Berbagi Lensa

Mari Bekerja dengan Hati

Dahulu AIDS mungkin dianggap oleh sebagian besar masyarakat sebagai penyakit yang mengerikan. Bukan hanya itu. AIDS juga dianggap aib sehingga mendorong orang lain mendiskriminasi pengidapnya. Stigma sebagai pendosa juga kerap disematkan kepada mereka yang tertular virus perusak kekebalan tubuh ini. akibatnya stigma datang dari dua arah: dari luar (masyarakat sekitar), dan dari dalam diri individu yang tertular.

Situasi ini menyebabkan banyak orang yang perilakunya berisiko – menggunakan jarum suntik tidak steril, tidak menggunakan kondom ketika melakukan hubungan seks berisiko, dan berganti-ganti pasangan – enggan memeriksakan diri ke klinik atau rumah sakit. Padahal akses untuk VCT (Voluntary Counselling and Testing) sudah mudah sekali dijangkau. Obatnya – jika terbukti hasilnya positif – juga gratis. Dokter dan petugas medis yang merawat juga sudah semakin banyak yang terampil dan memahami benar makna kerahasiaan pasien. Akibatnya, seperti dikemukakan oleh Dr Teguh H Karjadi, SpPD, KAI, Kepala Unit Pelayanan Terpadu HIV RSCM, sebagian besar pasien HIV datang sudah dalam tahap AIDS lanjut. Artinya kadar CD4-nya rendah sekali, sebaliknya kadar VL (viral load)-nya tinggi, dan sudah dengan berbagai infeksi oportunistik. Tentu saja hasil pengobatannya akan sangat berbeda dibanding mereka yang datang ketika infeksinya masih tahap awal (CD4 tinggi dan seterusnya).

Namun sekarang situasinya berbeda. Dibutuhkan pendekatan baru yang lebih positif dalam memandang persoalan yang disebabkan HIV. Meski di Indonesia situasinya masih jauh dari ideal, perlu diakui bahwa datangnya era ARV membuat AIDS tidak segarang penampakan pertamanya 30 tahun silam. AIDS bukan hanya bisa dikendalikan, tetapi memberikan harapan hidup yang lebih panjang, bahkan setara dengan mereka yang tidak mengidap HIV. Tidak ada alasan untuk pesimis. Maka, pesan yang perlu disampaikan adalah pesan positif yang mendukung orang untuk lebih waspada, mau berbagi, dan saling peduli.

Dalam pembukaan pameran foto sekaligus kegiatan amal untuk membantu orang dengan HIV dan AIDS (odha) yang membutuhkan, menyambut Hari AIDS Sedunia 2015 yang jatuh setiap tanggal 1 Desember, Dr Teguh kembali mengajak kita semua untuk peduli dan ikut mendorong siapapun di sekitar kita yang berisiko untuk memeriksakan diri.

Tema HAS tahun ini masih sama sejak 2011, yaitu Getting to Zero: Zero New Infections, Zero AIDS-Related Death, Zero Discrimination. Tema ini mengingatkan sejak beberapa tahun belakangan sudah disadari bahwa dibutuhkan revolusi dalam politik, kebijakan, dan praktik, untuk mengakhiri ancaman AIDS, kendati obat yang mampu mengubah AIDS dari penyakit mematikan menjadi penyakit kronis sudah ditemukan. Mereka yang berada di barisan pengambil kebijakan perlu diberi insentif untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang pro pada masalah yang erat terkait dengan pendidikan seksualitas, penyalahgunaan obat, dan keadilan dalam akses pengobatan bagi kelompok masyarakat terdampak, perempuan dan terlebih lagi remaja yang merupakan kelompok umur paling berisiko terhadap HIV dibanding kelompok umur lain. Kantong-kantong kemiskinan dan hotspot, terutama di kota-kota besar, harus mendapatkan perhatian besar dari para pengambil kebijakan, untuk memastikan mereka yang berada di dalamnya terpapar oleh program-program pencegahan dan pengobatan yang berkualitas, cost-effective, dan berdasarkan pada temuan-temuan terbaru dalam bidang ini.

Dalam pembukaan pameran fotografi yang melibatkan 20 dokter dan guru besar di lingkungan FKUI ini, Direktur RSCM, DR Dr Czeresna Herjawan Soejono, SpPD, K-GER, MEpid, FACP, FINASIM, mengatakan bahwa kegiatan berkesenian di FKUI-RSCM bukan hal yang aneh. Selain fotografi, resital musik klasik juga pernah digelar di Ruang Kuliah Penyakit Dalam, FKUI-RSCM. Disadari oleh sivitas akademika FKUI, bahwa seni sangat perlu untuk mengasah kepekaan dan mendorong dokter dan petugas untuk memberikan pelayanan dengan hati.

“Kami mungkin memiliki banyak keterbatasan, juga keterbatasan dalam sumber daya. Namun kita akan selalu memiliki hati besar untuk melayani dan menolong sesama yang membutuhkan,” kata Dr Czeresna.

Acara pameran ini akan berlangsung sampai tanggal 4 Desember 2015. Selain foto-foto indah, donator juga bisa mendapatkan buku foto karya Prof Zubairi Djoerban, atau kartupos tematik. Keuntungan dari penjualan akan disumbangkan kepada pasien HIV dan kanker yang membutuhkan bantuan.

1 2 3 4