internetpasien1

(Bagian 1)

Tak Sesat di Belantara Informasi

Menjadi Pasien di Era Internet

Siapa di antara Anda yang belum pernah mengakses informasi kesehatan melalui internet? Saya kira jawabannya sangat jarang, atau bahkan tidak ada. Sekarang, setiap kali bertemu pasien di ruang praktik, saya sering dikonfrontir dengan pertanyaan pasien yang sebagian besar didasarkan pada keterangan yang mereka bisa dapatkan dari situs atau portal berita yang menyediakan informasi kesehatan. Mulai dari artikel kesarjanaan (ilmiah) hingga artikel populer yang “siap pakai”

Untuk saya sebagai dokter, ini perkembangan yang menggembirakan dan mengkhawatirkan sekaligus. Menggembirakan, karena teknologi internet telah membuka peluang bagi demokratisasi informasi sehingga setiap orang bisa mengakses pengetahuan yang selama ini dimonopoli oleh sedikit saja orang. Internet juga mempengaruhi pola interaksi antara pasien (klien) dan dokter sebagai penyedia jasa layanan. Jika sebelumnya komunikasi antara dokter dan pasien lebih banyak dipandang sebagai komunikasi satu arah di mana dokter berbicara dan pasien hanya mendengarkan dan patuh, maka dengan datangnya era internet komunikasi di antara keduanya lebih interaktif dan “taylor made” (disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien).

Mengkhawatirkan, karena sebagai dokter yang ingin selalu memperbarui pengetahuan, saya sadar di luar sana banyak beredar informasi yang tidak tepat, salah, dan bahkan bisa membahayakan pasien. Termasuk informasi melalui jaringan sosial seperti WA (WhatsApp) yang seringkali keliru dan diteruskan begitu saja oleh orang yang tidak mengetahui benar-salahnya informasi tersebut.

Risiko mengambil keputusan salah karena didasarkan pada informasi yang tidak jelas sangat besar. Apalagi mengingat saat ini diperkirakan ada lebih dari 50 juta orang di planet ini yang mengakses informasi kesehatan secara online, dan lebih dari 70 ribu daring yang menyediakan informasi kesehatan.

Tak semua kanal menyediakan informasi yang bertanggungjawab. Siapapun bisa membuktikan pernyataan ini. Jika sedang berselancar dengan mesin pencari, cobalah misalnya memasukkan kata kunci “pengobatan kanker payudara”, lalu amati informasi yang muncul di sana. Bisa dipastikan bahwa lima sumber informasi teratas terkait dengan pengobatan alternatif yang efektivitasnya sangat mungkin belum teruji dengan uji klinis yang terstandardisasi. Obat herbal atau alternatif tidak “haram”. Beberapa pasien saya memakainya sebagai obat penunjang misalnya untuk mengatasi efeks samping kemoterapi. Tapi lain soalnya jika obat-obat herbal tersebut diiklankan memiliki efektivitas yang luar biasa, padahal belum terbukti melalui uji klinis yang melibatkan subyek penelitian dalam jumlah besar.

Sebagai klinisi sudah banyak saya melihat kasus pasien yang datang ke dokter setelah kondisinya parah, atau kankernya sudah memasuki stadium lanjut bahkan terminal, setelah mereka “shopping around” dengan berbagai metode yang diklaim sangat manjur dan bebas efek samping tersebut. Sekadar untuk diketahui, dibanding kanker lain, kanker payudara adalah kanker yang teknologi pengobatannya paling berkembang dan itu salah satu sebab kemungkinan kesembuhannya paling besar.

 Kedokteran: Ilmu yang Terus Berkembang

Perlu dicatat bahwa kedokteran bukanlah ilmu yang statis. Perkembangan terjadi di semua bidang medis dengan sangat cepat. Ambil contoh pemahaman selama ini mengenai pentingnya suplemen kalsium untuk kelompok lanjut usia yang memang rentan terhadap osteoporosis. Dulu kita menganggap hal ini sangat penting. Namun penelitian terus berkembang, hingga ada bukti kuat sekarang pemberian suplemen kalsium bisa membahayakan terutama untuk laki-laki lanjut usia.

Sebuah penelitian prospektif yang dilakukan oleh National Institutes of Health, dimulai tahun 1995-1996 dan berlangsung selama 12 tahun di Amerika Serikat, melibatkan 388.229 perempuan dan laki-laki berusia antara 50 – 71 tahun yang berasal dari beberapa negara bagian (California, Florida, Louisiana, New Jersey, North Carolina, Pennsylvania, serta dua wilayah metropolitan (Atlanta, Georgia, dan Detroit, Michigan), menyimpulkan bahwa suplemen kalsium berkorelasi dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular pada laki-laki, meski tidak pada perempuan (http://archinte.jamanetwork.com/article.aspx?articleid=1568523#METHODS )

Contoh kedua, berbeda dari pemahaman populer bahwa kopi sebaiknya dihindari oleh wanita yang sedang hamil muda, menyebabkan gangguan irama jantung dan menyulitkan mengontrol hipertensi, para peneliti medis sekarang menyimpulkan bahwa belum cukup data untuk melarang perempuan yang hamil muda minum kopi karena kekhawatiran bayinya akan lahir dengan berat badan rendah (http://www.cochrane.org/CD006965/PREG_effects-of-restricted-caffeine-intake-by-mother-on-fetal-neonatal-and-pregnancy-outcomes).

