kupu 1

Lupus Otak, Apa Itu?

Dalam beberapa tahun ini semakin banyak yang diketahui mengenai penyakit lupus, atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE), baik oleh masyarakat umum maupun staf medis. Secara umum orang mengetahui bahwa lupus bukan penyakit menular. Juga diketahui bahwa lupus terjadi karena tubuh diserang oleh sistem imun yang mestinya melindungi tubuh sendiri. Sistem imun adalah sebuah sistem yang kompleks dalam tubuh, yang didesain untuk mencari dan menghancurkan organisme asing termasuk yang menyebabkan infeksi, seperti virus, bakteri dan kuman-kuman. Pada lupus sistem imun seseorang tidak bisa membedakan antara organ tubuh sendiri dan organisme asing. Ia menyerang semuanya secara sama. Kondisi ini menyebabkan kerusakan, peradangan dan tentu saja nyeri. Karena itu lupus juga sering disamakan dengan penyakit autoimun.

Juga, semakin banyak orang tahu bahwa lupus adalah kondisi kronis yang bisa berlangsung berbulan-bulan, dan bahkan bertahun-tahun. Orang juga tahu bahwa lupus paling kerap menyerang kulit, persendian, darah, ginjal, dan jantung. Namun sedikit yang tahu bahwa lupus juga menyerang otak. Bahkan secara umum bisa dikatakan bahwa lupus otak adalah aspek yang paling sedikit diketahui dari lupus.

Jadi kali ini kita akan membahas mengenai upus otak.

Namun pertama perlu disebutkan bahwa karena fungsinya yang sangat berkaitan, otak dan saraf pusat memiliki manifestasi yang hampir sama ketika terserang lupus. Secara generik para ahli menyebut lupus system saraf pusat yang mencakup kedua organ vital tersebut, otak dan saraf pusat. Persamaan yang sangat dekat ini sering menyulitkan dokter untuk membuat diagnosis yang tepat. Kabar baiknya, baik lupus otak maupun lupus saraf pusat bisa dideteksi dengan berbagai test yang ada dan ditangani dengan pengobatan lupus yang tersedia.[1]

 Frekuensi dan Manifestasi

Terlepas dari betapa sedikitnya pengetahuan kita mengenai lupus otak yang jelas kejadiannya cukup sering dan gejalanya sangat beragam. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa lupus menyerang otak pada setengah dari pasien lupus.[2] Serangan tersebut bisa terjadi kapan saja, meskipun berdasarkan data serangan ke otak umumnya muncul pada tahun pertama kemunculan lupus. Pasien yang otaknya tidak terdampak lupus pada tahun pertama atau kedua, biasanya tidak akan mengalami masalah di otak untuk seterusnya.

Seperti telah disebutkan, manifestasi lupus pada otak dan saraf pusat sangat beragam.[3] Yang paling umum ditemukan, berdasarkan berbagai penelitian, adalah gangguan kognitif (tidak bisa berpikir jernih atau kesulitan mengingat), gaduh-gelisah (temper-tantrum atau acute confusion state), hingga stroke.

Kriteria Diagnosis Lupus 2012

Diagnosis lupus ditegakkan berdasarkan dua kelompok kriteria:

  • Kriteria Imunologis
    1.ANA + Antinuclear antibody
    2.Anti-dsDNA antibody + anti double stranded DNA
    3.Anti Sm: Auto antibody terhadap otot halus
    4.Antiphospholipid antibody positivity, ditetapkan melalui:
    •Hasil tes positif terhadap antikoagulan lupus
    •Hasil tes positif-palsu untuk rapid plasma reagen
    •Medium- or higher-titer anticardiolipin antibody level (IgA, IgG, atau IgM)
    •Positive test result for anti-2-glycoprotein (IgA, IgG, atau IgM)
    5.Kadar Komplemen Rendah (C3, C4, atau CH50)[4]
    6.Direct Coombs’ test (jika tidak ada anemia hemolitik)
  • Kriteria Klinik
    1.Kelainan kulit akut
    2.Kelainan kulit kronis
    3.Sariawan
    4.Rambut rontok
    5.Sakit sendi
    6.Serositis: efusi pleura (penumpukan cairan di rongga paru), efusi pericard.
    7.Kelainan ginjal
    8.Kelainan neurologic
    9.Leukopenian (lekosit kurang dari normal)
    10.Trombositopenia

Kelainan neurologik (no.8 dalam daftar kriteria klinik) yang muncul pada lupus otak dan saraf pusat antara lain adalah sakit kepala, kejang sampai koma, aseptik meningitis, neuropati perifer atau kranial (seperti kebas, kesemutan, dan kulit kaki dan tangan mengelupas), kesulitan bergerak, serta myelitis atau gangguan pada saraf punggung. Masalah-masalah ini menambah daftar kelainan neurologis pada pasien SLE seperti psikosis (kelainan kejiwaan yang umumnya tidak disadari oleh pasien tapi teramati oleh keluarga, mirip schizophrenia, bipolar, atau depresi berat), organic enchelopaties atau reaksi inflamasi (peradangan) yang mengenai otak, selaput otak, atau saraf pusat yang terletak di dalam vertebra, gangguan keseimbangan, serta gangguan penglihatan.

