Taman Burung Cemara Asri 

Medan

Medan3 Medan5

Ribuan koloni burung beterbangan dan mencari mangsa dengan bebasnya di tengah hiruk pikuk di tengah Kota Medan. Perumahan Cemara Asri yang mulai popular di Kota Medan kerap dikunjungi banyak orang karena merupakan satu-satunya kompleks perumahan yang menyediakan tempat penangkaran burung. Apalagi keunggulan dari Perumahan Cemara Asri yang pantas untuk dijadikan objek kunjungan wisata di Kota Medan. Di perumahan ini pula terdapat vihara yang merupakan vihara terbesar di Asia Tenggara. VIhara kebanggaan warga Cemara Asri pada khususnya, dan warga Medan pada umumnya ini diberi nama Maha Vihara Maitreya. Kemegahan vihara ini menjadi magnet yang mendatangkan wisatawan tidak hanya lokal, tetapi juga internasional, seperti para wisatawan dari Eropa dan China. Keberadaan vihara terbesar di Asia Tenggara ini member dampak positif bagi keberadaan dua vihara lainnya dan juga sebuah masjid megah yang tak kalah cantiknya. Semua ini dapat Anda temukan ketika Anda memasuki kawasan perumahan ini.Di samping Maha Vihara Maitreya yang megah, terdapat sebuah rawa kecil yang tadinya hanyalah kavlingyang akan dibangun menjadi perumahan. Namun, atas inisiatif pengelola Kompleks Cemara Asri, H. Anif, lahan tersebut akhirnya dijadikan sebagai tempat habitat burung. Berdasarkan penelitian, jumlah burung di tempat ini terus bertambah setiap harinya mencapai hingga 5.000 ekor. Beragam jenis burung menjadikan tempat ini sebagai tempat peristirahatan mereka. Ada burung kolak malam kelabu, kuntul besar, kuntul kecil, kuntul kerbau, cangak merah, cangak abu, kokokan laut, koreo padi, bangau, dan masih banyak jenis burung yang lainnya. Tempat ini juga menjadi habitat  beragam jenis ikan tawar dan juga kadal. Habitat burung di tempat ini menjadi nilai tambah sekaligus menjadi objek wisata alam bebas yang menarik. Anda bisa melihat harmonisasi alam dan manusia dan menghiraukan sejenak hiruk pikuk perkotaan yang tipikal. Apalagi di sore hari, ketika keluarga burung baru pulang dari arah pantai, merupakan suatu pemandangan alam yang luar biasa.

Masjid Raya Medan

Salah satu kegemaran saya memotret masjid dimana saya berkunjung. Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam sebagai pemimpin Kesultanan Deli memulai pembangunan Masjid Raya Al Mashun pada tanggal 21 Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H). Keseluruhan pembangunan rampung pada tanggal 10 September 1909 (25 Sya‘ban 1329 H) sekaligus digunakan yang ditandai dengan pelaksanaan sholat Jum’at pertama di masjid ini. Keseluruhan pembangunannya menghabiskan dana sebesar satu juta Gulden. Sultan memang sengaja membangun masjid kerajaan ini dengan megah, karena menurut prinsipnya hal itu lebih utama ketimbang kemegahan istananya sendiri, Istana Maimun. Pendanaan pembangunan masjid ini ditanggung sendiri oleh Sultan, namun konon Tjong A Fie, tokoh kota Medan dari etnis Tionghoa yang sezaman dengan Sultan Ma’mun Al Rasyid turut berkontribusi mendanai pembangunan masjid ini. Pada awalnya Masjid Raya Al Mashun dirancang oleh arsitek Belanda Van Erp yang juga merancang istana Maimun, namun kemudian prosesnya dikerjakan oleh JA Tingdeman. Van Erp ketika itu dipanggil ke pulau Jawa oleh pemerintah Hindia Belanda untuk bergabung dalam proses restorasi candi Borobudur di Jawa Tengah. Sebagian bahan bangunan diimpor antara lain: marmer untuk dekorasi diimpor dari Italia, Jerman dan kaca patri dari Cina dan lampu gantung langsung dari Perancis.

Medan1 Medan2