dvt760x420

Hari Trombosis Sedunia, 13 Oktober

Mengenal Bekuan Darah yang Mengancam Jiwa

Setiap tanggal 13 Oktober diperingati sebagai Hari Trombosis Sedunia. Tentu bukan tanpa alasan jika trombosis dianggap sedemikian pentingnya sehingga ada satu hari khusus setiap tahun yang didedikasikan untuk menggugah perhatian publik terhadap kondisi ini. Kenyataan yang ada memang menunjukkan bahwa 1 (satu) dari setiap 4 (empat) orang di seluruh dunia sakit karena sebab-sebab yang berkaitan dengan trombosis. Di Amerika Serikat setiap tahun diperkirakan ada 900 ribu orang yang mengalami trombosis dan 100.000 di antaranya meninggal karena kondisi ini: lebih banyak dari gabungan jumlah orang yang meninggal karena AIDS, kanker payudara dan kecelakaan motor.

Sedemikian besar persoalan yang ditimbulkan oleh trombosis sehingga ketika pada tahun 2012 Majelis Kesehatan Dunia (WHA) mencanangkan target mengurangi angka kematian prematur yang disebabkan oleh faktor non-penyakit menular hingga 25 persen, trombosis dan penyakit kardiovaskular termasuk di dalamnya, terutama venous thromboembolism (VTE) dan atrial fibrillation (AFib). Penekanan terhadap pentingnya menangani masalah trombosis di tingkat internasional digaungkan kembali oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam sidangnya ke-68 tahun 2015 lalu. Pencegahan VTE dianggap mendesak untuk mengurangi beban kesehatan global yang cukup besar menurut perhitungan para ahli ekonomi kesehatan.

Berdasarkan data statistik Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, dari total kematian di Indonesia sekitar 21,1 persen disebabkan oleh stroke dan 19,1 persen disebabkan oleh penyakit jantung koroner, kedua penyakit tersebut termasuk kelompok penyakit trombosis.

Sebuah laporan penelitian yang ditulis oleh DR Nafsiah Mboi dan kawan-kawan, dan diterbitkan di jurnal The Lancet akhir Agustus lalu, menyebutkan meskipun angka harapan hidup penduduk Indonesia meningkat 8 tahun antara tahun 1990 – 2016 dan angka kematian dan kesakitan akibat penyakit menular, melahirkan dan kurang gizi berkurang, namun risiko kematian dan kesakitan akibat penyakit tidak menular meningkat. Peneliti mencatat bahwa pada 2016 ada 3 (tiga) penyebab meningkatnya DALY, yakni penyakit jantung iskemik, penyakir serebrovaskular, dan diabetes. Ketiganya erat terkait dengan pola diet (dietary risk) yang berkontribusi 13,6% pada DALY 2016.

Untuk diketahui, DALY (Disability Adjusted Life Year) adalah cara mengukur kualitas kehidupan (quality of life) sebagai salah satu ukuran kesehatan. DALY adalah satuan yang mengukur beban penyakit dan dinyatakan dalam bentuk tahun kehidupan yang hilang karena kematian, dengan kecacatan dikaitkan dengan derajat cacat yang dialami. Satu DALY sama dengan hilangnya satu tahun kehidupan yang sehat. Ukuran ini berkontribusi terhadap pengertian status kesehatan dan upaya mencapai status kesehatan yang optimal (WHO, 1999).

Tapi apa itu trombosis?

Trombosis adalah bekuan darah yang terbentuk di dalam pembuluh darah, baik vena maupun arteri. Yang sering terjadi adalah trombosis di vena dalam (deep vein thrombosis), atau jantung koroner. Bekuan darah ini bisa menetap dan memperlambat aliran darah, atau bisa terlepas dan berjalan ke berbagai organ (emboli) dan berakibat fatal. Emboli juga menyebabkan serangan jantung, stroke thromboembolic, maupun venous thromboembolism (VTE). VTE adalah ketika bekuan darah terbentuk di vena dalam yakni di kaki, atau biasa disebut deep vein thrombosis (DVT). Bekuan ini bisa lepas, berjalan mengikuti aliran darah dan sampai ke paru hingga menyebabkan emboli paru (PE), yang dapat berakibat fatal.

