Dr Anthony Fauci

Anthony_Fauci_2015_Commencement

Tepat menjelang dibukanya Pertemuan Nasional AIDS ke-5 di Makassar, Sulawesi Selatan, 25-29 Oktober 2015, sebuah kabar datang dari Yale School of Public Health.Dalam rangka ulang tahunnya yang ke-100, Jumat 23 Oktober lalu fakultas ini memberikan penghargaan kepada, salah satunya, Dr Anthony Fauci, Direktur National Institute for Allergy and Infectious Diseases (NIAID). Penghargaan Winslow Medal Award diberikan kepada Dr Fauci, seorang peneliti terkemuka di bidang HIV dan AIDS, karena kontribusinya yang dinilai sangat signifikan dalam bidang kesehatan masyarakat terutama setelah era AIDS. Untuk diketahui, nama penghargaan tersebut diambil dari nama Charles Edward Amory Winslow, pendiri fakultas kesehatan masyarakat di Yale University pada tahun 1915 dan tokoh penting dalam gerakan kesehatan masyarakat modern di Amerika Serikat.

“Para penerima penghargaan, Dr Fauci, [Judith] Rodin, dan [Sir Michael] Marmot, adalah perwujudan dari gagasan-gagasan Winslow dan komitmennya untuk mewujudkan status kesehatan yang lebih baik bagi semua, termasuk kepedulian terhadap faktor-faktor sosial yang mempengaruhi kesehatan seperti kepemimpinan, kesarjanaan, dan kontribusi nyata terhadap masyarakat,” kata Dekan Yale School of Public Health, Paul Cleary, dalam sambutannya.

Dr Fauci sendiri di kancah kedokteran internasional dikenal karena sejumlah penelitiannya yang memberikan pemahaman mendasar mengenai respons sistem imun manusia. Ia juga diakui karena penjelasannya yang prolifik mengenai bagaimana unsur-unsur imunosupresif beradaptasi terhadap respon imun dalam tubuh manusia. Sebelum berkonsentrasi pada bidang HIV dan AIDS, Dr Fauci telah mengembangkan beberapa terapi terhadap penyakit-penyakit yang sebelumnya diketahui fatal, seperti polyarteritis nodosa, granulomatosis dengan polyangiitis, dan lymphomatoid granulomatosis. Pada tahun 1985 Arthritis Center Survey of the American Rheumatism Association, Universitas Stanford, Amerika Serikat, mengumumkan temuan Dr Fauci sebagai salah satu temuan terpenting di bidang manajemen rematologi.

Sebagai peneliti Dr Fauci telah berkontribusi besar pada upaya pencegahan, diagnosis dan pengobatan penyakit menular termasuk AIDS. Hingga saat ini Dr Fauci terus dipercaya sebagai penasehat utama untuk Gedung Putih dan Department of Health and Human Services, terutama untuk isu AIDS di tataran global. Dr Fauci mendedikasikan banyak waktu dan pengetahuannya untuk membangun kesiapan publik menghadapi ancaman datangnya kembali penyakit-penyakit menular yang sebelumnya diklaim telah berhasil diatasi.

Studi-studi yang dilakukan Dr Fauci dan timnya berhasil menunjukkan jenis-jenis kerusakan yang dialami oleh sel-sel imun yang menyebabkan AIDS berakibat fatal. Sejak 1984 Dr Fauci dipercaya menjadi Direktur NIAID dan sejak 1985 menjadi koordinator semua penelitian mengenai AIDS di National Institute of Health (NIH).

Untuk kita di Indonesia, kepemimpinan dan ketekunan Dr Fauci adalah teladan tentang pentingnya komitmen terus-menerus dari semua pihak untuk bersama-sama mengakhiri epidemi HIV dan AIDS. Dr Fauci, melalui kerja-kerjanya selama beberapa dekade menunjukkan pentingnya riset ilmiah sebagai landasan bagi upaya pengobatan dan juga pencegahan. Yang lebih penting, Dr Fauci telah memberikan pelajaran penting bahwa dalam upaya mengakhiri epidemi AIDS penting bagi kita untuk merumuskan tujuan-tujuan – jangka pendek, menengah dan panjang – yang jelas, terarah, dan terukur. Ini tercermin dalam pidato penerimaan penghargaannya yang berjudul ENDING THE HIV/AIDS PANDEMIC: AN ACHIEVABLE GOAL.

Selamat berkongres kepada semua rekan-rekan dokter, ahli kesehatan masyarakat, aktivis AIDS. Semoga kita semua makin mampu bekerjasama lintas sektor untuk tujuan besar yang menyatukan kita semua: Indonesia yang bebas dari ancaman HIV dan AIDS.