Sudah cukup lama, tepatnya sejak awal abad ke-19, kalangan medis sudah memikirkan kaitan mengenai kesehatan dan penyakit dengan kondisi non-medis yang melingkupi seorang pasien. Kondisi tempat tinggal dan lingkungan di mana ia berada, pekerjaan yang dilakukan setiap hari, relasi personal dan interaksi dengan orang-orang terdekat dan masyarakatnya, pengasuhan yang diterimanya sejak awal kehidupan, akses yang dimiliki terhadap sumberdaya dan layanan kesehatan, semuanya menjadi determinan sosial yang menentukan status kesehatan individu dan masyarakat. Dari sini kita mengenal disiplin kesehatan masyarakat.
 
Semakin lama kait-mengait antara ilmu kedokteran dengan disiplin ilmu-ilmu sosial semakin tampak urgensinya dan mempengaruhi pendekatan yang diterapkan oleh dokter kepada pasien. Ketika di era kemudahan informasi pasien difasilitasi untuk mempelajari kondisi fisik yang ia alami, pada saat yang sama dokter dituntut untuk memahami kondisi biososial yang dihadapi pasien-pasien mereka. Etika kedokteran pun berkembang pesat, mengatur interaksi antara kedua belah pihak yang diyakini akan berpengaruh pada keluaran atau hasil pengobatan yang dilakukan.
 
Catatan Prof DR Samsuridjal Djauzi SpPD, KAI berikut memaparkan pentingnya prinsip-prinsip pembelajaran seumur hidup serta dan pengembangan profesi kedokteran yang sangat dibutuhkan dokter untuk membela kelompok-kelompok rentan yang nyaris “tidak terdengar suaranya” dalam ingar-bingar kemajuan teknologi yang sangat pesat di bidang kedokteran.
 
Selamat membaca.
 
ZD
Download