bau mulut

Mengatasi Bau Mulut

Nafas berbau bukan masalah yang sepele untuk yang mengalaminya. Nafas berbau amat mengganggu kehidupan sosial kita: menyebabkan kita amat takut bicara, sehingga komunikasi kita dengan orang lain menjadi terganggu. Kita juga akan merasa terisolir dari teman-teman dan bahkan orang terdekat. Nafas berbau potensial, karena itu, menjadi masalah yang serius. Bahkan dapat mempengaruhi kehidupan perkawinan.

Sebenarnya nafas semua mahluk hidup cenderung berbau. Rongga mulut kita mengandung jutaan kuman anaerob seperti fusobacterium dan actinomyces yang dapat berperan sebagai mengubah protein yang kita makan yang tertinggal di mulut menjadi sesuatu yang berbau. Gas yang berbau tidak sedap ini bisa berupa asam sulfat, metil meskaptan, kadaverin, skatol dan putresin.

Bila kebersihan mulut tidak diperlihara dengan baik, bau nafas akan segera muncul. Yang biasa kita kerjakan untuk menjaga kebersihan mulut adalah berkumur dan sikat gigi secara teratur, terutama setelah makan. Jika tidak, sisa makanan akan diubah oleh jutaan bakteri yang ada di mulut kita, sehingga menghasilkan bau tak sedap.

Sewaktu bangun tidur, semua orang juga mengalami bau mulut. Hal ini terjadi karena produksi air ludah berkurang selama kita tidur, padahal air ludah mengandung anti bakteri dan oksigen berfungsi menjaga mulut tetap bersih dan dalam kondisi aerobik yang mencegah pertumbuhan bakteri. Maka minimal yang harus dikerjakan adalah menyikat gigi menjelang tidur dan sewaktu bangun tidur.

Penyebab lain bau mulut

Bau mulut bisa berasal dari jenis makanan yang kita santap, terutama dari degradasi protein oleh bakteri di mulut. Daging, ikan, susu, keju, telor dan sebagainya memudahkan timbul bau mulut. Selain itu, makanan tertentu menyebabkan bau yang tidak sedap sehingga perlu dihindari, misalnya bawang putih, durian, pete dan jengkol. Jika memang menyukainya, maka perhatikan benar kebersihan mulut dengan menyikat gigi secara teratur.

Penyebab lain bau mulut adalah masalah gigi. Struktur gigi terdiri dari mahkota gigi, akar gigi, dan leher gigi yang ditutupi oleh gusi. Gigi keropos terjadi akibat kerusakan pada email gigi, sebagai lapisan keras pelindung gigi, dan dapat mengenai lapisan yang lebih dalam, yaitu dentin dan pulpa. Timbunan plak dari sisa makanan yang tidak dibersihkan dengan berkumur dan sikat gigi menjadi tempat mikroorganisme berkumpul dan akan mengeluarkan zat yang bersifat asam.

Plak terjadi akibat sisa makanan dari bahan karbohidrat, misalnya nasi, sereal, roti, permen dan kue. Bakteria di mulut mencerna makanan tersebut, dan merubahnya menjadi asam. Asam mengikis lapisan lembut email pada gigi, menyebabkan timbulnya lubang pada gigi, yang disebut karies. Selanjutnya kerusakan akan menjalar ke dentin dan pulpa. Gigi berlubang apalagi bila sudah menjalar ke dalam, menyebabkan nafas bau. Perlu berobat ke dokter gigi untuk mengidentifikasi ada tidaknya karies dan pengobatannya.

Penyebab berikutnya dari bau mulut adalah radang gusi. Gusi yang terinfeksi tidak hanya menyebabkan gusi membengkak dan nyeri, tetapi juga menimbulkan pus (nanah) yang menyebabkan nafas bau.

Seperti telah dibahas di atas, air ludah mengandung anti bakteri dan oksigen yang keduanya berfungsi menjaga mulut tetap bersih dan dalam kondisi aerobik yang mencegah pertumbuhan bakteri. Kadang-kadang saluran di kelenjar air ludah tersumbat sesuatu seperti tumor sehingga dapat menyebabkan bau mulut. Masalah bau mulut juga bisa timbul karena tonsillitis atau radang kelenjar tonsil atau amandel data, pharyngitis atau radang di daerah faring apalagi bila disertai abses. Kelainan hidung dan telinga. Nafas bau juga dapat disebabkan oleh radang sinus (sinusitis), radang selaput hidung ataupun radang telinga bagian tengah.

Beberapa kebiasaan juga dapat mempermudah timbulnya bau mulut, seperti mengunyah tembakau. Bau mulut timbul baik karena tembakaunya sendiri maupun akibat iritasi mukosa yang disebabkan kegiatan mengunyah tembakau. Kedua, merokok. Perokok hampir selalu nafasnya bau. Merokok juga meningkatkan kadar CO2 dan mengurangi kadar oksigen yang memudahkan bakteri berkembang. Jadi selain menyebabkan adiksi, kanker dan berbagai kelainan di paru dan jantung, merokok juga menyebabkan nafas bau.

Beberapa penyakit penyebab bau mulut

Selain makanan dan gaya hidup, beberapa jenis penyakit juga dapat menyebabkan bau mulut. Antara lain:

  • Diabetes mellitus (kencing manis): Sebagian besar orang dengan kencing manis menderita nafas bau, khususnya mereka yang tidak menjaga kebersihan mulutnya. Penyebabnya antara lain peningkatan kadar gula di mulut dan seringnya timbul sariawan ataupun lidah kotor. Bakteri mulut pada diabetes (orang dengan diabetes) cenderung tumbuh lebih cepat.
  • Demam: Pasien dengan demam seringkali disertai nafas bau, misalnya pada demam tifoid, AIDS dan juga tuberkulosis.
  • Pasien tirah baring: pasien yang berbaring lama, misalnya akibat stroke atau kelumpuhan, seringkali mengalami nafas bau karena mulut dan lidahnya relatif kotor dan minumnya terbatas.
  • Penyakit esofagus, lambung dan usus. Gas di lambung yang kadang keluar melalui mulut dapat menyebabkan nafas bau. Kondisi ini dapat terjadi akibat kelemahan spinkter, gastritis, koreng lambung atau kanker lambung, TB usus, koreng usus (ulcerative collitis) serta sindroma malabsorpsi.
  • Penyakit paru: Pneumonia, abses paru, bronchitis, bronchiectasis, tuberculosis dan kanker paru dapat menyebabkan nafas bau.
  • Penyakit Liver: Hepatitis, sirosis dan penyakit kandung empedu dapat menyebabkan nafas bau.
  • Pasien Psikiatri: Nafas bau sering ditemukan pada pasien psikiatri akibat higieni mulut yang buruk, makan tidak teratur dan minum kurang banyak

Pengobatan

Karena penyebabnya yang beragam maka pengobatan bau mulut juga beragam, tergantung kasusnya. Bila menjaga kebersihan mulut dengan cara menyikat gigi sebelum dan sesudah tidur, menggunakan dental floss, menghindari makanan penyebab bau mulut belum menghilangkan bau nafas, maka perlu berkonsultasi ke dokter gigi atau, bila perlu, ke dokter spesialis penyakit dalam.

Semoga bermanfaat.