infografis_CA-01-01-01

 QUO VADIS PENANGGULAN KANKER DI INDONESIA?

Kanker merupakan masalah yang besar, di seluruh dunia, 12.5% kematian disebabkan kanker, jadi melebihi jumlah kematian akibat HIV/AIDS, tuberkulosis dan malaria digabung menjadi satu. Sekitar 7 juta orang meninggal setiap tahun akibat kanker, penyakit yang merupakan beban yang amat berat, bagi pasien, keluarga maupun masyarakat. Kanker penyebab kematian urutan ketiga.  Penyakit ini menjadi masalah kesehatan masyarakat yang besar di negara berkembang,  karena lebih dari 50% pasien kanker di seluruh dunia berada di negara berkembang.

Masalah kanker di negara berkembang menjadi lebih berat, karena 75% pendapatan dunia ada di 5 besar negara maju, dan negara berkembang hanya kecipratan beberapa persen saja. Selain itu, menurut Badan Kesehatan Dunia, WHO , kebanyakan negara berkembang –termasuk Indonesia- tidak memprioritaskan penanggulangan kanker, karena kurang menyadari seriusnya masalah ini, dan  masalah lain dianggap lebih penting, baik masalah ekonomi, politik, maupun masalah kesehatan lain, penyakit infeksi misalnya.

Selain masalah rendahnya prioritas, masalah berat yang dihadapi negara berkembang dalam kaitan dengan kanker adalah masalah merokok, obesitas, diet yang tidak sehat, tingginya infeksi virus hepatitis B dan HPV (human papilloma virus) serta  gaya hidup santai, tidak aktif berolah raga. Kesemuanya merupakan faktor risiko yang memudahkan timbulnya kanker. Menurut WHO, 43% kanker disebabkan oleh merokok, salah diet dan penyakit infeksi. Pesan pertama pertemuan tersebut, adalah separuh angka kejadian kanker dapat dicegah.

 Merokok merupakan penyebab 30% kematian akibat kanker, merokok menjadi penyebab utama (80%) kanker paru pada laki-laki dan  penyebab 45% kanker paru pada wanita. Merokok juga menjadi penyebab penting timbulnya kanker tenggorokan, mulut, pankreas, kandung kemih, lambung, liver dan kanker ginjal.

 Data tentang rokok, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013 masih terus memprihatinkan. Perilaku merokok penduduk 15 tahun keatas masih belum terjadi penurunan dari 2007 ke 2013, bahkan cenderung meningkat dari 34,2 persen tahun 2007 menjadi 36,3 persen tahun 2013. Sebanyak 64,9 persen laki-laki dan 2,1 persen perempuan masih menghisap rokok pada tahun 2013.

Rata-rata jumlah batang rokok yang dihisap adalah sekitar 12,3 batang, bervariasi dari yang terendah 10 batang di DI Yogyakarta dan tertinggi di Bangka Belitung (18,3 batang). Terkait dengan penanggulangan masalah kanker, proporsi rumah tangga yang memenuhi kriteria perilaku hidup bersih dan sehat yang baik mengalami penurunan dari 38,7 persen pada tahun 2007 menjadi 32,9 persen di tahun 2013

Diet yang tidak sehat dan gaya hidup santai tanpa olahraga terbukti dapat menyebabkan timbulnya kanker. Kegemukan dan obesitas memudahkan timbulnya kanker payudara, usus besar,  uterus, esofagus dan kanker ginjal. Konsumsi alkohol meningkatkan risiko kanker payudara, mulut, tenggorokan, laring, esofagus, kanker liver. Risiko timbulnya kanker lebih meningkat lagi bila dikombinasikan dengan merokok.

Seperlima kanker di seluruh dunia disebabkan oleh penyakit infeksi kronik, khususnya infeksi virus hepatitis B (kanker liver) dan HPV (kanker cervix). Sebagian kanker yang lain disebabkan oleh infeksi HIV (kanker Kaposi dan limfoma), skistosoma (kanker kandung kemih) dan kuman Helicobacter pylori (kanker lambung). Kondisi ini beda sekali dengan di negara maju, angka kejadian kanker akibat infeksi jarang didapatkan.

Penanggulangan Kanker   

 Penanggulangan kanker tentu harus mempertimbangkan faktor faktor diatas. Upaya pencegahan merupakan upaya terpenting, selain lebih baik daripada mengobati, juga lebih murah. Merokok jelas merupakan penyebab kematian terpenting yang bisa dicegah. Menekan 50% konsumsi rokok sekarang ini, dapat mencegah kematian sebesar 20 sampai 30 juta orang dalam duapuluh tahun mendatang (sebelum tahun 2025), dan mencegah 170-180 juta kematian sebelum tahun 2050.

