alzeimer
Menyambut Hari Lansia Nasional
MENGENAL ALZHEIMER   
 
Seseorang pernah datang dan berkonsultasi kepada saya. Kali ini bukan tentang dirinya sendiri tetapi mengenai ayahnya yang hampir berusia 70 tahun. Menurutnya, sejak enam bulan terakhir ini kesehatan ayahnya menurun drastis. Beliau menjadi pelupa berat, sering marah-marah tanpa sebab, komunikasi dan percakapannya kadang-kadang sulit dipahami. Beliau juga sukar tidur pada malam hari, sering kali menjelang subuh baru bisa lelap. Berbeda sekali dengan kebiasaan tidur sebelumnya, sekitar setahun lalu. Kondisi ini amat mempengaruhi anak-anak yang merawatnya. Amat tidak mudah, katanya. Saya bisa memahami.
Sebenarnya, tutur lelaki muda itu, hasil checkup kesehatan ayahnya tahun lalu cukup baik. Kencing manis terkontrol baik, walaupun kolesterol agak tinggi: 230. Tapi masalah kepikunannya itu yang dirasakan berat oleh keluarga. Tetangganya menyatakan ayah sakit pikun, sudah uzur karena usianya sudah 69 tahun. Anak-anaknya lantas mengantarkan beliau berobat ke beberapa dokter. Ada yang menyatakan gejala ketuaan dini, atrofi otak, dan demensia. Bahkan dokter saraf yang terakhir dikunjungi menyatakan ada kemungkinan kena penyakit Alzheimer.  
 
Kasus itu mendorong saya untuk menuliskan tentang Alzheimer: gejala, diagnosa, dan pilihan-pilihan pengobatan dan penanganan yang tersedia, berikut ini.
 
Dilihat dari gejala yang dikeluhkan klien tersebut, memang ada kemungkinan penyebab gejala yang dialami orangnya disebabkan penyakit Alzheimer, walaupun dapat juga disebabkan oleh penyakit lain.Untuk diketahui penyakit Alzheimer adalah penyakit menahun, penyakit degeneratif, yang menyebabkan fungsi otak, menurun secara kompleks dan drastis.  Penyakit Alzheimer termasuk kelompok penyakit dementia pada manula, bahkan merupakan penyakit dementia yang paling sering ditemukan. Dementia adalah penyakit yg ditandai oleh kehilangan ketrampilan untuk berpikir dan mengingat, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
 
Pasien Alzheimer menjadi amat pelupa. Lupa menaruh barang dan lupa mengingat apa yang baru saja dikerjakan, bahkan kadang lupa mengingat nama istri, anak, bicara atau percakapan kadang tidak nyambung, kadang juga tidak bisa kencing dan buang air besar di toilet. Pasien tidak bisa lagi mengurus diri sendiri, dan tentu saja menjadi sukar bekerja. Penyakit Alzheimer berbeda dari penyakit pikun akibat usia lanjut, yang merupakan proses menjadi tua yang wajar. Pasien Alzheimer lumayan menderita dan memerlukan bantuan kita, bantuan keluarga, bantuan perawat, karena selain masalah pelupa, juga fungsi intelektual dan fungsi sosialnyaterganggu. 
 
Sayangnya informasi mengenai penyakit Alzheimer masih sedikit, dan baru mulai banyak ditulis setelah Ronald Reagan, mantan Presiden Amerika Serikat, menyatakan dirinya sakit Alzheimer pada tahun 1994. Padahal masalah penyakit ini cukup besar. Di seluruh dunia diperkirakan ada sekitar 30 juta pengidap Alzheimer, sementara di Amerika saja paling sedikit ada lima juta orang pengidap dan mungkin sekali akan terus meningkat jumlahnya karena populasi lansia yang semakin bertambah. 
 
Menurut Institut Nasional Neurologi Amerika yang hampir sama dengan kriteria Perhimpunan Psikiatri Amerika, gejala penyakit Alzheimer yang penting ada dua: (1)  Penurunan yang progresif beberapa area kognitif, termasuk daya ingat dan afasia, dan (2) Usia pasien antara 40 – 90 tahun.
 
Pemeriksaan fisik terhadap pengidap Alzheimer yang dilakukan para ahli menunjukkan pada tingkat mikroskopik dari biopsi otak dijumpai kelainan pada neurofibril dan juga ditemukan plak amiloid yang kadang disertai atrofi atau pengecilan korteks otak.  Pertanyaannya: Bagaimana mendiagnosis Alzheimer sebelum biopsi otak?  Memang tidak mudah untuk mendiagnosis Alzheimer. Namun ada beberapa rekomendasi dari Perhimpunan Neurologi Amerika, antara lain pemeriksaan kadar cobalamin dan pemeriksaan skrining fungsi kelenjar tiroid. Pemeriksaan yang lain diserahkan kepada klinisi, dokter yang menangani. Seringkali dokter harus menyingkirkan berbagai kemungkinan penyakit-penyakit lain, termasuk penyakit hematologi, liver, kelenjar adrenal dan penyakit sifilis.  Pemeriksaan CT Scan dan MRI kepala, diperlukan untuk menilai berapa luas atrofi didapatkan pada otak atau korteks. Pemeriksaan EEG juga kadang diperlukan untuk menentukan ada tidaknya penyebab demensia yang lain. Diagnosis pasti berdasarkan hasil biopsi otak.
 
Sekarang ini belum ada obat untuk menyembuhkan penyakit Alzheimer. Yang ada hanya obat-obat untuk mengatasi gejalanya. Ada empat obat untuk mengobati gejala-gejala Alzheimer,  yang menolong mengatasi cara berpikir, pelupa dan kemampuan berbicara yang baik. Sayang sekali obat-obat ini hanya menolong untuk jangka waktu terbatas dan untuk Alzheimer yang ringan dan menengah. Obat-obat tersebut adalah donepezil (Aricept®), rivastigmine (Exelon®), atau  galantamine (Razadyne®). Selain itu donepezil juga disetujui untuk Alzheimer berat. Memantine (Namenda®), juga bisa  dipakai untuk mengobati.
 
Untuk dicatat, kadang-kadang beberapa obat lain bisa dimanfaatkan untuk mengatasi insomnia, agitasi, gelisah marah dan depressi. Perlu diperhatikan bahwa obat-obat tersebut mempunyai efek samping. Karena itu komunikasi yang baik dengan dokter atau pendamping ahli sangat dibutuhkan. Akan sangat baik jika pengobatan dilakukan oleh neurolog, psikiater atau spesialis penyakit dalam konsultan geriatri. Akan lebih baik lagijika melibatkan oleh tim yang terdiri dari spesialis-spesialis tersebut, namun tentunya tergantung kepada banyak keluarga dan dukungan yang tersedia di fasilitas yang dituju
photo: www.pexel.com