ilustrattion

Sekali Lagi tentang Pengobatan sebagai Pencegahan HIV Menyambut Hari AIDS Sedunia 2016

Pendahuluan

Hingga 30 tahun setelah kasus pertama ditemukan, epidemi HIV di Indonesia masih melalui dua jalur penularan terpenting, yakni hubungan seks heteroseksual tanpa pelindung, utamanya di kalangan mereka yang memiliki banyak partner seks, dan penggunaan jarum suntik bergantian dan terkontaminasi di kalangan pecandu narkotika.

Namun kita perlu hati-hati membaca data. Laporan Kementerian Kesehatan Desember 2015 menunjukkan faktor heteroseksual mencapai 66.7% sementara penularan yang melalui jarum suntik mencapai 11.4%. Sisanya adalah hubungan homoseksual berisiko dan perinatal. Ada perbedaan data antara Kementerian Kesehatan ini dengan data UPT HIV dan AIDS, FKUI-RSCM, yang menyatakan bahwa hubungan heteroseksual tidak aman berkontribusi pada 60% (hampir sama), sementara penularan melalui jarum suntik tidak aman jauh lebih tinggi: 36 persen.

Laporan Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) 2011 menyebutkan, perilaku membeli seks dalam satu tahun terakhir paling banyak dilakukan oleh waria (26%), diikuti oleh pria potensial risiko tinggi/risti (23%) dan penasun serta MSM masing-masing 19%. Pria potensial risti membeli seks dalam satu tahun terakhir dengan wanita pekerja seks (WPS), sementara waria dan MSM dengan pria (bukan waria).

Tentang penularan di kalangan penasun, STBP 2011 menunjukkan 13% penasun mengaku berbagi jarum saat menyuntik terakhir, dan 14% penasun mengaku pernah meminjam atau meminjamkan jarum ketika menyuntik dalam seminggu terakhir. Bisa ditafsirkan angka ini sangat tinggi jika rata-rata menyuntik dalam satu minggu terakhir adalah tujuh kali, dan rata-rata menyuntik di hari kemarin adalah dua hari.

Kesimpulannya, pekerjaan rumah untuk menghambat laju penularan masih cukup besar. Kita perlu terus merapatkan barisan dan bekerja sama untuk menanggulanginya. Semua cara harus dilakukan. Termasuk pendidikan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual yang memberikan penguatan kepada generasi muda untuk memperkuat diri dan menapis dorongan ke arah perilaku berisiko yang membuat mereka rentan tertular HIV. Akan sangat menghambat jika kita masih meributkan pendekatan apa yang terbaik untuk dilakukan.


Hari AIDS Internasional 2016 mengambil tema Access Equity Rights Now

  • Access Equity Rights Now adalah seruan untuk kerjasama dan menjangkau mereka yang belum memiliki akses kepada pengobatan komprehensif, pencegahan, layanan maupun dukungan.
  • Access Equity Rights Now adalah seruan untuk memperkuat komitmen bagi intervensi HIV yang berbasis riset.
  • Access Equity Rights Now adalah seruan agar semua pemangku kepentingan HIV bersatu dan mengatasi segala bentuk ketidakadilan yang disebabkan oleh kekerasan termasuk penyingkiran orang atas alasan gender, kelas, ras, kebangsaan, umur, asal geografis, orientasi seksual dan status HIV.
  • Access Equity Rights Now adalah seruan aksi untuk menghapus undang-undang yang bertentangan dengan hak asasi manusia dan menghalangi hak masyarakat untuk berpartisipasi secara setara.
  • Access Equity Rights Now mengingatkan kita bahwa semua capaian selama ini akan sia-sia belaka jika kita tidak terus melangkah dan membangun serta menguatkan gerakan di tingkat global demi mengubah jalannya epidemi.

Tahun ini rumusan tema di Indonesia adalah: “Mari Berubah, Masa Depan Tanpa Penularan HIV dan AIDS”. Selain itu, hashtag #akuberani juga disosialisasikan untuk mendorong semakin banyak orang yang melakukan tes HIV.


Treatment as Prevention (TasP)

Meskipun demikian intervensi terbaik adalah yang didasarkan pada riset. Dulu kita mengenal tiga modalitas pencegahan HIV, yakni:

  1. Pendekatan struktural, yang di dalamnya termasuk pemberian Pendidikan Seksualitas Komprehensif (CSE). Berbagai riset yang dilakukan dalam skala global menunjukkan bahwa bahwa selain terbukti menurunkan kejadian infeksi baru HIV dan IMS lainnya, CSE juga berperan mengurangsi risiko terjadinya kehamilan tidak dikehendaki (KTD). Dengan demikian ada nilai ekonomis jika CSE diberikan secara massif: ada kerugian potensial yang dapat dicegah.
  2. Prinsip ABCD yang populer pada masa awal epidemi.
  3. Pendekatan biologis, yang termasuk di dalamnya adalah pemberian antiretroviral (ARV) segera setelah jejak virus terdeteksi di dalam darah, program pencegahan penularan dari orangtua kepada anak (PMTCT), sunat, serta pemberian Tenofovir intra vaginal sebelum berhubungan seks dengan individu yang positif.

Tapi sekarang, menurut dokumen Antiretroviral Drugs for Treatment and Prevention of HIV Infection in Adults 2016: Recommendations of the International Antiviral Society–USA Panel, pencegahan adalah yang utama, sehingga urutan di atas menjadi 3, 1, dan terakhir 2.