Masih banyak contoh yang lain, namun yang ingin disampaikan di sini adalah internet telah membawa kita pada era banjir informasi yang sangat perlu untuk disikapi dengan hati-hati. Sebuah penelitian yang dilaporkan pada 1999 oleh Abelhard dan Obst menyebutkan bahwa lebih dari setengah situs informasi kesehatan mengandung informasi yang validitasnya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Selanjutnya Cline dan Haynes (2001), menyebutkan bahwa pada 1997 hanya empat dari 41 situs yang menyajikan informasi mengenai tatalaksana demam pada anak di rumah, yang benar-benar dekat dengan panduan medis yang berdasarkan pada bukti (evidence-based medicine). Contoh lain, pada 1998 dilaporkan bahwa hanya 12 dari 60 artikel mengenai diare pada anak, yang sesuai dengan rekomendasi tatalaksana diare yang dikeluarkan oleh American Academy of Paediatrics. Contoh yang lain dengan mudah akan kita dapatkan terkait kanker, urologi, dan tiroid.

Kemampuan Menilai

Informasi kesehatan di internet dapat diibaratkan kotak Pandora, yang mudah dibuka namun akan membahayakan jika tidak disikapi dengan hati-hati. Sebagai konsumen informasi kesehatan (ingat bahwa dokter dan pekerja kesehatan lain pun termasuk konsumen dalam hal ini, jadi bukan hanya pasien), kemampuan untuk menelaah literatur ilmiah secara kritis, mengidentifikasi kekeliruan yang diidap sebuah penelitian, serta menginterpretasikan dengan benar implikasi dari sebuah laporan penelitian, sangat diperlukan. Dokter atau sarjana kesehatan masyarakat mendapatkan pendidikan untuk menilai informasi kesehatan, namun sayangnya tidak demikian dengan masyarakat umum yang adalah konsumen kesehatan. Akibatnya, pembaca non-medis cenderung untuk:

  1. Tidak melihat bahwa ada informasi penting yang hilang dari sebuah artikel atau laporan.
  2. Tidak dapat membedakan mana artikel yang mengandung bias dan mana yang tidak.
  3. Tidak dapat membedakan klaim yang berbasis bukti (evidence-based) dan mana yang tidak berbasis bukti (non-evidence-based), dan
  4. Memahami secara keliru informasi yang memang sebenarnya ditujukan untuk kalangan professional (Cline dan Haynes, 2001).

Tapi hambatan informasi bagi konsumen kesehatan tidak hanya berhenti di situ. Akses terhadap informasi juga terhambat justru karena jumlahnya yang terlalu banyak (overload) dan tidak teratur. Internet, kata seorang ahli, mirip sebuah perpustakaan di mana setiap orang menyumbangkan buku tetapi meletakkannya secara random di sembarang rak. Parahnya lagi, tidak ada sistem penomoran atau klasifikasi yang jelas untuk mengarahkan pembaca awam mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Semakin lama semakin parah, karena semakin banyak “buku” yang dimasukkan ke dalam “perpustakaan” tersebut.

Kesulitan lain yang mungkin dihadapi oleh konsumen awam informasi kesehatan adalah bahasa yang terlalu teknis, atau malah tidak menguasai kata kunci yang seharusnya diletakkan di mesin pencari. Akibatnya ia akan mudah “tersesat” dan justru menemukan informasi-informasi yang membahayakan. Juga, jika pertanyaan kita tidak spesifik, informasi yang diterima tidak akan sesuai dengan kebutuhan dan bahkan berisiko.

Untuk itu, kita semua harus berpikir logis dengan didasarkan pada bukti-bukti yang cukup. Dalam ilmu kedokteran, sebuah penelitian dianggap valid antara lain jika melibatkan banyak subyek (di atas 5000 orang). Jika bukti efektivitas hanya pada satu-dua orang, itu yang disebut sebagai anecdotal data/evidence.

Ketika dokter mengetahui ada seorang pasien demam berdarah yang oleh keluarganya diberi jus jambu lantas sembuh, maka sebenarnya itu bukan karena jus jambu, tetapi karena demam berdarah adalah self-limiting disease yang akan sembuh tanpa obat. Demam berdarah pada prinsipnya hanya memerlukan cairan, yang bisa diberikan lewat oral (minum) atau kalau trombosit rendah ya harus lewat infus. Pasien demam berdarah tidak boleh diberikan antibiotika ataupun transfusi trombosit, karena malah membahayakan dan memicu komplikasi yang lain, sehingga masa perawatan menjadi lebih lama. Transfusi trombosit hanya diperlukan jika kadarnya di bawah 5000 atau masa perdarahan yang panjang. Pasien demam berdarah dewasa rata-rata memerlukan 10 hari atau paling lambat 2 minggu untuk sembuh total.