ilus

MDR TB di Indonesia: Dampak Sosial-Ekonomi

Bagian 2 dari 2 tulisan

Tuberkulosis adalah masalah kesehatan global. Namun konsentrasi selalu terjadi. Pada 2015, 61 persen kasus TB terjadi di Asia, diikuti oleh Afrika yang “menyumbang” 26 persen dari seluruh kasus TB global. Data pada tahun yang sama menunjukkan 87 persen infeksi baru TB terjadi di 30 negara dengan beban TB terberat. Enam negara yang berkontribusi pada 60 persen kasus infeksi baru adalah India, Indonesia, China, Nigeria, Pakistan dan Afrika Selatan. Dengan sendirinya keenam negara ini menentukan berhasil-tidaknya upaya global mengendalikan dan mengobati kasus TB. Terkonsentrasinya epidemi TB patut membuat kita menduga kuat bahwa ada masalah ketidakadilan yang berkelindan dengan kemauan politik dalam mengatasi epidemi ini.

Kesulitan makin bertambah dengan masalah TB yang resisten terhadap dua jenis obat utama rifampicin dan isoniazid. Obat-obatan lini dua yang terbatas dan mahal, ditambah dengan efek samping yang tidak sedikit membuat risiko kegagalan bertambah dan harapan sembuh berkurang. Beberapa kasus berkembang menjadi XDR (Extensively Drug-Resistant) TB, yang menyebabkan kumah kebal terhadap hampir semua obat yang ada saat ini. Kasus XDR TB sudah dilaporkan oleh hampir 120 negara di dunia. Di seluruh dunia diperkirakan ada 580 ribu kasus MDR TB, dan 45 persen di antaranya ditemukan di India, China dan Rusia.

Di Indonesia, kasus MDR TB juga sama sekali tidak bisa disepelekan. Setiap tahunnya diperkirakan ada 6800 kasus MDR TB baru, atau 2,8% dari keseluruhan kasus infeksi baru. Angka itu juga berarti 16 persen dari kasus TB yang sedang ditangani adalah kasus MDR TB. Untuk diketahui, di Indonesia saat ini pengobatan untuk MDR dan XDR-TB sudah bisa diakses di lebih dari 90 RS termasuk RS rujukan, serta 1.193 puskesmas yang merupakan fasilitas satelit, yang tersebar di 34 provinsi. Sejak tahun 1999 sudah lebih dari 55.000 orang yang menjalani tes resistensi obat dan 6000 kasus resisten obat sudah diobati. Data dari Global Tuberculosis Report menyebutkan tingkat keberhasilan pengobatan MDR TB di Indonesia mencapai 51%, sementara untuk XDR TB angkanya turun menjadi 40%.

Biaya Sosial-Ekonomi TB di Indonesia

Setiap kondisi sakit mempunyai konsekuensi sosial ekonomi yang hanya dirasakan oleh pasien dan keluarga. Konsekuensi itu tidak hanya berasal dari biaya yang harus dikeluarkan untuk berobat tetapi juga dari hilangnya kesempatan atau berkurangnya jumlah hari produktif, atau kesempatan untuk sosial lain yang bisa dikonversikan atau dihitung dengan cara tertentu.

Sebuah studi yang dilakukan di Indonesia, Ethiopia dan Kazakhstan sepanjang 2012-2013[1] mengungkapkan temuan menarik. Sebagian besar pasien melaporkan kehilangan pendapatan karena TB. Kisarannya adalah 33% (kasus TB di Ethiopia) hingga 100% (kasus MDR TB di Kazakhstan). Di Indonesia nilai median untuk pertanyaan berkurangnya pendapatan mencapai 25%. Di Ethiopia 56% responden TB dan 41% pasien MDR TB mengaku menjual properti atau berutang untuk biaya pengobatan.

