visualHIV

Prematur, HIV Bisa Disembuhkan

Sejak dua pekan lalu media di dalam dan luar negeri diramaikan dengan liputan mengenai satu kasus HIV yang sembuh total dari infeksi virus yang selama ini diketahui sebagai kondisi seumur hidup: hanya bisa dikontrol, tidak bisa disembuhkan.

Pasien tersebut, dikenal dengan “Pasien London”, adalah seorang pasien laki-laki dengan limfoma Hodgkin stadium 4.

Limfoma Hodgkin, meski tidak terkait langsung dengan AIDS, cukup banyak ditemukan di antara pengidap HIV. Pasien London ini didiagnosis HIV positif pada 2003, sebelum pada 2012 dinyatakan menderita limfoma Hodgkin. Hingga saat ini Pasien London yang sudah menjalani semua modalitas untuk penyembuhan kankernya, yakni kemoterapi dan terapi cangkok sel punca (stem cell) dari donor yang resisten terhadap HIV. Diperkirakan kuat bahwa terapi cangkok sel punca inilah yang menghilangkan sel kanker sekaligus virus penyebab HIV di tubuhnya.

Sejak 18 bulan lalu ia dinyatakan bebas HIV dan tidak lagi mengonsumsi ARV. Namun demikian para dokter yang menangani menyatakan masih terlalu dini untuk mengatakan pasien London sudah benar-benar sembuh dari infeksi HIV.

Terapi Sel Punca

Berita kesembuhan Pasien London memunculkan kembali optimisme kemungkinan eradikasi HIV. Pasien London adalah yang kedua diketahui sembuh dari HIV setelah terapi cangkok sel punca. Yang pertama, lebih dari 10 tahun lalu, adalah Timothy Ray Brown, seorang odha yang menderita acute myeloid leukemia. Brown menjalani dua kali terapi cangkok sel punca di Berlin pada 2007 sebelum dinyatakan sembuh dari HIV pada 2008. Beberapa tahun setelah ia berhenti minum obat ARV, jejak HIV tampak dalam spesimen darahnya. Namun karena HIV tetap tidak terdeteksi, dokter tetap menyatakan Brown secara klinis sembuh dari HIV.

Leukemia adalah kanker yang menyerang darah dan sumsum tulang. Cangkok alogenik (cangkok dari donor) dibutuhkan untuk menghancurkan sistem imun (melalui kemoterapi) dan menggantinya dengan sel punca yang berasal dari donor hematopoietik. Diharapkan setelah itu terjadi regenerasi sel di tubuh pasien, dan sel-sel ganas akan mati dan hilang.

Kedua pasien ini, baik Pasien London maupun Pasien Berlin, mengalami hal yang sama: sama-sama menghadapi kombinasi dua penyakit yang sangat serius. Pertama adalah HIV yang memerlukan obat ARV yang harus diminum terus, kedua adalah kanker (limfoma dan leukemia) yang memerlukan kemoterapi dan pada kondisi tertentu memerlukan cangkok sel punca.

Persamaan lain dari kedua pasien ini adalah donor sel punca mereka berasal dari orang-orang yang mempunyai mutasi koreseptor CCR5 sehingga resisten terhadap infeksi HIV. Koreseptor CCR5 adalah pintu masuk HIV. Mutasi genetik tertentu pada CCR5 menyebabkan virus tidak bisa masuk, dan karena itu kesembuhan dicapai.

Untuk diketahui, sebelum cangkok sel punca kedua pasien mendapat kemoterapi lebih dulu yang merupakan standar baku pengobatan kanker. Setelah terjadi remisi lengkap, pasien mendapat pengobatan kondisioning yang berat, dengan kemoterapi disertai – atau tanpa disertai — radiasi dosis tinggi. Terapi ini menghabiskan sel darah beserta sel induk darah pasien, dan karena itu pasien harus dirawat di ruang steril, kadang sampai 5-6 minggu, sampai sel punca dari donor tumbuh.

Akan tetapi tidak semua proses berjalan seperti diharapkan. Data menunjukkan bahwa selain Pasien London dan Berlin, ada tiga odha yang juga mendapat terapi cangkok sel punca juga dari donor yang mengalami mutasi koreseptor CCR%, tetapi tidak berhasil mengatasi infeksi HIV. Dua odha meninggal karena infeksi empat bulan cangkok koreseptor CCR5, dan satu orang yang menghentikan terapi ARV mengalami pelonjakan jumlah virus hingga 93.300 kopi/ml darah, tiga minggu setelah pencangkokan. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4524463/).  Dengan kata lain, perlakuan yang sama tidak selalu berujung pada keberhasilan yang sama.