Menghentikan merokok dan menghindari memulai merokok adalah upaya terbaik setiap orang untuk menjaga kesehatannya. Merokok merupakan ancaman kesehatan buat masyarakat dan peran aktif masyarakat menghentikan atau mengurangi konsumsi rokok amat diperlukan. Bahkan paparan asap rokok untuk masyarakat yang tidak merokok (passive smokers) meningkatkan risiko kanker paru sebesar 20%. Sebagai tambahan, salah satu strategi yang penulis perhatikan di Amerika, adalah upaya di sekolah menyadarkan siswa sejak kecil, bahwa bila ayahnya, ibunya  atau kakaknya merokok, maka anggota keluarga yang tidak merokok akan kena getahnya, lebih mudah sakit, termasuk kanker.

Jadi, yang melarang ayahnya merokok di rumah adalah anak-anaknya. Saya melihat sendiri, walaupun musim dingin, bila ingin merokok, si ayah harus keluar rumah. Sedihnya,  pendidikan seperti ini belum diterapkan di Indonesia. Sebaliknya, yang ada adalah iklan rokok besar-besaran di televisi dan media cetak kita, yang sama sekali tidak bisa kita jumpai di negara lain.

Pemeo gemuk adalah lambang kemakmuran sudah lama ditinggalkan orang. Kegemukan, apalagi obesitas, justru memudahkan timbulnya kanker, stroke dan penyakit jantung. Gemuk yang berlebihan atau obesitas, bukan lagi faktor risiko, namun sudah dikategorikan penyakit, angka kematian pada obesitas jelas meningkat.  Masyarakat perlu disadarkan bahwa makan yang berlebihan (jumlah kalori ataupun lemak) adalah diet yang tidak sehat. Demikian pula makanan yang diasinkan dapat meningkatkan kanker. Makan ikan amat dianjurkan untuk menjaga kesehatan, namun makan ikan yang diawetkan dengan diasinkan, harus dihindari.

Makan sayur dan buah setiap hari dapat menekan risiko timbulnya berbagai kanker, misalnya kanker payudara, usus besar, mulut, kanker paru dan kanker cervix. Kombinasi olahraga dan diet dapat mencegah timbulnya kanker sebesar 30%. Olahraga apapun atau berjalan cepat setiap hari selama 30-60 menit amat dianjurkan. Cukup banyak anggota masyarakat kita yang merasa tidak bisa olahraga, karena harus berangkat bekerja pagi-pagi sekali. Dalam hal ini, olahraga bisa dilaksanakan sore hari atau begitu sampai di kantor pagi hari, kemudian berjalan cepat keluar kantor selama 15 menit, kemudian kembali ke kantor 15 menit, juga berjalan cepat.

Risiko kanker liver meningkat 40 kali, bila kita terinfeksi virus hepatitis B. Sayangnya vaksinasi virus ini belum membudaya. Indonesia termasuk prevalensi tinggi untuk hepatitis B, puluhan juta penduduk kita terinfeksi, pasien kanker hati juga banyak sekali, sehingga seharusnyalah sebagian besar masyarakat kita divaksinasi. Jadi, kanker hati masalah besar di Indonesia, bisa dicegah, vaksinnya ada, namun yang penduduk yang divaksinasi masih sedikit.

Risiko kanker cervix meningkat 100 kali, bila kita terinfeksi HPV.  Kanker cervix merupakan kanker yang tersering di Indonesia, uji klinik vaksin HPV berhasil bagus untuk mencegah kanker cervix. Mestinya Indonesia dan negara berkembang lain,  memprioritaskan vaksinasi hepatitis B dan mengupayakan vaksin HPV dan menyelamatkan jutaan orang Indonesia, apalagi  bila digabung dengan kampanye anti rokok dan hidup sehat.

Deteksi dini menyelamatkan kahidupan. Upaya deteksi dini termasuk kampanye pendidikan masyarakat mengenai gejala dan tanda awal kanker serta upaya skrining. Skrining kanker cervix dengan ”Pap’s smear” terbukti bisa menekan angka kematian secara drastis. Insidens kanker cervix di negara maju sekarang ini jauh lebih rendah dibandingkan insidens di negara berkembang. Kanker cervix merupakan salah satu kanker yang paling sering ditemukan di Indonesia.

