aspirin

STROKE dan ASPIRIN

Mungkin sekali pengalaman pasien berikut ini tidak asing, atau malah sering, kita temui dalam praktik atau dalam keseharian kita. Beberapa waktu lalu, dengan ditemani keponakannya, seorang bapak survivor stroke datang ke ruang praktik saya. Salah satu yang menjadi kekhawatiran keluarga adalah masalah obat-obat yang harus dikonsumsi sejak serangan stroke yang dialami pasien dua bulan sebelumnya, termasuk setengah tablet aspirin setiap malam setelah makan. Pasien mengatakan tidak merasa pusing. Kekhawatiran sekarang adalah obat-obat yang dikonsumsi – padahal tidak ada keluhan – justru akan berbalik meracuni dan membahayakan tubuh. Saat ini selain mengonsumsi obat pasien juga menjalani fisioterapi dua kali dalam seminggu.

Merespon kekhawatiran tersebut, beberapa hal saya sampaikan kepada pasien dan keluarganya.

Pertama, bagaimanapun kondisi seseorang, sehat atau dalam masa pemulihan, cara hidup sehat dengan olahraga teratur, menghentikan merokok dan minum alkohol, makan sayur dan buah setiap hari, mengurangi makan daging yang dimasak keliru (dibakar, diasap, diasinkan dsb), wajib dilakukan. Jika ada kondisi seperti kencing manis, tekanan darah atau kolesterol tinggi, minum obat dan kontrol teratur harus dilakukan. Semua itu adalah bagian dari upaya pencegahan primer, yaitu upaya agar kita tidak mudah terserang penyakit jantung koroner, kanker dan juga stroke.

Nah, yang ditanyakan keluarga pasien di atas adalah terkait upaya pencegahan sekunder, yaitu upaya agar sang paman yang dua bulan sebelumnya terserang stroke dapat terhindar dari serangan kedua yang acapkali lebih berat dan dapat berakibat fatal.

Kedua, tentang aspirin yang mempunyai banyak nama dagang, antara lain ascardia, aspilets, bodrexin, cafenol, ceto, farmasal, inzana, minigrip dan lain-lain. Harga aspirin relatif murah. Ada yang dikemas dalam dosis 500 mg setiap tablet, atau 80 mg setiap tablet, yaitu yang biasa dipakai untuk obat penurun panas pada anak (ascardia, aspilets, bodrexin dll).  Aspirin memang obat penghilang sakit kepala dan juga obat penurun panas. Namun aspirin juga mempunyai manfaat lain, antara lain dapat mencegah pembekuan darah melalui efek menekan fungsi trombosit.

Untuk diketahui, stroke dan penyakit jantung sebenarnya mempunyai persamaan walaupun organ tubuh yang terkena berbeda, yaitu otak dan jantung. Persamaannya adalah pada mekanisme kejadiannya. Sebagian besar serangan stroke dan serangan jantung (infark jantung), diakibatkan oleh proses tersumbatnya pembuluh darah, atau disebut juga trombosis. Trombosit mempunyai peran penting dalam kejadian timbulnya bekuan darah di dalam pembuluh darah yang disebut trombosis tersebut. Bila daya lekat trombosit ditekan  dengan minum aspirin maka kejadian trombosis dapat dicegah.

Banyak penelitian yang telah membuktikan aspirin dapat mencegah kejadian stroke dan infark jantung. Para ahli merekomendasikan minum aspirin untuk pasien yang pernah mengalami stroke, mini stroke atau TIA (transient ischaemic attack) infark jantung, atau angina pektoris yang tidak stabil (unstable angina). TIA atau mini-stroke adalah bila gejala stroke menghilang dalam waktu kurang dari satu jam.  Perkembangan masalah thrombosis ini begitu pesat, sehingga Bagian Penyakit Dalam  FKUI-RSCM sekarang menyelenggarakan Pusat Unggulan Thrombosis dan Hemostasis  untuk melakukan penelitian, kajian dan layanan masyarakat.

Dalam kasus di atas, dokter yang mengobati sudah mengambil keputusan yang tepat sekali dengan memberikan aspirin setengah tablet atau 250 mg setiap hari. Aspirin perlu diminum untuk jangka panjang. Dosis aspirin untuk mencegah stroke memang lebih kecil (160-300 mg sehari) dibandingkan dosis penghilang sakit kepala atau penurun panas pada orang dewasa, yaitu 500 mg 3 sampai 4 kali sehari.

