban 300 orang dirawat dan 49 meninggal setelah meminum arak beras yang dicampur dengan methanol. Selain itu, kasus keracunan methanol juga dilaporkan terjadi di Republik Chechnya, El Salvador, Estonia, India (korban cukup banyak, mencapai 1000 orang dalam kurun tiga dekade terakhir, termasuk karena sebab industri yang menggunakan methanol), Iran, Itali, Libya, bahkan negara maju seperti Norwegia, dan Rusia (https://en.m.wikipedia.org/wiki/List_of_methanol_poisoning_incidents). Di Amerika Serikat pada Januari 2016, jadi belum lama berselang, Tennessee Poison Center and Tennessee Department of Health mencatat dua kematian dan dua korban lainnya bisa diselamatkan setelah berlomba mengonsumsi minuman berkarbonasi yang dicampur oleh methanol murni (100 persen) (https://www.cdc.gov/mmwr/volumes/65/wr/mm6522a4.htm).

Beberapa penelitian yang pernah dilakukan di India dan Inggris menunjukkan rata-rata korban keracunan methanol berusia dewasa muda, kurang dari 40 tahun dan sebagian besar (94%) adalah laki-laki (Rahayu, 2010). Faktor psikologis seperti stress, persaingan mendapatkan pekerjaan yang layak, tuntutan untuk sukses secara finansial, dan lingkungan yang padat, seringkali dituding sebagai pemicu orang melarikan diri ke godaan minuman keras. Akan tetapi, seperti dipaparkan sebelumnya, tradisi minum minuman beralkohol juga harus diakui ada, selain akses yang sangat mudah untuk mendapatkannya dan kontrol oleh penegak hukum yang masih tergolong sangat longgar.

Dalam situasi seperti ini, kontrol internal alias pengendalian diri sangat penting dikuatkan. Pendidikan di rumah oleh orang tua untuk melatih anak untuk “menunda kesenangan” dan “mengalami kesulitan”. Dari sudut pandang psikologis, seorang anak mulai belajar kemampuan ini pada usia sekitar lima tahun. Mereka mulai belajar untuk mengerjakan PR dulu, baru bermain. Makan sayur dulu, baru makan permen. Ketidakmampuan menahan impuls “penderitaan” kecil-kecil di masa kecil ini, menurut psikolog Scott Peck, ternyata berdampak besar pada usia dewasa. Perspektif ini menjelaskan dengan baik mengenai problem penyalahgunaan obat, alkohol, kekerasan, dan masalah lainnya yang membawa konsekuensi hukum, yang muncul pada usia yang lebih dewasa.

Semoga bermanfaat sebagai bahan renungan.