Depresi, sindroma otak organik[5], dan masalah-masalah psikiatris lainnya adalah manifestasi paling umum dari lupus system saraf pusat. Namun penyebab depresi sendiri masih sulit ditentukan secara persis. Pada beberapa pasien depresi disebabkan oleh situasi sakit (psikologis) yang memang menekan, tapi hanya bersifat temporer. Akan hilang setelah gejala fisik diatasi. Sementara pada beberapa orang depresi secara langsung disebabkan oleh efek lupus terhadap otak. Yang dimaksudkan dengan sindroma otak organik adalah kondisi yang menyebabkan berkurangnya kemampuan analitik atau matematik sederhana pada pasien.

Pemicu dan Manifestasi Lupus Otak

Ada beberapa proses patologis yang diduga memicu lupus otak.[6] Pertama adalah suplai darah ke otak yang terhambat karena vasculitis atau peradangan pada pembuluh darah. Kedua bekuan yang terjadi karena antibodi antifosfolipid. Ketiga, emboli yang berasal dari jantung. Selain itu pada beberapa pasien darah yang cenderung mudah kental juga akan menyebabkan hiperviskositas dan menghambat aliran arah. Berikutnya, antibodi anti-neuronal yang ada pada beberapa pasien lupus mungkin berpengaruh pada neuron otak dan menggantikan fungsi normalnya. Pada saat yang sama produksi beberapa jenis sitokin seperti interleukin-1, interleukin-6, dan interferon-y cenderung meningkat pada pasien lupus dan mengganggu fungsi otak. Selain itu, kekacauan produksi hormone di kelenjar hipotalamus, pituitary dan adrenal (HPA axis) – baik disebabkan oleh lupus itu sendiri maupun efek pengobatan steroid – juga dapat berkontribusi pada masalah yang dialami oleh pasien lupus.

Selain proses patologis yang terkait langsung dengan sistem saraf pusat, masalah lain ditimbulkan oleh infeksi, efek samping obat, hipertensi, kekurangan atau ketidakseimbangan elektrolit, uremia yang disebabkan oleh gagal ginjal, gangguan tiroid, dan sebagainya. Fibromyalgia (nyeri otot) pada pasien lupus juga ditengarai menimbulkan masalah neurologis pada pasien yang mengarah pada kecemasan dan disfungsi kognitif.

Manifestasi lupus otak sendiri cukup luas. Di sini akan dijelaskan beberapa saja[7]:

