Zubairiwahid

Bapak, Guru dan Pendukung Utamaku

Bapak saya, almarhum Djoerban Wachid SH, adalah sumber inspirasi yang tak habis-habisnya untuk saya. Banyak yang saya lakukan hari ini ternyata hanyalah “tiruan” dari yang dulu penah dilakukan Bapak. Menjadi guru, menulis, bekerja di lembaga sosial, semuanya dulu dilakukan Bapak dengan intensif. Bahkan mungkin lebih intensif dari yang saya lakukan sekarang.

MENGAJAR DAN BELAJAR. Bapak, semasa hidup beliau, sempat mengajar di SMA, kursus B1 dan B2, berbagai universitas di Yogyakarta. Dulu, sebelum mengajar, Bapak selalu menyiapkan bahan-bahannya dengan cermat dan teliti. Presentasi dilakukan dengan menggunakan metode interaktif dan memanfaatkan alat bantu yang ada waktu itu. Mulai dari papan tulis, slide projector, overhead projector, plotter dan komputer. Sewaktu mengajar sampai meninggalnya Bapak, belum ada internet, LCD dan handphone.

Bapak juga menyiapkan berbagai karikatur, kartun, sebagai ilustrasi bahan kuliah untuk memfasilitasi pemahaman mahasiswa – hal yang sekarang saya lakukan juga dengan komputer dan power point. Ya, Bapak adalah seorang guru. Untuk murid-murid dan mahasiswanya, dan terutama untuk kami: kelima anaknya.

Bapak lahir di Yogyakarta, 26 Desember 1923. Sejak muda Bapak menekuni pendidikan sebagai jalur pengabdiannya. Tahun 1965 Bapak memboyong kami sekeluarga untuk hijrah ke Jakarta. Beliau sempat bekerja di Lembaga Pameran Nasional, menjadi Staf Menteri Perindustrian, mengajar di Universitas Muhammadiyah dan menjadi staf pengajar di Pembinaan dan Pengembangan Manajemen (PPM), yang terletak di dekat Tugu Tani, Jakarta Pusat. Belajar, mengajar dan berorganisasi adalah passion terbesar Bapak. Bahkan menjelang kepergian beliau untuk selamanya, pada saat usianya telah melampaui 60 tahun, Bapak masih diminta untuk membantu di Universitas Muhammadiyah Jakarta untuk berbagi pengalaman dan membuat Struktur Kepegawaian.

Belajar selalu menjadi kebutuhan utama bagi Bapak. Tidak pernah berhenti beliau menimba ilmu. Di usia yang sudah melampaui 60 beliau mengikuti kursus komputer, sesuatu yang baru ketika itu. Teman sekursusnya adalah anak-anak muda seumur muridnya. Semangat Bapak rupanya menarik perhatian teman-teman mudanya, hingga bertanya apa yang membuat Bapak bersemangat mengikuti kursus komputer? Bapak memang sosok yang selalu ingin mengikuti perkembangan teknologi.

PENULIS DAN PENERJEMAH. Bapak adalah seorang penulis beberapa buku. Banyak buku telah ditulis dan diterbitkan. Termasuk buku pelajaran untuk Sekolah Menengah (Ilmu Hitung Dagang), hingga untuk mahasiswa (Ekonomi Makro, dan Ekonomi Mikro). Selain penulis, Bapak juga penyunting atau penerjemah. Tema-tema bukunya terutama ekonomi dan manajemen, yang juga diajarkannya di berbagai lembaga pendidikan.

Tahun 1961 Bapak sudah menulis buku berjudul Peran Pemerintah Dalam Perniagaan Internasional. Lalu beliau menerbitkan buku Peladjaran Ekonomi (dicetak ulang hingga 36 kali) yang menjadi pegangan di institusi tempat beliau mengajar, di institusi perbankan, dan cukup banyak dikutip di berbagai buku dan makalah, serta masih bisa di akses melalui internet.

Selain itu beberapa karya terjemahan Bapak adalah Bagaimana Manager Membagi Waktu Setjara Efektif (Ross Barret, 3 edisi, terbit antara tahun 1972-1982), dan Manager yang Rasional: Pendekatan yang Sistematis akan Problem Solving dan Decision Making (Charles Higgins Kepner, terbit tahun 1972).

Bisa dikatakan, di tengah aktivitas yang demikian padat Bapak selalu menyempatkan diri untuk “mengikat ilmu” dalam bentuk tulisan dan membaginya dengan orang lain.

Selain mengajar, menulis dan menjadi staf ahli Menteri Perindustrian, Bapak juga aktif di lembaga donor dan berbagai lembaga sosial kemasyarakatan. Yang menarik, Bapak tidak hanya dekat dengan kelompok Islam (Muhammadiyah misalnya), tetapi juga Katolik. Semua dibantu Bapak tanpa memandang perbedaan iman. Bapak adalah guru toleransi saya yang pertama dan utama dalam hidup.

AYAH YANG BIJAK. Sebagai seorang ayah, nasehat Bapak kepada kami tak banyak: solat, mengaji, belajar tekun dan menyelesaikan sekolah. Itu saja. Bapak benar-benar meyakini, solat adalah tiang agama. Jika solat dilakukan dengan benar, maka akan baiklah semua langkah seseorang di dunia. Tapi hadiah terbesar Bapak kepada saya adalah kepercayaan. Beberapa kali saya mengalami masalah di sekolah, termasuk ketika saya sudah kuliah di FKUI. Tapi Bapak tetap tenang dan percaya saya akan bisa mengatasi masalah saya. Dan Bapak terbukti benar.