Pengobatan menjadi isu penting dalam konperensi Paris tersebut, banyak dibahas uji klinik obat obat  kanker yang baru, dengan hasil ayang amat menjanjikan, namun penerapan di negara berkembang jelas tidak mudah, karena obat baru identik dengan harga yang mahal. Yang bisa diterapkan antara lain adalah inovasi baru dengan obat khemoterapi lama dikombinasikan dengan inovasi di bidang radioterapi, seperti yang disampaikan oleh pakar dari HongKong –dengan hasil yang amat bagus- untuk pengobatan kanker nasopharynx. Jenis kanker ini termasuk yang terbanyak ditemukan di ruang rawat RSUPN Cipto Mangunkusumo. Sistem asuransi kesehatan yang mencakup pembiayaan pengobatan kanker perlu dikembangkan, sehingga setiap pasien kanker mendapat akses pengobatan yang memadai. Rumah sakit pemerintah, sebagai sarana layanan kesehatan, perlu ditingkatkan kemampuannya untuk mendiagnosis dan mengobati kanker.

Salah satu masalah yang dihadapi negara berkembang adalah belum berkembangnya  sistem pendataan kanker, khususnya data yang berbasis rumah sakit dan data kanker berbasis kependudukan. Padahal, pencatatan kanker menjadi salah satu dasar untuk menentukan prioritas program penanganan kanker sekaligus pencegahannya serta menjadi panduan untuk pengobatan kanker di Indonesia.

Sekadar informasi, sejak bulan Oktober 2004, Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) bekerja sama dengan Yayasan Kanker Indonesia dan Roche-Indonesia memulai program pencatatan kanker di Indonesia (Cancer Registry Pilot Project). Perkembangan program ini, yang awalnya dibantu oleh Schlumberger, menggembirakan. Sudah berjalan baik di rumah sakit besar di Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, dan sejak beberapa bulan terakhir dijalankan juga di beberapa rumah sakit yang lain. Diharapkan di tahun-tahun berikutnya program ini diambil alih oleh pemerintah, setelah dievaluasi.

Belajar dari penanggulangan penyakit lain, AIDS, lupus, diabetes maka peran pasien kanker dan perhimpunannya sebetulnya penting sekali dalam penanggulangan kanker. Yang sudah berjalan lancar sekarang ini adalah perhimpunan profesi dokter yang terkait dengan kanker, misalnya POI, Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia, Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia, Patologi Indonesia, Radioterapi Indonesia, Bedah Onkologi Indonesia,  atau organisasi masyarakat YKI, namun organisasi organisasi  yang didirikan dan dikelola langsung oleh pasien kanker belum berkembang baik. Tugas pemerintah dan kita semua untuk memfasilitasinya.

Bagaimana peran pemerintah? Peran pemerintah besar sekali, tentu diperlukan alokasi dana untuk upaya upaya tersebut diatas, yang perlu disertai dengan ketersedian tenaga terlatih dan dokter spesialis serta akses pengobatan sebagai tindak lanjut, setelah diagnosis ditegakkan. Pesan penting dari konperensi Paris tersebut, dan sebetulnya juga pesan dari konperensi konperensi kanker yang lain, janganlah hanya menjadi berita dan dokumen saja, namun kita harus mengerjakan penanggulangan kanker dengan benar, kita harus memasukkan sebagai agenda kebijakan, atau advokasi agar pemerintah Indonesia mengembangkan perencanaan penanggulangan kanker dengan benar.  Bila tidak, berarti kita sedang merencanakan kegagalan penanggulangan kanker.

 


Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, penyakit kanker bisa dicegah. Menghentikan merokok merupakan upaya pencegahan terpenting. Hidup sehat dengan stop alkohol, setiap hari makan sayur, buah dan olahraga merupakan kebiasaan yang dapat mencegah timbulnya berbagai jenis kanker. Vaksinasi hepatitis B merupakan upaya utama untuk mencegah timbulnya penyakit kanker hati, perlu mendapat prioritas dan perhatian serius dari pemerintah. Deteksi dini kanker cervix (kanker jalan lahir) dengan skrining Pap’s smear dilanjutkan dengan pengobatan, dapat menyembuhkan kanker cervix yang merupakan salah satu penyakit kanker tersering di Indonesia. Pengembangan vaksin dan akses vaksin HPV (Human Papilloma Virus) untuk mencegah kanker cervix perlu diikuti dengan cermat untuk segera dilaksanakan, begitu tersedia di pasaran.   Peran masyarakat, khususnya peran pasien kanker dan perhimpunan pasien kanker, terbukti banyak manfaatnya di banyak negara dan merupakan salah satu faktor penting keberhasilan program penanggulangan penyakit kanker; pemerintah Indonesia dan organisasi profesi perlu mendukung dan memfasilitasi perkembangan perhimpunan pasien ini.