  1. Vaskulitis saraf pusat: yakni peradangan pada pembuluh darah otak yang disebabkan oleh aktivitas lupus yang tidak terkendali. Ini ada kondisi yang paling serius sehingga dimasukkan oleh American College of Rheumatology sebagai kriteria lupus. Lebih dari 80% kejadiannya muncul dalam lima tahun pertama setelah gejala lupus muncul, namun terdeteksi hanya pada 10% pasien lupus. Gejala yang muncul antara lain demam, kejang, kaku leher seperti pada kasus meningitis, dan perilaku yang mendadak aneh. Pemeriksaan MRI akan menunjukkan adanya infark (beberapa) bagian otak. Selain itu pemeriksaan cairan punggung juga bisa dilakukan untuk mendiagnosa dan mengobati jika ternyata ada infeksi. Pada kasus lupus otak dokter akan menemukan jumlah sel yang melebihi normal, tingkat protein serta sintesa immunoglobulin yang tinggi. Antibodi anti-neuronal juga mungkin ditemukan dalam serum atau CSF. Kondisi ini bisa diatasi dengan steroid dosis tinggi atau Cytoxan.
  1. Sindroma Antifosfolipid. Orang yang memiliki antibodi antifosfolipid berisiko memproduksi bekuan darah termasuk dalam pembuluh darah ke otak, atau dari jantung menuju otak. Bekuan darah yang menuju otak (disebut thromboembolic) bisa muncul kapan saja dan biasanya tidak menyebabkan nyeri. Gejalanya bisa berupa kelumpuhan atau pelo mendadak. Untuk dicatat, bekuan darah ini bisa terbentuk kapan saja, bahkan ketika lupus sedang tidak aktif. Pemeriksaan MRI dan CT Scan akan menunjukkan ada-tidaknya bekuan tersebut. Untuk mengatasinya dokter bisa melakukan manajemen stroke yang digunakan pada pasien strok non-lupus, dan memberikan obat imunosupresan. Pada pasien dengan antibodi antifosfolipid yang tinggi dokter juga perlu memberikan pengencer darah profilaktif (aspirin atau Coumadin) untuk mencegah stroke dan komplikasi lain yang disebabkan oleh bekuan darah.
  1. Sakit Kepala Lupus. Sakit kepala adalah salah satu keluhan paling umum pada pasien lupus. Sekitar 45-50 persen pasien lupus mengaku merasakan keluhan ini Peneliti menengarai masalah sakit ini sebagai kondisi akut yang terjadi pada saat lupus aktif (flare up) – yang dideteksi melalui test di laboratorium. Umumnya terapi kortikosteroid akan mengatasi masalah ini. Namun penelitian-penelitian mutakhir menemukan bahwa insiden sakit kepala pada pasien lupus ini ternyata tidak lebih tinggi dari prevalensi di masyarakat umum. Demikian pula, dugaan bahwa sakit kepala pada pasien lupus disebabkan oleh fenomena Raynaud, antibody antifosfolipid, dan kejadian thromboticevents ternyata tidak sebesar yang pernah diduga. Dengan kata lain, penyebab sakit kepala pada pasien lupus masih kontroversi, dan karenanya banyak dokter memberikan pengobatan umum untuk menghilangkan gejala, misalnya obat anti-migren dan anti peradangan seperti naproxen. 
  1. Lupus Myelitis. Peradangan pada saraf pusat di punggung adalah komplikasi lupus yang tergolong serius, menyebabkan lemas dan bahkan paralisis, mulai dari salah satu tangan atau kaki, sampai kelumpuhan bagian bahwa tubuh (paraplegia). Penyebabnya bisa dari lupus vasculitis, atau gelembung berisi air yang terbentuk melingkupi saraf belakang, atau bekuan di pembulu arteri yang mengarah ke saraf belakang (umumnya pada kasus antibodi antifosfolipid). Dokter mungkin akan menyarankan obat golongan steroid dan imunosupresan yang biasa digunakan untuk mengatasi inflamasi akibat vasculitis, ditambah dengan jenis koagulan seperti heparin dan coumadin. Pada kasus Chronic inflammatory demyelinating polyneuropathy (CIDP), dan pasca sindroma Guillain-Barre yang menyerang bagian tubuh yang sama dan cukup sering ditemui pada pasien SLE mungkin diberikan terapi immunoglobulin intravena.

Manifestasi lainnya dari lupus otak mencakup gangguan neuropati yang menyebabkan nyeri luar biasa bagi pasien, kesemutan serta kebas sampai pada tingkat ekstrem. Pengobatan lupus menjadi rumit karena beberapa jenis obat justru memicu lupus otak. Obat antimalaria yang sekarang dipakai untuk mengobati lupus diketahui memicu perilaku manik dan psikosis, seperti halnya kortikosteroid. Belum lagi infeksi oportunistik yang timbul ketika seseorang mendapatkan terapi steroid atau imunosupresan dalam jangka waktu lama, meskipun biasanya tidak sampai membahayakan jiwa. Karena itu dokter perlu sangat hati-hati menangani, meskipun tampaknya risikonya kecil.

Kabar baiknya, prognosis untuk pasien dengan lupus otak cukup baik terlepas dari berbagai sindroma yang disebabkan dan mungkin sangat mengganggu kualitas hidup orang dengan lupus (odapus). Akan tetapi pasien dan keluarga perlu tahu bahwa kemungkinan pengobatan memakan waktu cukup lama. Artinya prosesnya tidak cepat. Perlu beberapa minggu hingga beberapa bulan. Jadi, tolong bersabar ya?

 


[1] http://www.lupusinternational.com/About-Lupus-1-1/Central-Nervous-System-Lupus-Overview-/Lupus-and-Your-Brain-.aspx

[2] Idem

[3] Berdasarkan Kriteria Diagnosis 2012.

[4] Untuk reaksi antigen antibody pada SLE diperlukan komplemen di dalam darah. Bila SLE aktif atau kambuh, kadar komplemen C3 atau C4 rendah atau kurang dari normal.

[5] Kelainan fungsi otak bisa disebabkan oleh kelainan di organ otak atau di luar organ otak. Kelainan di dalam otak disebut kelainan organik. Pada diabetes yang tidak terkontrol bisa ada kelainan fungsi otak tetapi otaknya normal. Ini disebut kelainan otak metabolik. Kelainan fungsi otak bisa juga terjadi jika kadar gula darah atau natrium dalam darah sangat rendah.

[6]http://www.lupusinternational.com/About-Lupus-1-1/Central-Nervous-System-Lupus-Overview-/Central-Nervous-System-Lupus-CNS-.aspx

[7] Idem