angelina jolie

Angelina Jolie dan Mastektomi

Dunia terbelalak ketika pada Mei 2013 peraih Oscar dan aktivis kemanusiaan Angelina Jolie mengumumkan akan menjalani operasi pengangkatan kedua payudaranya. Tindakan berani itu diambilnya untuk mencegah kanker payudara. Lazimnya, mastektomi ganda (double mastectomy, istilah kedokteran untuk pengangkatan kedua payudara) dilakukan setelah seseorang dideteksi positif mengidap kanker. Yang dilakukan Jolie tak pelak menimbulkan keheboha karena kanker belum terdeteksi di tubuhnya. Apa lagi karena ia melakukannya di puncak ketenarannya sebagai artis. Jolie seperti ingin menumbangkan mitos bahwa payudara adalah identitas paling dasar seorang perempuan.

Apa yang sebenarnya terjadi? Ibu dari enam anak ini ternyata sampai pada keputusan radikal itu setelah mengetahui bahwa gen BRCA1 – yakni gen yang menjadi penanda kanker payudara – di tubuhnya mengalami penyimpangan. Itu artinya ia memiliki risiko 87 persen akan terkena kanker payudara dalam hidupnya. Dengan melakukan mastektomi ganda, risiko tersebut diperkecil radikal hingga kurang dari 5 persen. Tidak hilang sama sekali, tapi jauh lebih kecil.

Yang dilakukan dokter adalah mengangkat seluruh jaringan di kedua payudara Jolie dan mempertahankan hanya kulitnya. Sembilan minggu setelah itu dokter melakukan bedah rekonstruksi dengan memasukkan “filler” ke dalam kulit payudara untuk mempertahankan bentuk dan elastisitas kulit.

Keputusan yang diambil Jolie melakukan tindakan operasi profilaksis (pencegahan) tak pelak menginspirasi banyak perempuan lain yang merasa bahwa suatu pagi mereka akan bangun dan menemukan benjolan kecil di salah satu payudara.

 

Seberapa relevan tindakan mastektomi ?

Pertanyaannya adalah siapa yang sebenarnya berisiko? Seberapa besar risiko itu, sehingga keputusan radikal harus diambil bahkan sebelum kanker terdeteksi?

Penelitian menyebutkan, hanya sedikit dari perempuan yang mengalami hal seperti Jolie: memiliki penyimpangan gen BRCA1 atau BRCA2. Untuk diketahui, BRCA 1 dan BRCA2 adalah gen yang memproduksi protein tumor suppressor. Gen ini membantu memperbaiki DNA yang rusak dan karena itu menjamin kesempurnaan material genetik di dalam sel. Jika gen mengalami mutasi, sehingga protein tumor suppressor tidak bekerja dengan baik, DNA tidak akan bisa diperbaiki sebagaimana semula. Akibatnya sel-sel akan memproduksi sel-sel liar pengakibat kanker. Mutasi BRCA1 dan BRCA2 diketahui akan menyebabkan terutama kanker payudara dan ovarium, serta beberapa jenis kanker lain meski tak sebesar kedua jenis kanker tersebut.

BRCA1 dan BRCA2 yang menyimpang mungkin sekali diwarisi seseorang dari orangtuanya. Perempuan yang memiliki orangtua dengan kanker payudara, memiliki peluang lebih besar untuk mengidap kanker payudara dalam hidupnya. Untuk diketahui di antara populasi umum “hanya” 12 persen . Secara keseluruhan penyimpangan pada gen BRCA1 dan BRCA2 “bertanggungjawab” atas 5-10 persen kejadian kanker payudara, dan sekitar 15 persen kejadian kanker ovarium pada usia muda.

Melalui tes darah yang sudah lebih dari 10 tahun lalu bisa dilakukan di Indonesia, bisa diketahui apakah seseorang mengalami penyimpangan gen BRCA1 dan BRCA2. Harganya masih terhitung mahal, namun penting untuk dilakukan jika ada keluarga dekat yang mengalami kanker payudara atau kanker ovarium pada usia muda. Kembali pada Angelina Jolie, artis ini mengatakan ibundanya meninggal sekitar sepuluh tahun lalu akibat kanker payudara pada usia relative muda, 56 tahun.

Sejauh ini pemeriksaan skrining yang lebih umum seperti mamografi dan MRI lebih ditujukan untuk kebutuhan menegakkan diagnosa. Bukan pencegahan. Langkah yang diambil Angelina Jolie, sebaliknya, adalah pencegahan. Beberapa orang bahkan menyebut langkah ini sebagai “upaya untuk mengontrol takdir.”

Tapi seberapa mudah keputusan ini dibuat? Sudah barang tentu tidak mudah seperti memutuskan akan pakai baju apa ke pesta pekan depan. Mayoritas perempuan yang ditengarai memiliki risiko tinggi terhadap kanker payudara masih mengandalkan pencegahan pada cara-cara hidup sehat yang selama ini dianjurkan dokter: diet seimbang, mempertahankan berat badan ideal, olahraga teratur, dan menjauhi alkohol. Penelitian di Inggris menunjukkan bahwa sepertiga kasus kanker terkait erat dengan perubahan gaya hidup yang memudahkan timbulnya kanker.

 

Aspek Mutidimensi Kanker

Bagi mereka yang berisiko cara yang ditempuh Jolie menumbuhkan harapan untuk mengontrol dan menaklukkan kanker. Beberapa faktor risiko (jenis kelamin, usia, ras, faktor genetik, dan mutasi gen) memang tak dapat diubah, namun faktor risiko lain masih bisa dikendalikan, termasuk rokok, diet tidak seimbang, dan alkohol.

Kanker, apapun jenisnya, adalah situasi multidimensi yang harus dihadapi oleh seseorang yang terdeteksi mengidapnya. Selain aspek biologis yang dirasakan (nyeri, rambut rontok dan sebagainya), aspek psikologisnya pun tak kalah hebatnya, terutama yang diakibatkan oleh stress dan ketakutan akan akhir hayat yang dianggap segera tiba. Selain itu aspek sosial menyangkut peran-peran sosial yang akan terganggu, dan rasa bersalah karena menganggap kanker sebagai “teguran” juga turut memperberat kondisi yang ada.

Teknologi kedokteran telah memungkinkan beberapa jenis kanker termasuk kanker payudara tak sefatal dulu. Tak hanya itu, penemuan beberapa jenis obat antimual juga membuat efek samping kemoterapi sekarang lebih ringan. Namun bukan berarti tantangan kedokteran berakhir di sini. Dunia kedokteran tetap dituntut untuk memberikan layanan kesehatan dengan kualitas terbaik, komprehensif dan berkesinambungan kepada setiap pasien. Dan itu termasuk mengaplikasikan pendekatan yang lebih humanis yang melihat setiap pasien sebagai individu yang unik, mengasah terus kemampuan komunikasi, serta memanfaatkan informasi garda terdepan bagi pelayanan yang lebih baik.

Credit image : http://a.abcnews.com/images/Entertainment/GTY_angelina_jolie_jtm_140613_16x9_992.jpg