Efek samping

Namun demikian karena aspirin juga dapat menyebabkan efek samping pada beberapa orang tertentu, sebaiknya keputusan untuk minum aspirin diambil setelah konsultasi dengan dokter. Faktor-faktor penting yang dipertimbangkan dokter antara lain ada tidaknya tukak lambung, perdarahan usus, ambeien yang berdarah, alergi aspirin, peminum alkohol dan kondisi liver dan ginjal pasien. Aspirin juga tidak boleh diberikan pada stroke yang jenis perdarahan. Untuk diketahui, sebagian kecil stroke bukan karena sumbatan pembuluh darah otak (stroke iskemik), tetapi disebabkan oleh perdarahan di otak.

Terkait efek samping ini, sebuah penelitian yang dilansir dalam jurnal The Lancet baru-baru ini menyimpulkan bahwa seraya berguna mencegah serangan jantung dan stroke, mereka yang berusia di atas 75 tahun dan secara rutin minum aspirin berisiko mengalami pendarahan yang bisa berakibat fatal. Data ini tidak bisa dianggap ringan karena – berdasarkan survey-survey terdahulu – antara 40-60 persen kelompok lanjut usia 75 tahun ke atas mengonsumsi aspirin dan obat antipembekuan darah lainnya atas saran dokter untuk mencegah serangan jantung dan stroke. Namun ternyata data yang dipakai sebagai dasar untuk saran tersebut adalah uji klinis yang dilakukan pada kelompok usia di bawah 75 tahun di Eropa dan Amerika, dan subyek hanya dipantau selama beberapa tahun saja. Riset terbaru menunjukkan kaitan antara pemberian obat antipembekuan dengan pendarahan di saluran pencernaan bagian atas.

Studi ini melibatkan 3.166 subyek di Inggris yang pernah mengalami stroke atau serangan jantung dan mendapatkan resep obat antipembekuan darah, yang sebagian besar adalah aspirin. Setengah dari peserta penelitian telah berusia 75 tahun atau lebih tua pada saat penelitian dimulai. Selama kurun waktu 10 tahun penelitian, 314 pasien harus dirawat inap karena mengalami perdarahan. Data yang muncul menunjukkan dari kelompok yang berusia di bawah 65 tahun, yang dirawat karena perdarahan adalah sebanyak 1.5 persen. Di antara mereka yang berusia 75-84 tahun reratanya meningkat menjadi 3.5 persen, sementara di antara mereka yang usianya di atas 85 tahun reratanya menjadi 5 persen.

Selain risiko yang bertambah, tingkat keparahannya pun bertambah. Dari kelompok berusia di bawah 65 tahun risiko mengalami perdarahan fatal akibat aspirin dan sejenisnya  adalah 0.5 persen, sementara di kelompok 75-84 tahun sebanyak 1,5 persen, dan pada kelompok yang lebih tua (di atas 85 tahun) adalah 2,5 persen.

Namun sangat penting dicatat bahwa menghentikan pengobatan secara tiba-tiba, termasuk dalam hal ini aspiran, akan mengundang sejumlah risiko lainnya. Karena itu para peneliti menganjurkan pasie untuk berkonsultasi dengan dokter sekiranya diperlukan perubahan regimen pengobatan.

Mengatasi efek samping aspirin

Kelompok peneliti dari Universitas Oxford menyimpulkan, untuk mengurangi risiko dokter bisa meresepkan juga obat-obatan dari kelompok proton-pump inhibitors (obat antinyeri lambung) guna mengurangi perdarahan di lambung hingga 70-90 persen pada pasien yang menerima pengobatan antipenggumpalan darah dalam jangka panjang. Dikatakan oleh Profesor Peter Rothwell yang memimpin tim peneliti, memang ada bukti bahwa penggunaan PPI dalam jangka panjang memang memiliki risiko. Akan tetapi mengingat risiko perdarahan pada kelompok usia tertinggi cukup tinggi, manfaat pemberian PPI melampaui risiko yang ada.  

Tapi tidak semua ahli sependapat. Evelina Grayver, MD, direktur unit perawatan jantung dari Universitas North Shore di Manhasset, New York, mengingatkan bahwa sifat PPI mengubah kadar keasaman dalam dinding perut dan karena itu berpengaruh terhadap penyerapan beberapa jenis obat termasuk aspirin. Karenanya pemberian PPI juga harus dilakukan berdasarkan anamnesa yang hati-hati. Jika memang pasien tidak memiliki riwayat gastritis atau perdarahan, mungkin mereka tidak membutuhkan PPI sama sekali. Pertimbangan dan anamnesa ini diperlukan untuk memastikan manfaat aspirin bagi pasien dengan risiko stroke dan serangan jantung.

Semoga bermanfaat.