Emboli paru adalah kondisi ketiga terbesar dalam kelompok penyakit kardiovaskular, setelah infark jantung dan stroke. Namun ia menyebabkan lebih banyak kematian dibandingkan infark jantung yang lebih mudah terdeteksi dan diobati. Di antara penyintas PE, hipertensi chronic thromboembolic pulmonary terjadi di antara 2-4 dari setiap 100 orang. Post-thrombotic syndrome di kaki, yang ditandai dengan chronic venous insufficiency dijumpai pada 50 persen pasien yang mengalami DVT atau PE. Pengetahuan masyarakat mengenai trombosis, DVT dan emboli paru masih perlu ditingkatkan karena sekarang kita mengetahui bahwa DVT dan PE memiliki faktor risiko dan patofisiologi yang sama dengan atherothrombosis dan penyakit jantung koroner.

Ada banyak faktor penyebab trombosis, misalnya diabetes, tekanan darah tinggi, polisitemia dan juga ada kecenderungan pembentukan bekuan darah di dalam pembuluh darah yang bersifat genetik (diwariskan).  Pertanyaannya, apakah tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegahnya?  Riset menunjukkan bahwa VTE sering kali bisa dicegah. Cara-cara pencegahan yang dianjurkan dokter juga banyak yang berbasis bukti sehingga efektif membantu mereka yang memang berisiko.

Bisa Dicegah

Untuk menentukan apakah seseorang berisiko mengalami VTE, dokter akan melakukan asesmen dengan cara mengumpulkan beberapa informasi termasuk umur, riwayat kesehatan, obat atau pengobatan yang pernah dijalani, dan beberapa gaya hidup tertentu yang berperan meningkatkan risiko tersebut. Berdasarkan informasi tersebut dokter akan menentukan apakah seseorang tergolong berisiko rendah, sedang, atau tinggi mengalami pembentukan bekuan darah di kaki atau paru.

Selain itu, ada beberapa jenis tes yang akan disarankan oleh dokter, antara lain: (1) D-Dimer, (2) pemeriksaan USG di kaki dan lengan untuk mencari kemungkinan DVT, dan (3) CAT scan, yakni pemeriksaan di dada dengan menggunakan cairan kontras untuk melihat kemungkinan sudah adanya emboli paru.

Jika seseorang ditengarai berisiko DVT, kemungkinan dokter akan memberikan obat untuk mencegah (profilaksis) hal-hal yang tidak diinginkan. Obat-obatan yang dimaksud termasuk obat anti-pembekuan (seperti pengencer darah atau biasa disebut antikoagulan), atau meminta pasien menggunakan stoking khusus. Selain itu pasien yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit akan diminta untuk melakukan olahraga kaki sesegera dimungkinkan dan sesering mungkin.

Pengobatan

DVT dan PE adalah penyakit serius yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Penanganan medis sesegera dan setepat mungkin sangat diperlukan. Akan tetapi cara penanganan bisa jadi berbeda antara satu pasien dengan pasien lain, akan tetapi pada umumnya dokter akan memberikan obat pengencer darah untuk menghancurkan bekuan dan mencegah pembentukan bekuan baru.

Beberapa hal yang mungkin akan dianjurkan dokter kepada pasien sama dengan untuk pencegahannya, antara lain:

  1. Pemberian antikoagulan (suntik: heparin, enoxaparin, atau low molecular weight heparin, atau tablet minum: apixaban, dabigatran dan rivaroxaban, edaxaban dan warfarin). Pengobatan biasanya dimulai dengan infus heparin atau kadang suntikan heparin subkutan dan dilanjutkan dengan antikoagulan yang diminum.
  2. Penggunaan alat (stoking khusus yang berfungsi untuk mengurangi risiko jangka panjang akibat adanya bekuan dalam pembuluh darah.
  3. Terapi trombolitik (misalnya tissue plasminogen activator.)

Diagnosis dini dan pengobatan segera mungkin sekali dapat menyembuhkan sama sekali DVT, tetapi komplikasi jangka panjang masih mungkin akan terjadi.

Yang harus diingat trombosis tidak pandang bulu. Siapa pun dapat terkena, terlepas faktor usia, etnis atau ras. Baik Anda penduduk negara maju atau negara berkembang. Karena itu yang terpenting adalah menghindari risiko terjadinya pembekuan darah, serta mengenal tanda-tanda bahaya dan risiko.

Pencegahan primer dengan memperbaiki gaya hidup amat dianjurkan, yaitu olahraga (termasuk berjalan cepat) setengah jam sehari, makan sayur 3 kali sehari, makan buah 3 kali sehari, dan silaturrahim.

Sumber:

  1. www.worldthrombosisday.org/issue/thrombosis/
  2. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/22959540/
  3. https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(18)30595-6/fulltext