Saya masih ingat dengan jelas, ketika nilai di sekolah dasar (Sekolah Rakyat waktu itu) tidak terlalu cemerlang pada tahun-tahun tertentu, saya tidak ingat pernah mendapat peringatan dari Bapak ataupun Ibu. Saya misalnya, pernah tidak naik kelas, sewaktu kelas tiga (untung alasannya ada: karena masuk SD pada usia 5 tahun). Barangkali juga karena itu saya juga cenderung santai dan tidak tegang, sewaktu kemudian menghadapi nilai anak-anak saya di sekolah. Ada banyak hal di luar nilai pelajaran yang lebih penting untuk menjalani hidup dengan baik: empati, simpati, kepekaan terhadap penderitaan orang lain, kemurahhatian, keberanian menghadapi risiko, keyakinan kepada Tuhan, dan sebagainya. Kebanyakan orang yang berhasil dalam hidupnya, menurut saya, lebih mengandalkan pada hal-hal tersebut dibanding nilai di sekolah.

Rumah Bapak di Tebet juga merupakan rumah belajar bersama-sama teman saya, dan buku-buku Bapak mengenai manajemen dan pengembangan pribadi menjadi inspirasi teman-teman belajar. Bahkan ada yang kemudian menjadi rektor dan dirjen, dan kemudian bercerita, mengenang buku-buku Bapak.

Meski di luar Bapak adalah pendidik yang cukup terkenal pada masanya dan dekat dengan banyak tokoh, namun di rumah ia tetap orangtua kami yang sederhana. Kebiasaan beliau mengenakan sarung dan handuk ketika keluar dari kamar mandi, makan berdua dengan ibu sambil bercerita mengenai pekerjaan dan lain-lain, atau mengajak kami menikmati es krim Italia dan es sarsaparilla di Pasar Rumput, semuanya tetap tinggal di dalam benak kami. Juga kesukaan Bapak makan udang, didampingi Ibu yang mengupaskan kulitnya, adalah pemandangan sehari-hari yang menghangatkan hati keluarga kami.

Seperti Ibu, Bapak mengungkapkan kasih sayang kepada anak-anaknya dengan cara yang berbeda-beda. Kepada saya, beliau mencontohkan bagaimana menjadi guru yang baik dengan menyiapkan bahan-bahan sebelum mengajar dengan teliti. Teladan lain dari Bapak yang coba saya ikuti adalah yang sudah saya sebutkan: “mengikat ilmu” melalui buku-buku. Namun dalam hal ini konsistensi saya tampaknya belum sebaik almarhum Bapak.

Meski kepada saya Bapak lebih banyak tampil sebagai guru dan panutan, namun kepada anak yang lain Bapak menunjukkan cara berendah hati justru dengan cara menjadi murid, berkonsultasi mengenai obat-obatan yang dikonsumsinya setelah beliau beranjak sepuh. Ini terutama dilakukan kepada Maria Helena, anak ke-4 yang memang sangat penurut dan pengertian kepada Bapak.

KERJA SOSIAL. Anak Bapak kedua, almarhumah Badrijah, juga seorang dokter, dan Yusuf Budiman, adalah teman berdiskusi Bapak dan juga Ibu. Sementara adik bungsu saya, Aminah, sering diajak dalam berbagai kegiatan sosial, termasuk menyalurkan dana bantuan NOVIB Belanda kemasyarakat yang membutuhkan di Pameungpeuk, Tasikmalaya, Merapi, hingga korban galodo (banjir bandang) di Sumatra Barat. Kepada Aminah, dan kami semua, Bapak menanamkan pengertian untuk selalu bersikap ringan tangan kepada yang membutuhkan: saudara, tetangga, bahkan orang-orang yang tidak kita kenal sekalipun.

Warisan keteladanan Bapak itulah yang turut membentuk kami semua hari ini.

SUAMI IDEAL. Bapak adalah tipe suami ideal. Dengan segala keterbatasan finansial, terutama ketika kami masih tinggal di Yogya dan awal-awal kepindahan ke Jakarta, Bapak selalu berusaha menyenangkan hati Ibu, melindunginya dengan segala keterbatasan yang ada. Karena Bapak juga penggemar fotografi, bahkan sempat punya kamar gelap sendiri, Bapak menjadikan Ibu sebagai salah satu obyek dan subyek foto. Mengajak Ibu keliling kedaerah-daerah yang indah dan sejuk, hingga inner beauty Ibu benar-benar terpancar dalam foto-fotonya. Ya, Bapak memang sangat mencintai Ibu dan memperhatikan semua kebutuhan istrinya itu dengan sangat teliti. Jika ada sedikit rejeki, Ibu selalu yang utama mendapat hadiah.

Bapak di mata kami adalah seorang family man sejati yang sangat menikmati setiap waktunya berkumpul dengan keluarga. Berdiskusi dengan ayahandanya, dan bermain harmonika dengan ibundanya. Dan, bersama-sama dengan saudara kandung beliau Bapak selalu bergandeng tangan untuk mengembangkan dakwah dengan cara mereka masing-masing.

Bersama dua saudara laki-lakinya Bapak memiliki hobi yang cukup unik. Bersama, mereka, yang usianya tidak muda lagi ketika itu, senang menyusuri Jalan Surabaya berburu brang-barang antik. Hobi boleh sama, tapi selera tentu berbeda. Di mata kami itu adalah teladan kerukunan dengan saudara.

Bapak, terimakasih untuk semua pengabdian, teladan dan pengorbanan yang sudah Bapak lakukan kepada kami. Tak akan mampu kami membalasnya, kecuali dengan doa dan amal-amal kami untuk menerangi tempat istirahatmu yang abadi. Aamiin, aamiin, aamiin YRA.