Beberapa temuan penting mengenai dampak sosial-ekonomi dari TB, khusus Indonesia, disajikan dalam table berikut:

Screen Shot 2017-09-29 at 7.50.53 AM

Di Indonesia, median pendapatan pasien TB dan MDR TB turun dari (masing-masing) 134 dan 103 menjadi 0. Proporsi pasien TB yang sebelumnya tidak mempunyai penghasilan tetap naik dari 29 menjadi 52 persen pada saat wawancara, sementara untuk pasien MDR TB kenaikannya lebih dramatis: dari 22 menjadi 74 persen. Median penghasilan keluarga turun sebesar 10 persen (dari 206 USD menjadi 186 USD) untuk TB, dan 40% (206 USD menjadi 124 USD) untuk kasus MDR TB. Rasio biaya pengobatan terhadap penghasilan keluarga – mencakup fase diagnosis dan pengobatan – untuk TB dan MDR TB adalah 0.82 dan 11.4 bulan.

Bisa disimpulkan bahwa dari segi finansial saja – aktual maupun potensial – dampak MDR TB terhadap pasien dan keluarganya sangat besar. Kehilangan penghasilan juga bisa dialami oleh anggota keluarga terdekat yang bertindak sebagai perawat di rumah (dan tentunya tidak dibayar). Berkurangnya waktu bersosialisasi dengan keluarga dan kerabat karena harus ke rumah sakit atau beristirahat di rumah adalah kerugian lain yang dialami baik oleh pasien maupun keluarganya.

TB dan Kesehatan Masyarakat

TB adalah tantangan laten untuk sistem kesehatan masyarakat. Kunci untuk mencegah penularan (menekan pertumbuhan kasus baru) adalah dengan memperbaiki sistem kesehatan sehingga memungkinkan semua orang bisa terdiagnosa secara cepat dan mendapatkan akses pengobatan yang efektif. Pada saat yang sama kemiskinan juga harus diatasi, karena kemiskinan sangat dekat hubungannya dengan penyakit menular. Kemiskinan meningkatkan risiko penularan dan menjauhkan dari akses pengobatan yang adekuat. TB adalah penyakit yang ditularkan melalui udara (airborne disease), dan karenanya sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan mereduksi risiko penularan. Itu semua adalah tugas para ahli kesehatan masyarakat dan pemerintah.

Cara tersebut menjadi sangat penting karena masalahnya dengan TB dan MDR TB adalah sejauh ini belum ada vaksin untuk mencegahnya. Metode terapi yang lebih cepat dan sederhana juga belum ada. Selain itu di Indonesia kemampuan untuk mendiagnosa MDR TB juga belum merata, apalagi untuk TB pada anak dan TB di luar paru. Karenanya yang bisa dilakukan sekarang adalah kemauan politik untuk memperbaiki akses pada diagnosa dan pengobatan, pengentasan kemiskinan, serta dukungan berbasis-masyarakat.

Bagaimana dengan kepatuhan untuk minum obat? Seperti pernah ditulis sebelumnya, perilaku non-adherence atau “ketidakpatuhan” pasien untuk meneruskan pengobatan sering terjadi karena pasien merasa sudah sembuh sehingga menghentikan obat, atau pasien merasakan banyak efek samping obat (mual muntah, sakit kepala, gatal), yang tidak dikomunikasikan baik oleh dokter ketika berkonsultasi. Akibatnya secara sepihak pasien menghentikan minum obat tanpa menyadari sepenuhnya risiko resistensi kuman yang berdampak berat.

Kegagalan pasien untuk teratur meminum obat disebabkan oleh banyak banyak faktor dan aktor di luar dirinya. Dokter harus memastikan bahwa informasi yang diberikan dipahami oleh setiap pasien. Untuk itu dokter perlu kreatif dalam menyampaikan pesan karena setiap pasien memiliki cara yang unik untuk memahami kondisinya. Namun lebih dari menyampaikan pesan dan informasi, dokter juga perlu memahami situasi pasiennya dan menengarai masalah-masalah apa yang bisa menjadi penghambat adherence pasien. Dokter tidak boleh sekadar memberikan informasi tanpa mengecek ulang apakah pasien memahaminya. (selengkapnya baca di sini: http://zubairidjoerban.org/menuju-keberhasilan-terapi/)

Sebagai penutup, meski tantangan masih besar di depan, kita tidak perlu cemas karena sudah ada pengalaman yang menunjukkan upaya pencegahan TB dan MDR TB bisa berhasil baik. Syarat utamanya tentu kepedulian serta komitmen dari masyarakat dan pemangku kepentingan terkait.

 

[1] https://bmcinfectdis.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12879-016-1802-x