Lebih dari cukup data yang tersedia untuk memberikan rekomendasi – yang sekarang juga sudah banyak diterapkan di banyak negara – agar ARV diberikan segera setelah infeksi terdiagnosis, biar pun kadar CD4 dalam darah masih normal (tinggi). Tidak perlu menunggu.

Kombinasi obat-obat ARV bisa diubah karena indikasi-indikasi yang muncul. Misalnya karena menyebabkan efek samping alergi, gangguan faal ginjal, liver, ketersediaan obat, toksisitas dan antisipasi dari interaksi obat yang mungkin akan mengganggu kondisi pasien, rencana kehamilan, dan sebagainya. Bagaimana pun ARV adalah obat yang perlu diberikan dengan pengawasan. Karena itu cek laboratorium secara berkala disertai dengan pengawasan dokter sangat penting untuk dilakukan sebelum memulai dan selama pengobatan, untuk mengukur respon tubuh, efek samping, dan adherens atau ketelatenan pasien meminum obat. Pemberian tenofovir disoproxil fumarate/emtricitabine secara harian direkomendasikan sebagai moda pencegahan (preexposure prophylaxis¸ PEP) untuk mencegah penularan pada individu berisiko tinggi dan diberikan sesegera mungkin setelah terjadi pajanan.

TasP sekarang adalah standar emas (golden standard) untuk upaya pencegahan. Bukti-bukti menunjukkan bahwa pemberian ARV secepat mungkin pada saat CD4 masih tinggi dan VL rendah memungkinkan pengurangan risiko penularan hingga 96 persen. Termasuk penularan kepada pasangan seksual. Juga, seorang ibu hamil yang terdeteksi positif dan minum ARV ketika kehamilan baru mencapai 3 atau 6 bulan paling lambat (artinya: 3 bulan sebelum persalinan), dengan adherens tinggi tentu saja, sangat mungkin virusnya tidak terdeteksi lagi setelah 3 bulan sehingga risiko penularan kepada bayinya hampir nol. Sekadar bukti, kebijakan untuk mewajibkan perempuan positif yang hamil untuk mengonsumsi ARV sudah diterapkan di Washington DC sejak 2009, dan setelah itu tidak ada lagi bayi-bayi yang lahir dengan virus HIV di tubuhnya.

ARV jika diberikan secara tepat terbukti mengurangi kadar virus dalam darah, cairan semen (air mani), cairan vagina dan cairan rectum secara sangat signifikan. Karena itu risiko penularan sangat berkurang dan laju pertumbuhan kasus baru bisa ditekan sangat minimal. Selain itu, jika adherens dipertahankan tinggi, tingkat harapan hidup di kalangan orang dewasa dengan HIV akan mendekati mereka yang tidak memiliki virus di tubuhnya.

Tetapi ada beberapa catatan penting untuk Indonesia agar TasP benar-benar efektif.

Pertama, tes HIV yang merupakan fondasi pengobatan dan pencegahan penularan. Tes HIV harus diperluas dan akses tes HIV dipermudah. Kedua, diagnosis dini yang telah dibuktikan amat bermanfaat. Ketiga, manajemen suplai ARV harus terus perbaiki, jangan sampai kosong. Beberapa tahun belakangan ini Kementerian Kesehatan RI sudah membangun sistem suplai yang terdesentralisasi sehingga ketersediaan obat hingga daerah tingkat dua bisa dijaga kelangsungannya. Sistem ini dimulai sejak tahun 2000 di lima provinsi: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Papua. Lalu mulai tahun 2014, manajemen suplai ARV diterapkan di daerah tingkat dua antara lain di Kepulauan Riau yang mencakup Batam, Tanjung Pinang, Bintan, Kepulauan Anambas, Kepulauan Natuna dan Kepulauan Karimun. Juga di kota/kabupaten Denpasar, Gianyar, Buleleng, Tabanan, Jembrana dan Badung di provinsi Bali, serta kabupaten Nabire, Jayapura dan Wamena di Papua. Perlu perbaikan sistem pelaporan kasus agar cermat dan tidak terlambat. Walaupun sistem pelaporan belum sempurna, Dinas Kesehatan di provinsi bertanggungjawab untuk menjaga distribusi obat dan pengawasannya agar tidak pernah kosong satu obat pun.

Keempat, bagaimanapun canggihnya ARV hanya efektif untuk mengobati dan mencegah pengurangan HIV. Tidak untuk infeksi menular seksual lainnya. Data yang tersedia (IBBS 2015) menunjukkan bahwa prevalensi sifilis menurun di kelompok waria, perempuan pekerja seks (langsung dan tidak langsung), dan lelaki (heteroseks) berisiko tinggi. Akan tetapi tren sebaliknya dijumpai di kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan sesama laki-laki: dari 4,33% pada 2007, menjadi 9,29% di 2011, dan bahkan 15,71% di 2015. Tren yang sama – meski lebih stabil dan menurun di tahun 2015 – juga dijumpai di kelompok pengguna narkotika suntikan. Data ini menunjukkan kepada kita bahwa keberhasilan di satu sisi tidak boleh diikuti dengan kelengahan di sisi lain.

Promosi dan penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko tetap harus dilanjutkan, dan pemeriksaan secara rutin untuk menapis IMS perlu dilakukan. Dengan demikian kesehatan seksual masyarakat tetap terjaga.