hiv-aids-cure-the-hottest-media

Pedoman Baru WHO untuk Pengobatan HIV

Mulai ARV Segera!

Tepat pada hari terakhir bulan September 2015, UNAIDS mengeluarkan siaran pers yang isinya menyambut baik pedoman baru penggunaan obat antiretroviral (ARV), yang dirilis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Siaran pers UNAIDS menyebut pedoman tersebut sebagai satu langkah sangat penting untuk memperbaiki kualitas orang dengan HIV dan AIDS (odha) dan mengurangi penularan virus.

Pedoman tersebut pada intinya merekomendasikan agar obat ARV diberikan kepada mereka yang terinfeksi HIV begitu diagnosa ditetapkan, tanpa melihat lagi jumlah CD4 seperti yang biasa dilakukan.

Menanggapi keluarnya pedoman baru ini, Direktur Eksekutif UNAIDS Michel Sidibé, mengatakan bahwa pedoman baru ini sangat penting untuk merespon epidemi AIDS. “Obat-obatan dan prosedur ilmiah yang ada sekarang membuat kita memiliki kesempatan untuk menyelamatkan nyawa jutaan manusia di tahun-tahun mendatang, dan memberi peluang untuk mencapai target mengakhiri epidemi AIDS pada 2030.”

Untuk diketahui, rekomendasi WHO itu didasarkan pada dua uji klinik internasional dengan metode acak (randomized) – Temprano dan START (Strategic Timing of Antiretroviral Treatment), yang menunjukkan bukti kuat keuntungan memulai terapi antiretroviral sesegera mungkin. START adalah sebuah penelitian multinasional yang diikuti oleh hampir 5000 partisipan yang bersedia ikut serta di dalamnya. Penelitian ini seyogyanya masih akan berlangsung hingga akhir 2016, namun pada Mei 2014 lalu, analisa atas data interim yang dilakukan secara independen oleh Data and Safety Monitoring Board (DSMB) bahwa ada lebih banyak masalah klinis – termasuk tuberkulosis dan beberapa jenis kanker non-AIDS – yang muncul pada kelompok yang terapi ARV-nya ditunda dibanding kelompok yang memulai terapi ARV segera. Berdasarkan temuan tersebut DSMB berkesimpulan bahwa cukup kuat bukti yang menunjukkan keuntungan memulai terapi ARV segera, dan atas dasar itu diambil keputusan untuk memberikan terapi kepada semua peserta uji klinik yang belum mendapatkan terapi ARV.

Sementara itu Temprano, atau Temprano ANRS 12136 tepatnya, adalah juga uji klinik acak di Cote d’Ivoire, melibatkan lebih dari 2000 partisipan yang terdiri dari dua kelompok yakni yang segera mendapatkan terapi ARV dan yang pemberian ARV-nya ditunda mengikuti kriteria nasional untuk mendapatkan terapi. Studi yang berlangsung selama 30 bulan menunjukkan kesimpulan yang sama dengan START, bahwa pemberian ARV-segera mengurangi risiko masalh klinis yang muncul karena menurunnya kekebalan tubuh karena infeksi HIV.


 Apa itu CD4?

CD4, atau limfosit T-helper, adalah bagian dari sistem imun yang dirusak oleh HIV. Sistem imun pada manusia amat kompleks dan saling berkaitan antar berbagai sel dan jaringan. Kerusakan pada salah satu komponen dapat mengganggu seluruh sistem, terutama bila yang rusak komponen utama. Pada AIDS sebetulnya yang amatrusak hanya satu komponen saja, yaitu limfosit T-helper, yang secara bertahap makin berkurang.

Ada beberapa fungsi limfosit T-helper yang penting sekali, antara lain menggerakkan sistem imun dengan (a) membuat zat-zat kimia yang merangsang pembentukan antibodi dan (b) merangsang pematangan beberapa jenis sel di dalam sistem imun.

Akibat dihancurkannya sel T helper ini oleh HIV, maka pada penderita AIDS ditemukan berbagai kelainan sistem imun, antara lain fungsi “natural killer”, fungsi limfosit B, fungsi monosit makrofag terganggu; demikian pula terdapat kelainan dalam serum: faktor suppressor, interferon, beta 2 mikroglobulin, alfa 1 timosin dan timolin.

Selain membunuh limfosit T-helper, HIV juga mengganggu fungsi dari limfosit T-helper yang masih hidup, sehingga tidak bisa mengenal antigen-antigen yang masuk dan tidak dapat memulai respon imun terhadap antigen tersebut.

Jumlah sel CD4 adalah indikator yang sangat penting untuk menentukan tingkat kekebalan tubuh manusia. “Jumlah CD4” harus berada pada batas-batas normal – antara 500-1000 sel per milimeter kubik darah – untuk mampu mempertahankan tubuh dari berbagai komplikasi yang berhubungan dengan HIV dan AIDS, yakni berbagai jenis infeksi oportunistik yang biasa muncul jika kekebalan tubuh menurun.


