cover 21

MEA dan Peluang Besar untuk Kemajuan (bagian 2)

 Pasar kesehatan di ASEAN yang sekarang terdiri dari 10 negara diperkirakan bernilai 84.479 miliar Euro atau lebih dari 90 miliar dollar AS. Dari jumlah itu, pasar terbesar ada di Indonesia, Thailand dan Singapura, disusul oleh Malaysia yang dianggap sebagai salah satu hotspot untuk investasi dan bisnis kesehatan. [1] Di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia kita melihat rumahsakit-rumahsakit PMA bermunculan.

Industri kesehatan dan pasar yang berkembang di kawasan ASEAN ini mendatangkan sejumlah tantangan dan peluang yang sangat menarik. Pasar Bersama ASEAN (atau disebut juga Masyarakat Ekonomi ASEAN, MEA) yang telah resmi dimulai dua tahun lalu tidak hanya memungkinkan orang untuk mempunyai lebih banyak pilihan dalam membeli barang dan jasa, tetapi juga membuka peluang bagi kalangan professional untuk menawarkan keahlian mereka di luar batas-batas negaranya sendiri. Yang terjadi adalah internasionalisasi layanan kesehatan. Bukan hanya produk kesehatan (obat dan alat-alat kesehatan), tetapi tenaga professional kesehatan seperti dokter, perawat, terapis pun perlu memenuhi kualifikasi dan mendapat sertifikasi yang berlaku untuk semua negara yang tergabung dalam MEA. Sedapat mungkin kualifikasi dan standardisasi yang disepakati pun sama atau setidaknya mendekati standar global yang berlaku di negara-negara maju lainnya. Sekadar informasi, saat ini RS Cipto Mangunkusumo Jakarta dan RS Dr Sardjito Yogyakarta sudah lulus dalam akreditasi yang dilakukan oleh Joint Commission International (JCI), sebuah lembaga penjamin mutu layanan kesehatan yang berpusat di Amerika Serikat.

Di ASEAN wisata kesehatan sudah lama berkembang dengan Thailand, Singapura, Malaysia dan belakangan Indonesia menjadi sentralnya.[2] Sudah sejak dulu kita mendengar pasien-pasien Indonesia memilih berobat ke Singapura atau Penang karena dianggap pelayanan di sana lebih baik, lebih lengkap, dan dengan harga yang kompetitif dibanding berobat di Jakarta misalnya. Juga bukan rahasia lagi bahwa beberapa rumah sakit di negara jiran kita sampai mempunyai landasan pacu helikopter sendiri untuk mentransfer pasien-pasien dari wilayah Jambi, Riau, Medan dan sekitarnya ke tempat mereka. Di Jakarta pun tidak sedikit rumah sakit swasta yang memiliki kerjasama dengan rumah sakit di Singapura, Tiongkok atau Thailand, sehingga proses rujukan dari Jakarta ke Bangkok misalnya, menjadi sangat mudah. Pasien dan keluarganya tidak perlu mondar-mandir untuk mengurus berbagai surat keterangan dan salinan rekam medik yang diperlukan. Semuanya sudah diurus dengan rapi oleh agen yang ditunjuk. Dari paspor sampai transportasi PP. Ibaratnya pasien hanya perlu menyiapkan koper, lalu duduk tenang menunggu jemputan dan menjalani pengobatan.

Di antara layanan yang paling populer dan banyak dipasarkan di kawasan ini adalah pemeriksaan atau pengobatan untuk penyakit kardiovaskular (angioplasty, CABG/operasi bypass, dan transplantasi), ortopedi (pengobatan untuk menunjang persendian dan tulang belakang), kanker (stadium lanjut atau terminal), kesehatan reproduksi (kesuburan, IVF, dan masalah kesehatan perempuan lainnya), penurunan berat badan (termasuk bypass gastrik), bedah kosmetik, dan beberapa pemeriksaan penunjang seperti CT Scan dan lain-lain untuk tujuan medical check-up.[3]

Kesadaran orang yang semakin tinggi terhadap pentingnya kesehatan membuat mereka – terutama dari kalangan mampu – mengejar kualitas layanan terbaik menurut persepsi mereka. Dan karena kenyamanan semakin dianggap penting, banyak pasien yang menyamakan kualitas layanan dengan kenyamanan tersebut.