Kelemahan ARV

Kasus Pasien London ini meyakinkan para ahli bahwa yang dialami Tim Brown bukanlah sebuah anomali. Ada harapan besar bahwa HIV akhirnya bisa disembuhkan melalui terapi gen. Sejak pertama ditemukan pada dekade 80-an, HIV telah menjangkiti hampir 37 juta orang di seluruh dunia. Setiap tahun ada sekitar satu juta orang yang meninggal karena sebab-sebab terkait HIV dan AIDS. Sejauh ini pengobatan yang paling efektif adalah terapi antiretroviral yang obatnya harus diminum oleh odha setiap hari seumur hidup.

Lalu bagaimana dengan kemungkinan menggunakan terapi sel punca untuk menyembuhkan HIV? Pertama harus diingat bahwa terapi sel punca yang tergolong agresif itu tujuan utamanya adalah untuk pengobatan kanker. Bukan HIV. Terapi sel punca yang sangat toksik juga berisiko untuk odha yang sistem imun tubuhnya terganggu karena virus. Selain itu biaya yang sangat tinggi dengan bukti yang masih sangat terbatas menyebabkan terapi sel punca tidak cost effective dan belum bisa dikatakan berbasis bukti (evidence-based) untuk penyembuhan HIV.

Terapi ARV untuk HIV sampai saat ini sebetulnya masih sangat efektif, dalam arti harapan hidup odha bisa menyamai mereka yang tidak terinfeksi, demikian pula dengan kualitas hidupnya. Tidak hanya itu, obat ARV yang sekarang tersedia mampu menekan jumlah virus dalam darah sampai tidak terdeteksi, dan itu artinya risiko penularan ke orang lain menjadi menjadi berkurang dan bahkan hilang. Jika risiko penularan hilang, maka sebenarnya HIV bisa dikendalikan. Banyak odha di Indonesia yang sehat dan produktif setelah mengonsumsi ARV selama 10, 15 dan 20 tahun. Yang paling lama adalah 25 tahun.

Masalahnya sekarang obat ARV memang bersifat non-kuratif. Odha harus minum obat seumur hidup karena jika tidak (non-adherence) virus di dalam tubuhnya akan aktif kembali dan bahkan kebal sehingga odha yang bersangkutan harus “naik banding” dengan meminum ARV yang lebih kuat.

Isu ketaatan (adherence) dalam terapi ARV masih menjadi isu besar untuk HIV. Selain resistensi virus yang menguat, masalah lain dalam memastikan ketaatan minum obat adalah efek samping yang harus dikelola. Odha yang minum ARV banyak yang mengalami inflamasi kronik, pengeroposan tulang, penuaan dini, dan peningkatan mortalitas dan morbiditas non-AIDS. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4524463/). Semua masalah ini mendorong para ahli kedokteran untuk terus mencari alternatif pengobatan HIV .

Penutup

Hampir tiga setengah dekade setelah kasus pertama ditemukan dan dengan segera menyebar ke seluruh dunia, AIDS telah membunuh hampir 35 juta orang. Sebenarnya dunia medis sudah mencapai banyak kemajuan untuk menangani epidemi ini, termasuk menegakkan diagnosa dengan cepat selain ARV yang efektivitasnya sudah disebutkan. Berbagai pesan positif untuk mencegah penularan dan menghapus stigma dan diskriminasi sudah disampaikan, meski tampaknya masih banyak yang perlu dikerjakan, termasuk di Indonesia.

Meski begitu pengendalian HIV masih jauh dari harapan. Masih terlalu banyak odha yang putus obat dan virusnya kembali lagi, lebih banyak dan lebih resisten, setelah sebelumnya berhasil ditekan sampai level tidak terdeteksi.

Pustaka

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4524463/

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/10388118/

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21148083

https://www.webmd.com/hiv-aids/news/20101215/hiv-aids-cure-faq#1

https://www.google.com/amp/s/www.bbc.co.uk/news/amp/health-47421855

https://www.amfar.org/understanding-berlin-patient/

https://edition.cnn.com/2019/03/04/health/hiv-remission-london-patient-study-bn/index.html

http://www.bloodjournal.org/content/117/10/2791?sso-checked=true

https://www.google.com/amp/s/mobile.reuters.com/article/amp/idUSKCN1QL2C0