kawula muda

KAWULA MUDA, NARKOTIKA dan HIV/AIDS 

(Zubairi Djoerban 1998)

Sebulan terakhir menjelang peringatan Hari AIDS Sedunia 1 Desember 1998 (dua puluh tahun yl..Red), ada 4 orang odha yang didukung Yayasan Pelita Ilmu yang meninggal dunia. Salah satunya adalah remaja yang belum mencapai usia 20 tahun. Ia seorang pecandu narkotika dan orang ketiga di Jakarta yang tertular HIV melalui pemakaian jarum suntik yang dipakai oleh banyak orang tanpa disterilkan lebih dulu.

Pinjam-meminjam jarum suntik pada pecandu narkotika adalah kebiasaan yang telah berakar lama dan merata di seluruh dunia.
Meninggalnya teman ini membuat kita sadar akan ancaman bahaya narkotika, karena selama ini informasi yang kita dapatkan adalah sangkalan tentang keberadaan pecandu narkotika suntikan. Data RSCM yang dilaporkan Joko Widodo dkk (1998) lebih menguatkan lagi besarnya masalah pecandu narkotika, dan berarti kita sedang menghadapi ancaman peningkatan cepat infeksi HIV di kalangan ini. Laporan penelitian tersebut menyatakan bahwa di Instalasi Gawat Darurat RSCM pada tahun 1996 dan 1997 ditemukan 134 kasus keracunan. Pasien berasal dari kalangan remaja dan dewasa muda, berusia 16 sampai 30 tahun. Penyebab keracunan ada beberapa macam, antara lain ekstasi 20.9%, opiat 6% dan nipam 3.7%.

Sebenarnya masalah hubungan narkotika dan HIV/AIDS sudah dikenal di Amerika sejak awal epidemi AIDS. Di negara tersebut memakai narkotika suntikan merupakan perilaku berisiko terinfeksi HIV yang terpenting setelah hubungan seksual.

Sampai 1 Januari 1996, dilaporkan 183.359 orang dengan AIDS di Amerika yang penularannya terkait dengan pemakaian obat narkotika suntikan, termasuk pecandu, partner seksnya dan anak-anaknya. Rinciannya adalah sebagai berikut: pecandu narkotika suntikan 161.891 orang, partner seksnya 18.710 orang dan 3.758 anak-anaknya. Angka tersebut merupakan 36% dari total kasus AIDS di Amerika.

Di beberapa tempat di Amerika, menyuntik narkotika bahkan merupakan penularan paling sering, melebihi penularan melalui hubungan seksual, yaitu di Delaware (65%), Puerto Rico (63%), Connecticut (61%), Maryland (52%), Rhode Island (52%), New York (49%) dan New Jersey (52%).

Sejarah infeksi HIV pada pecandu narkotika sudah dimulai pada tahun 1976. Serum darah yang disimpan dari pecandu narkotika di kota New York untuk keperluan pemantauan hasil pengobatan, ternyata 9% spesimen tahun 1978 sudah terinfeksi HIV. Disimpulkan bahwa satu kali ada pecandu narkotika yang terinfeksi HIV, maka penyebaran HIV di kalangan ini akan meningkat amat cepat. Pada tahun 1979, meningkat menjadi 26%, tahun 1980 ada 38%, 50% antara tahun 1981 dan 1983, kemudian mencapai 55-60% pada tahun 1984, yang kemudian menetap di sekitar angka terakhir (plateau).

Ada beberapa perilaku risiko terinfeksi HIV yang tumpang tindih pada pasien AIDS yang pecandu narkotika. Sebagai contoh 7% dari 128.698 pasien AIDS yang pecandu narkotika ternyata juga diketahui mempunyai partner seksual yang positif HIV atau mempunyai partner yang berperilaku risiko tinggi. Di Eropa juga terjadi masalah yang serupa dengan Amerika. Di Edinburgh, Skotlandia, seroprevalensi HIV di pecandu narkotika meningkat cepat mencapai 51% pada awal tahun delapan-puluhan. Di Milan, Italia, kenaikan dari 3% menjadi 50% terjadi hanya dalam waktu 3 tahun dan mencapai 62% pada awal tahun 1987.

Di Asia juga terlihat peningkatan infeksi HIV di pecandu narkotika. Di Bangkok, seroprevalensi hanya 1% pada akhir 1987, mencapai 15% pada bulan Maret 1988 dan 43% pada tahun 1988 (tahun yang sama). Di Manipur, India, pada tahun 1989 tidak ada satupun yang terinfeksi HIV, setahun kemudian 50% dari sekitar 15.000 pecandu narkotika yang terinfeksi HIV.

Ada beberapa faktor risiko yang memudahkan infeksi HIV pada pecandu narkotika. Tempat tinggal berdekatan dengan daerah atau kota yang tinggi seroprevalensi HIV merupakan faktor risiko yang nyata, baik di Amerika di negara-negara lain. Untuk Amerika, faktor prediksi yang independen (yang memudahkan seorang pecandu tertular HIV) adalah ras/etnik, tingkat sosial-ekonomi yang rendah, gender laki-laki dan diagnosis kepribadian antisosial.
Ras Hispanik dan Afrika-Amerika mempunyai seroprevalensi yang lebih tinggi, berbeda secara bermakna bila dibandingkan dengan kulit putih di New York, Connecticut dan San Fransisco.

Seroprevalensi pada laki-laki pecandu narkotika di New York 13% lebih tinggi daripada wanita. Kepribadian antisosial yang didapatkan pada 40% pecandu narkotika (bandingkan dengan 3% di masyarakat umum) berkaitan erat dengan lebih sering menyuntik narkotika, lebih sering pinjam-meminjam jarum suntik dengan kawannya yang juga jauh lebih banyak memakai kokain dan alkohol.

Upaya menekan peningkatan kasus AIDS yang ditularkan melalui alat suntik termasuk:
(a) Mencegah seorang anak/remaja memulai memakai narkotika,
(b) Meningkatkan perawatan pecandu narkotika dengan AIDS di pusat-pusat pengobatan,
(c) Mempromosikan pemakaian kondom,
(d) Mereformasi hukum, menghilangkan undang-undang yang tidak membolehkan pecandu narkotika membeli alat suntik di apotik,
(e) Menyediakan alat suntik steril dan
(f) Yang paling penting adalah menerima kenyataan bahwa narkotika, termasuk yang suntikan, sudah menjadi masalah besar di Indonesia dan merupakan tanggung jawab kita semua untuk menanggulanginya.
(Dibacakan di: Seminar AIDS dan Narkotika oleh Masyarakat Peduli AIDS Indonesia, Jakarta Desember 1998, dimuat di Majalah Support, Desember 1998)