Tapi keadaan mulai berubah pada era JKN/BPJS sekarang ini. Dan itu teramati di ruang praktik saya sehari-hari. Ada kecenderungan pasien yang semula “luar-negeri minded” kini mulai mengalihkan pilihannya ke dalam negeri. Beberapa pasien kanker yang saya tangani pergi ke Singapura atau Malaysia untuk memastikan kondisi mereka. Begitu diagnosis ditetapkan, mereka menjalani satu siklus kemoterapi untuk kemudian pulang dan melanjutkan pengobatannya di Indonesia sampai selesai. Prinsip ekonomi berlaku di sini, yakni membayar semurah mungkin untuk hasil maksimal, setidaknya optimal. Pasien-pasien ini melihat peluang menggunakan BPJS untuk mendapatkan obat kemoterapi gratis dan mereka hanya perlu membayar untuk selisih biaya kamar karena memilih perawatan di kelas VIP atau bahkan VVIP.

Kita sama sekali tidak perlu menanggapi kasus semacam ini dengan sinis. Bahkan sebaliknya, kita harus bersyukur bahwa kepercayaan klien terhadap dokter dan perawatan di dalam negeri semakin tinggi. Setiap pasien yang kita rawat sesungguhnya meningkatkan keterampilan (skill) kita sebagai dokter, dan itu artinya kita semakin bersaing dibanding dokter-dokter dari luar negeri. Beberapa kolega sejawat juga sudah membuktikan itu dari testimoni pasien-pasien mereka.

Contoh lain yang saya amati adalah pasien dengan HIV dan AIDS. Sudah sejak lama, bahkan sebelum era BPJS dimulai, pemerintah menyediakan obat gratis untuk lini 1 dan beberapa jenis lini 2. Saat ini yang terjadi pasien yang datang ke RS Kramat 128 tidak hanya warga Indonesia, tetapi juga warga negara Jepang, Korea, Australia, Nigeria dan beberapa lainnya mengakses obat gratis yang disediakan pemerintah Indonesia. Untuk diketahui juga, menurut mereka kualitas layanan di RS Kramat 128 tidak kalah dengan di negara asal mereka. Obat gratis menjadi advantage lain yang membuat mereka melihat berobat di Indonesia adalah pilihan terbaik yang tersedia.

Sekali lagi kita tidak perlu bersikap sinis. Kemampuan kita untuk menangani HIV sudah berkembang sangat pesat dalam beberapa dekade setelah kasus pertama ditemukan. Kenyataan bahwa saat ini FKUI-RSCM dipilih menjadi salah satu study site penelitian global HPTN 074 membuktikan keterampilan kita dalam manajemen kasus HIV serta infrastruktur laboratorium yang kita miliki sudah diakui di mata internasional. Kualitas dan harapan hidup odha yang meningkat adalah bukti nyata berikutnya. Prinsip ekonomi untuk terapi HIV, dengan demikian, bukan satu-satunya faktor. Kualitas layanan tetap hal yang utama.

Cakupan BPJS harus diakui semakin lama semakin baik. Pasien-pasien jantung yang dulu mungkin memilih ke Penang, Malaysia, untuk memasang stent, sekarang memilih melakukannya di Indonesia karena stent dicakup oleh BPJS. Biaya pengobatan total menjadi nol, atau setidaknya jauh lebih murah. Obat untuk lupus pun mulai dicakup BPJS. Kabar terakhir yang saya dapat, obat lupus ginjal yang harganya mahal sekalipun sudah disetujui untuk dicakup BPJS. Sudah ada surat keputusan pemerintah untuk itu. Dengan demikian kematian odapus bisa ditekan dan kualitas hidup mereka akan semakin baik.

Sekali lagi, BPJS memberikan kita peluang besar untuk mengembangkan keterampilan dokter-dokter. Pekerjaan rumah kita sekarang adalah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan dokter yang berkelanjutan. Kesempatan itu sudah datang dan difasilitasi oleh BPJS. Kepercayaan publik sedang menanjak semakin tinggi. Tinggal sekarang bagaimana fakultas-fakultas kedokteran, IDI, dan ikatan profesi menerima tantangan ini. Terakhir, pertambahan pasien BPJS yang sangat pesat belum diikuti oleh imbalan yang lebih wajar untuk dokter-dokternya. Ini adalah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah jika kita ingin kualitas layanan semesta (universal coverage) tercapai dan terus membaik.

[1] http://www.tforg.com/how-we-think/sweetspot-blog/2015/11/30/the-asean-economic-community-and-the-healthcare-market-in-thailand/
[2] http://www.pacificbridgemedical.com/target-asian-markets/singapore-medical-market/
[3] http://www.tforg.com/how-we-think/sweetspot-blog/2015/11/30/the-asean-economic-community-and-the-healthcare-market-in-thailand/