ilustration

PUASA DAN OLAHRAGA

Manfaat puasa untuk kesehatan tidak perlu diragukan. Banyak sekali riset yang sudah dilakukan oleh para ahli kesehatan yang menunjukkan puasa berdampak sangat positif terhadap kesehatan jasmani dan rohani. Bahkan pada beberapa jenis penyakit seperti sakit maag (ringan – sedang) dan diabetes mellitus, puasa memiliki efek menyembuhkan. Tentu ada pengecualiannya, yakni pada sakit maag berat yang disertai muntah dan nyeri hebat. Untuk sebagian besar orang dengan diabetes mellitus (kencing manis) puasa justru banyak manfaatnya meskipun ada, walaupun amat sedikit, pasien diabetes yang sebaiknya tidak puasa untuk sementara.

Namun hidup sehat tidak hanya ditentukan oleh diet dan asupan gizi. Untuk hidup sehat kita juga memerlukan gaya hidup aktif: berolahraga secara teratur. Di bulan puasa olahraga untuk menjaga kesehatan kita atau bagian dari pengobatan yang sedang kita jalani, perlu terus dilanjutkan dengan teratur, minimal setengah jam setiap hari. Ada baiknya olahraga tidak dilakukan di pagi atau siang hari, dan intensitasnya dikurangi. Lakukan olahraga sejam sebelum buka puasa atau sekitar 2 jam setelah berbuka. Olahraga dapat digantikan dengan berjalan cepat, termasuk berjalan cepat ke dan dari masjid untuk sholat tarawih. Harus diingat, berjalannya harus berjalan cepat, bukan berjalan santai.

Puasa Olahragawan

Itu untuk kita yang berolahraga untuk alasan kesehatan. Bagaimana dengan mereka yang berprofesi sebagai atlet? Saya ingin mengambil contoh dari Inggris, sebuah negara di Eropa dengan penduduk sekitar 63 juta jiwa dan komunitas muslimnya termasuk yang terbesar di benua tersebut, yakni sekitar 3 juta orang. Menariknya, di Inggris terdapat 3000 muslim yang berprofesi sebagai atlet dan pelatih, juga ofisial. Pada bulan Ramadan yang tahun-tahun ini jatuh pada musim panas, kewajiban puasa harus mereka jalani cukup panjang, dari pukul 5 pagi hingga 21 malam, atau 16 jam.

Lalu bagaimana mereka, dan atlet-atlet muslim lainnya, menjalaninya?

“[Ramadan] adalah bulan penuh berkah,” kata Mohamed Mohamed, pelari 1500 meter asal Somalia. “Saya sudah menunggu datangnya bulan ini selama sebelas bulan, dan kini menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Untuk seorang atlet tentu saja akan sedikit sulit, tapi saya siap untuk puasa dan tetap berlatih.”

Sementara itu pelatih tim Belanda, Pim Verbeek, mantan pemain sepakbola Belanda yang sempat menjadi pelatih Korea mengatakan, “Tentu saja sulit. Secara fisik mereka tidak 100 persen fit, tapi secara mental mereka lebih baik dari biasanya.”

Intinya, Ramadan bukan halangan untuk terus berlatih. Atlet-atlet internasional dari berbagai cabang terus melakukan puasa. Karim Benzema misalnya. Ia adalah anggota tim Prancis dalam Piala Dunia 2014, dan tetap berpuasa pada pertandingan pertama. Demikian juga dengan Mamadou Sakho, pemain sepakbola berkebangsaan Prancis yang kini membela Liverpool. Bersama rekannya Blaise Matuidi, Sakho tetap berpuasa ketika Prancis menahan Spanyol 1 – 1 pada Piala Dunia FIFA 2014.

Puasa, seperti ibadah lain, dianggap sebagai urusan pribadi. “Menanyakan masalah pribadi itu tidak sopan dan melanggar etika. Para pemain berhak menentukan pilihan dan saya ingin kontroversi diakhiri,” kata Vahid Halilhodzic, pelatih dan mantan pemain sepakbola berkewarganegaraan Bosnia-Herzegovina.

Mereka yang tidak berpuasa mungkin tidak akan paham bagaimana seorang olahragawan – sepakbola misalnya – akan mampu berlaga penuh dalam satu pertandingan setelah tidak makan dan minum selama beberapa jam. Namun bukti-bukti menunjukkan banyak atlet muslim yang tetap puasa dan tetap mempertahankan performance mereka dalam pertandingan. Sebut misalnya kuartet Prancis Karim Benzema, Bacary Sagna, Mamadou Sakho dan Moussa Sissoko, atau trio Belgia Mousa Dembele, Marouane Fellaini, dan Adnan Januzaj, serta pemain tengah Jerman Mesut Ozil dan Sami Khedira.

Sebuah studi yang melibatkan 85 pemain bola professional Tunisia menunjukkan bahwa selama bulan Ramadan penampilan mereka dalam hal kecepatan, ketangkasan, melewati lawan, dan menggiring bola memang sempat menurun tapi secara bertahap mengalami peningkatan. Beberapa waktu kemudian, apabila mereka terus mempertahankan porsi latihan, kondisi mereka akan kembali seperti sebelum puasa.

Beberapa penelitian lain diketahui menunjukkan hasil yang serupa, antara lain penelitian yang dilakukan untuk mengetahui dampak puasa Ramadan terhadap tubuh, kemampuan aerobik dan kadar asam laktat dalam darah, detak jantung serta respons persepsi di antara 16 pemain sepakbola muda (2011). Kesimpulan utamanya: jika porsi latihan dipertahankan, demikian juga dengan cairan tubuh, asupan energi harian, serta lamanya tidur, maka puasa Ramadan tidak akan membawa efek buruk, baik pada performance aerobik seorang atlet, maupun pada kondisi tubuh secara keseluruhan. (Güvenç A. J Hum Kinet. 2011 Sep;29:79-91. PMID: 23486092 [PubMed] PMCID: PMC3588618)

Penelitian lain juga dilakukan untuk melihat dampak psilokogis puasa Ramadan. Sebanyak empat tim pemain, lengkap dengan pelatih dan mentornya, ditempatkan tiga minggu sebelum Ramadan dan selama penelitian berlangsung. Mereka terbagi menjadi kelompok yang diteliti dan kelompok kontrol. Hasilnya menunjukkan bahwa puasa tidak berpengaruh pada aspek biokimiawi tubuh, nutrisi, perasaan subyektif, dan penampilan secara keseluruhan, dibandingkan pada kelompok kontrol. Bahkan performance fisik mereka yang berpuasa cenderung menunjukkan peningkatan, meskipun dalam studi ini tidak diukur performance pada waktu pertandingan yang sesungguhnya. (Influence of Ramadan fasting on physiological and performance variables in football players: summary of the F-MARC 2006 Ramadan fasting study. Zerguini Y1Dvorak JMaughan RJ,  et al J Sports Sci. 2008 Dec;26 Suppl 3:S3-6)

Diperlukan penelitian berskala besar untuk lebih memastikan kesimpulan-kesimpulan tersebut di atas. Namun setidaknya untuk sementara kita bisa mengatakan bahwa puasa tidak berdampak negatif pada tubuh manusia, apapun profesinya. Yang dibutuhkan hanyalah penyesuaian agar ibadah tetap lancar dan pekerjaan tetap berjalan normal.