01

Belajar Tanpa Henti

Sejarah epidemi HIV di Indonesia hamper tidak mungkin dipisahkan dari nama Zubairi Djoerban. Dilahirkan di Kauman, Yogyakarta, 11 Februari 1947, dari pasangan Djoerban Wachid dan Buchaeroh, Zubairi dikenal sebagai penemu kasus pertama sekaligus pionir penanganan HIV dan AIDS di negeri ini. Sempat ingin menjadi pilot, lalu “ditolak” menjadi dokter kandungan padahal “nilai ujian kebidananku bagus,” Zubairi muda menemukan jalan hidupnya di Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia setelah lulus dari FKUI pada 20 Desember 1971.

Setelah menekuni spesialisasi di bidang ilmu penyakit dalam sejak 1974, Zubairi mendapat kesempatan untuk belajar di Prancis pada 1982-1983, tepatnya di Institute Cancerologie et d’Immunogenetique Hopital Paul Brousse (Institut Kanker dan Imunogenetik RS Paul Brousse), Villejuif, Perancis.

“Salah satu yang saya pelajari adalah mengidentifikasi limfosit-T helper dan membedakannya dari, misalnya, limfosit supresor (sitotoksik), limfosit B, dan sebagainya. Ketika itu teknologi ini juga baru saja diterapkan di Prancis. Pengetahuan inilah yang, pada akhirnya, mengantar saya untuk mendalami HIV/AIDS di kemudian hari.”

Pada saat bekerja di RS Paul Brousse itu Zubairi mengenal seorang pasien anak yang mengidap AIDS dan hemofili. Itulah pertemuan pertamanya dengan penderita AIDS. Waktu itu kasus AIDS masih terbilang langka. Di RS Paul Brousse pun masih 1-2 orang saja. Orang juga belum tahu apa penyebabnya dan perjalanan penyakit tersebut. Ketika itu keterampilan hematologi dipakai dalam pemeriksaan terhadap pasien penderita AIDS. Indikasi penyakit saat itu masih ditentukan dari kecenderungan terserang infeksi dan jumlah limfosit CD4 atau T-helper yang rendah sekali.

Hal lain yang diketahui dari AIDS waktu itu adalah sebagian besar pasien berasal dari kalangan homoseks. Berangkat dari pengetahuan inilah sepulangnya dari Prancis, pada medio 1983, Zubairi melakukan penelitian di kalangan waria di Pasar Rumput. Hasil pemeriksaan menunjukkan beberapa di antara mereka ada yang kadar CD4 atau T helper-nya rendah sekali. Hasil penelitian tersebut dilaporkan dalam Kongres Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (KOPAPDI) VI, 24-28 Juli 1984, di Jakarta. Disebutkan bahwa dari 15 orang yang diperiksa, tiga di antaranya memenuhi kriteria minimal untuk diagnosis AIDS: penurunan kadar limfosit T-helper, terbaliknya perbandingan antara limfosit T-helper dan suppresor, limfopenia, dan ditemukan gejala-gejala klinis.

“Sebenarnya kadar T-helper yang rendah dalam darah bisa disebabkan oleh banyak hal. Bisa karena hepatitis A, B, C, sifilis dan gonorea, atau berbagai macam obat yang bisa menekan kadar T helper dalam darah.” Tentu saja dalam perspektif saat ini ditanyakan apakah pemeriksaan tersebut cukup untuk menyimpulkan ada-tidaknya AIDS, jawabannya jelas belum cukup, karena saat ini kita sudah mengetahui penyakit ini disebabkan oleh HIV.


Pada 1985 Zubairi mendapat undangan untuk mengikuti Kongres I AIDS di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Tahun itu adalah tahun yang penting dalam perkembangan pengetahuan mengenai HIV/AIDS dengan ditemukannya teknologi untuk mendeteksi antibodi yakni tes Elisa (Enzym linked immunosorbent assay). Zubairi segera menemui perusahaan yang memproduksi reagensia untuk pemeriksaan Elisa tersebut, dan berhasil. Karenanya, pada akhir tahun yang sama dengan ditemukannya metode pemeriksaan tersebut, sub-bagian hematologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM juga sudah mampu untuk melakukan pemeriksaan HIV.

Pada 4 Desember 1989 Zubairi dan sahabatnya, Prof. Samsuridjal Djauzi dan istrinya, Sri Wahyuningsih, mendirikan Yayasan Pelita Ilmu, sebuah organisasi nirlaba yang bertahan hingga saat ini dan memfokuskan pada pendampingan dan advokasi di bidang HIV dan AIDS. Organisasi ini berkembang besar, bahkan mungkin terbesar di antara lembaga serupa di Indonesia. Puluhan tenaga ahli dan relawan hadir untuk membantu ratusan, mungkin ratusan, odha dan keluarganya yang membutuhkan bantuan atau untuk sekadar diingatkan jadwal minum ARV, obat yang harus mereka konsumsi selama hidup.


Salah satu keberhasilan advokasi yang dilakukan oleh para pegiat HIV awal, termasuk YPI dan Kelompok Studi Khusus HIV di FKUI-RSCM, adalah mengupayakan obat antiretroviral gratis, hingga sekarang. Dengan semakin efektifnya obat antiretroviral (ARV), ancaman HIV menjadi semakin terkendali. Hari ini, HIV tak ubahnya penyakit kronis lain yang “hanya” memerlukan kepatuhan orang dengan HIV dan AIDS (odha) untuk minum obat secara teratur. Dengan kata lain, HIV tak lagi se-mematikan ketika kasusnya pertama kali ditengarai pada dekade 1980-an lalu.


Dari AIDS, Zubairi belajar mengenai banyak hal terutama dari sahabat sejatinya, Samsuridjal Djauzi. “Ide-ide segar selalu muncul dari beliau didorong oleh keinginan yang tak pernah selesai untuk menolong yang lemah. Gagasan untuk mencegah penularan dari ibu yang positif HIV kepada bayi yang dikandungnya, program penyuluhan di penjara, community support center, dan melatih remaja untuk mendidik peer group-nya, menyediakan obat gratis, hingga pendampingan pasien terutama yang menjelang meninggal, hingga memberikan pendidikan keterampilan hidup, hampir semuanya berawal dari Prof Samsu.”


HIV tak hanya menumbuhkan solidaritas, tapi juga melahirkan banyak sarjana dengan gelar akademis tertinggi serta aktivis dengan jejaring internasional. Pengaruh politis mereka pun berkembang sangat signifikan bagi penanganan HIV di dalam negeri. Namun Zubairi nyaris tak berubah. Di ruang praktiknya yang tak terlampau luas ia tetap melayani pasien-pasiennya, atau menghabiskan malam-malamnya menjelajahi dunia maya untuk mendapatkan pengetahuan terbaru di bidang yang ditekuninya. Karena baginya, belajar tanpa henti adalah bagian dari pengabdian kepada kemanusiaan itu sendiri.