falrf-logo

 

 

Definisi dan Gejala

Lupus, atau dalam istilah kedokteran disebut Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah salah satu jenis penyakit autoimun kronis yang bisa menyerang beberapa organ tubuh: kulit, persendian, darah hingga ginjal, otak dan organ dalam lain.

Sebelum dijelaskan lebih lanjut, berikut adalah dua konsep yang penting dipahami. Pertama, penyakit autoimun, didefinisikan sebagai suatu kondisi yang timbul karena tubuh diserang oleh sistem imun yang mestinya melindungi tubuh sendiri. Sistem imun adalah sebuah sistem yang kompleks dalam tubuh, yang didesain untuk mencari dan menghancurkan organisme asing termasuk yang menyebabkan infeksi, seperti virus, bakteri dan kuman-kuman. Dengan kata lain, penyakit autoimun berarti kondisi di mana sistem imun kita tidak bisa membedakan antara organ tubuh sendiri dan organisme asing. Ia menyerang semuanya secara sama. Kondisi ini menyebabkan kerusakan, peradangan dan tentu saja nyeri.

Kedua, kondisi kronis adalah ketika gejala yang muncul bertahan hingga lebih dari enam minggu hingga bertahun-tahun.

Kata “lupus” berasal dari bahasa Latin yang artinya serigala. Istilah ini dipakai sejak abad ke-18, ketika orang-orang pada masa itu menyangka penyakit ini disebabkan oleh gigitan serigala. Mungkin penyebabnya adalah ruam kemerahan yang, kalau sedang kambuh, muncul dalam bentuk lingkaran dan mirip luka gigitan serigala atau binatang buas lain.

Penyakit lupus bersifat hilang timbul, seiring dengan kondisi dan daya tahan pengidapnya. Disebut juga “penyakit seribu wajah” karena lupus dapat menyerang berbagai organ berbeda, dan karenanya gejalanya tidak selalu sama untuk setiap orang. Bahkan pada orang yang sama gejalanya bisa berbeda dari waktu ke waktu. Di antara gejala yang paling sering muncul dari lupus pada semua pasien tanpa memandang jenis kelamin adalah:

  • Keletihan;
  • Sakit kepala;
  • Nyeri atau bengkak sendi;
  • Demam;
  • Anemia (baik karena jumlah sel darah merah/haemoglobin kurang, atau karena volume darahnya kurang);
  • Nyeri di dada ketika menarik nafas panjang;
  • Ruam kemerahan pada pipi hingga hidung, polanya seperti kupu-kupu;
  • Sensitif terhadap cahaya atau cahaya matahari;
  • Rambut rontok;
  • Pendarahan yang tidak biasa;
  • Jari-jari berubah pucat atau kebiruan ketika dingin (fenomena Raynaud);
  • Sariawan di mulut atau koreng di hidung.

Seperti bisa dibaca, tak ada gejala yang benar-benar khas dari penyakit lupus. Sekali lagi, karena itu lupus juga kerap dijuluki “sang peniru ulung” atau penyakit dengan seribu wajah yang disebutkan di atas.

Gejala lupus sering dikelirukan dengan gejala artritisrematoid, kelainan darah ITP, fibromyalgia, diabetes, penyakit Lyme (penyakit akibat gigitan serangga), atau penyakit yang biasanya menimpa organ jantung (efusi perikardia karena tuberkulosis), paru (tuberculosis dengan efusi pleura), otot maupun tulang.

 Lupus tidak sama, dan tidak berhubungan dengan kanker. Kanker adalah keganasan, yang timbul karena ada jaringan yang tumbuh cepat, abnormal, sulit dikendalikan, dan menyerang ke jaringan-jaringan sehat di sekitarnya. Sementara lupus adalah penyakit autoimun.

 Lupus juga tidak sama, dan tidak berhubungan dengan HIV dan AIDS. Jika pada HIV dan AIDS sistem imun sangat lemah atau bahkan tidak berfungsi, maka sebaliknya pada lupus sistem imun seseorang malah terlalu aktif.

Lupus ada yang tidak parah, tapi ada juga yang sampai mengancam jiwa. Karena itu lupus harus selalu ditangani oleh dokter yang ahli. Dengan pengobatan yang baik, banyak penderita lupus yang bisa hidup normal dan memiliki harapan hidup yang sama dengan orang lain. Angka kematian karena lupus sekarang sudah turun dastis: Dari lebih dari 30% pada tahun 1970-an, menjadi kurang dari 5% saat ini.

 Diagnosa lupus

Dokter yang menduga pasiennya terkena lupus akan mencari beberapa gejala peradangan termasuk nyeri, panas, ruam, bengkak, atau anggota tubuh yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kelainan bisa terjadi di dalam tubuh (mengenai ginjal, atau jantung misalnya), atau di luar tubuh seperti di kulit.

Karena gejalanya yang tidak khas, maka selain mencari gejala yang tampak atau dirasakan pasien, dokter biasanya juga akan meminta sejumlah tes laboratorium, melihat catatan kesehatan pasien, dan melakukan asesmen untuk mencari tahu apakah ada riwayat dalam keluarga (kakek/nenek, orang tua, saudara kandung, paman, bibi, dan juga sepupu). Semua ini penting bagi dokter untuk menegakkan diagnosa.

Ada sejumlah tes yang dibutuhkan oleh dokter untuk memastikan seseorang terkena lupus atau tidak. Setiap jenis tes akan menambah informasi yang berbeda dan berguna bagi dokter untuk mendapatkan gambaran menyeluruh. Karena itu pasien perlu mengetahui beberapa prinsip pemeriksaan laboratorium dalam hal ini:

  1. Tidak ada tes tunggal yang bisa memastikan bahwa seseorang mengidap lupus.
  2. Hasil tes yang menunjukkan seseorang mungkin mengidap lupus, bisa jadi sebenarnya disebabkan oleh penyakit lain, atau mungkin ditemukan juga pada orang sehat, tes ANA misalnya.
  3. Hasil tes bisa positif di satu waktu, dan negatif di waktu lain.
  4. Laboratorium berbeda mungkin menyajikan hasil yang berbeda.

Karena itu sejumlah kriteria atau tes harus dilakukan dalam waktu bersamaan dan dibaca hasilnya secara bersamaan pula. Dengan cara itu seorang dokter akan menegakkan diagnosa lupus. Namun penting diingat juga bahwa pada beberapa orang gejala lupus muncul bertahap, sehingga diagnosanya pun seperti ragu-ragu. Dalam situasi seperti ini konsultasi kepada spesialis lain (neurolog, psikiater) atau sub-spesialis / konsultan lain, misalnya ahli rematologi, hematologi, ginjal, alergi-imunologi, jantung, paru, dibutuhkan.

Dari pengalaman menangani lupus, sejumlah tes yang biasanya saya minta untuk dilakukan jika ada indikasi ke arah lupus adalah:

  1. Darah rutin termasuk trombosit
  2. Urine rutin
  3. Urine protein kuantitatif (untuk lupus nefritis/ginjal)
  4. ANA
  5. Anti ds-DNA
  6. C3, C4
  7. Coombs’ test, biasanya dikerjakan di PMI
  8. ACA
  9. Foto thorax
  10. Echocardiogram (untuk lupus jantung)