PrEP

Selain merekomendasikan pemberian ARV segera, berapapun kadar CD4 dalam darah, pedoman WHO ini juga merekomendasikan agar mereka yang rentan terinfeksi HIV mendapatkan akses untuk ARV profilaksis pra-paparan (Pre-Exposure Prophylaxis, PrEP), sebagai bagian dari upaya pencegahan terpadu. Pedoman ini sekaligus diharapkan akan membantu memperkuat pendekatan Fast-Track yang dicanangkan UNAIDS, yakni sebuah target yang menetapkan 90% dari mereka yang terinfeksi mengetahui status positifnya, dan 90% dari mereka yang mengetahui status positifnya mendapatkan akses kepada pengobatan untuk menekan jumlah virus dalam darahnya. Target ini juga menetapkan berkurangnya angka infeksi baru sebesar 75 persen, dan nol diskriminasi terhadap orang dengan HIV dan AIDS.

“Kita berada di persimpangan jalan dalam upaya mengatasi AIDS. Kita sudah tahu apa saja yang perlu dilakukan untuk mengatasinya – dan sekarang tugas kita adalah mendahulukan masyarakat dan menghormati hak mereka untuk sehat,” kata Sidibé lebih lanjut.

Dengan pernyataan itu, UNAIDS menekankan kembali hak seseorang untuk mengetahui status HIV-nya dan keputusan seseorang untuk memulai terapi ARV. Karena pencegahan dan keputusan untuk pengobatan seyogyanya didasarkan pada informasi yang adekuat. Akses yang lebih luas dan lebih adil terhadap terapi ARV dan PrEp akan mengatasi kesenjangan yang selama ini terjadi di layanan kesehatan, terutama yang dihadapi oleh kelompok-kelompok termarjinalkan dan justru rentan terinfeksi HIV.

Kesiapan Indonesia

Sebagai negara yang juga masih menghadapi pekerjaan rumah berat terkait HIV, kita perlu melakukan sosialiasi atas pedoman baru WHO ini. Belum banyak dokter yang mengetahui tentang protokol baru pengobatan WHO. Dari sedikit yang tahu pun, tidak semuanya bisa menerapkan prosedur pengobatan dengan taat karena banyaknya kendala yang menghadang. Antara lain konsistensi ketersediaan ARV di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat.

Di lapangan masih sering dijumpai pasien yang sudah mengetahui status positifnya tetapi belum melakukan pemeriksaan CD4 dan VL. Prosedur lama memang menghendaki diketahui dulu kadar CD4 dan VL seseorang sebelum pengobatan dimulai. Karena pemeriksaan laboratoriumnya tertunda (atau ditunda) karena berbagai alasan seperti biaya, jarak yang jauh dari rumah, dan sebagainya, maka tertunda pula pemberian ARV-nya. Kadang 1 bulan, 2 bulan, bahkan 6 bulan. Atau kadang ada juga dokter yang lebih mengutamakan pengobatan TB-nya (bisa 6, 9 atau 12 bulan lamanya). Akibatnya ketika datang untuk konsul lagi kondisi infeksi HIV-nya sudah lebih buruk. Sekarang, dengan pedoman baru WHO ini, setiap orang harusnya segera mendapatkan akses ke terapi ARV. Pemeriksaan laboratorium dilakukan bersamaan dengan dimulai terapi ARV.

Hambatan lain yang sering dijumpai untuk memulai terapi ARV adalah ketakutan akan efek samping. Memang benar, efek samping ARV ada, sebagaimana pengobatan untuk penyakit lainnya. Namun statistik menunjukkan hanya 10-30 odha yang mengalami efek samping pengobatan, dan itupun sangat bisa diobati. Dokter yang terlatih dengan baik dalam memberikan ARV akan mampu membantu pasiennya mengatasi efek samping yang mengganggu. Dan harus mampu, karena jika tidak pasien akan drop-out (putus obat) dan nyawanya terancam. Persepsi ini yang harus diubah melalui pendidikan dan sosialiasasi terus-menerus.

Untuk diketahui, pengalaman sebagai dokter yang menangani pasien dengan HIV dan AIDS mengajarkan bahwa dengan adherens yang baik dalam 3 bulan jumlah virus dalam darah tidak terdeteksi lagi. Lebih lanjut tentang adherens ini, silakan baca lagi artikel sebelumnya, Komunikasi Dokter dan Pasien: Menuju Keberhasilan Pengobatan). Baik TB ataupun HIV obatnya sama-sama disediakan gratis oleh pemerintah. Namun sayangnya angka keberhasilan pengobatan keduanya masih berbeda jauh. Adherens pada pasien yang menerima terapi ARV masih jauh lebih baik daripada pasien dengan TB. Sampai saat ini TB masih menjadi penyebab kematian nomor satu di masyarakat umum. Tentunya termasuk di kalangan pasien HIV, karena TB juga adalah infeksi oportunistik paling sering dijumpai.

Untuk itu pendidikan dan sosialisasi yang konsisten dan berkesinambungan sangat penting. Tidak hanya melalui media, tetapi yang lebih penting adalah oleh organisasi profesi dan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI. Juga berbagai strategi seperti pendampingan dan pengawas minum obat perlu ditambah dan kapasitasnya ditingkatnya terus. Terakhir, kita harus mencamkan benar bahwa akses kepada pengobatan termasuk memulai ARV sesegera mungkin, dan akses terhadap informasi yang baik adalah hak asasi setiap warganegara yang sakit. Negara dan kita semua harus berusaha memenuhinya.