New hope_lupus

Lupus, Penyakit Seribu Wajah (bagian 2)

Tata Laksana Penyakit Lupus Sistemik (SLE)

Untuk tata laksana pasien SLE yang terpenting tentu diagnosis SLE harus ditegakkan sesuai dengan kriteria standar, yaitu kriteria internasional yang terbaru. Setelah itu baru dilanjutkan dengan pengobatan. Yang tak kalah pentingnya adalah membantu pasien lupus sistemik mendapatkan akses pengobatan. Sejak Januari 2014, sewaktu BPJS SKN diberlakukan, banyak sekali odapus yang mampu mendapatkan pengobatan yang optimal. Dengan mempunyai kartu BPJS, odapus tidak perlu lagi membayar pemeriksaan laboratorium, gratis biaya konsultasi dokter, dan juga tidak perlu membayar sewaktu perlu rawat inap, serta sebagian obat.

Tata laksana berikutnya adalah membantu odapus tetap berobat secara teratur, berkala sesuai kondisi kesehatannya. Cukup banyak odapus yang putus obat karena merasa sudah sembuh, padahal bila obat steroid (prednison, metilprednisolon, deksametason) dihentikan, seringkali penyakit lupunya kambuh (flare up) dan bila terlambat bisa terjadi kerusakan organ tubuh, sendi, ginjal, otak dan darah misalnya.

Berikut adalah beberapa jenis obat yang paling sering digunakan dalam pengobatan SLE:

KORTIKOSTEROID. Obat yang paling sering digunakan untuk mengobati lupus adalah obat-obat golongan obat steroid, misalnya metilprenisolon, prednison atau deksametason. Dosis awal 1-2 mg per kg berat badan, jadi misalnya berat badan 60 kg, ya mulai dengan 60 sampai 120 mg setiap hari selama 7 sampai 30 hari, kemudian secara bertahap dosis diturunkan, misalnya menjadi 52 mg setiap hari, kemudian (setelah 8 hari misalnya) dosis menjadi 42 mg setiap hari dan seterusnya sampai mencapai dosis maintenance, yaitu dosis terendah yang masih mampu mengontrol aktivitas penyakit lupus.

Dosis maintenance atau disebut juga dosis pemeliharaan, biasanya berkisar antara 4 mg sampai 12 mg setiap hari, diminum sekaligus (single dose) setiap pagi. Bila memerlukan dosis pemeliharaan 12 mg atau lebih, sebaiknya dikombinasikan dengan obat lupus yang kedua, misalnya MTX (methotrexate). Boleh juga metilprednisolon kombinasi dengan Cellcept atau Myfortic, bila ditemukan bocor ginjal (proteinuria) yang berat.

STEROID bekerja mengurangi pembengkakan, nyeri dan panas akibat inflamasi, melalui pengurangan respon imun. Preparat injeksi intravena kadang diperlukan untuk mengatasi kekambuhan akut.  Untuk pemberian per oral biasanya dimulai dosis tinggi 1-2 mg/kg BB, kemudian secara bertahap dikurangi sampai dosis maintenance, atau dosis terendah yang masih bermanfaat untuk mengontrol penyakit lupus.

Setelah 1-2 bulan pengobatan, biasanya pasien mengalami perbaikan dan merasa lebih fit serta lebih sehat. Penyakit lupusnya terkontrol. Pada tahap ini pasien perlu menyadari bahwa penyakitnya dapat kambuh bila obat dihentikan mendadak, atau bila odapus kecapaian, atau bila terpapar matahari, apalagi bila berjemur di pantai.  Jadi sangat perlu untuk menjaga agar tetap berobat teratur walaupun merasa sehat dan dokter menyatakan penyakit lupusnya terkontrol baik. Ada yang tetap harus berobat dua bulan sekali, paling lambat 3 bulan sekali harus ke dokter, setelah lupusnya dinyatakan terkontrol baik.

Selain golongan steroid obat obat lain yang mungkin dipelukan odapus antara lain:

  • MTX, methotrexate, yang seringkali diperlukan pada lupus yang gejala menonjolnya adalah nyeri sendi.
  • SIKLOFOSFAMID (ENDOXAN), diperlukan untuk odapus dengan komplikasi ginjal yang berat, misalnya ditemukan klas III atau IV pada biopsi ginjal. Untuk diketahui, semua odapus yang mengalami kebocoran ginjal (proteinuria), memerlukan biopsi ginjal, apakah ia termasuk lupus ginjal yang berat yang memerlukan infus endoxan sebulan sekali untuk 7 kali berturut-turut. Atau lupus ginjal yang cukup diobati dengan steroid saja.
  • IMURAN atau azathioprine seringkali diperlukan untuk pasien lupus ginjal, setelah selesai mendapat infus endoxan (siklofosfamid) tujuh kali, dengan interval sebulan.
  • CELLCEPT atau MYFORTIC (mycophenolate sodium) adalah termasuk obat golongan imuno-supresan, menekan respon imun. Obat ini aktif dalam bentuk mycophenolic acid. Mycophenolate menghambat  inosine mono phosphate dehydrogenase, yg diperlukan untuk produksi  limfosit T dan limfosit B. Kombinasi dengan obat kortikosteroid bermanfaat untuk mengobati lupus ginjal. Tata laksana lupus ginjal (lupus nephritis) mensyaratkan biopsi ginjal untuk menentulan kelas dari lupus ginjal, agar dapat menentukan pengobatan yang tepat.
  • Termasuk dalam obat golongan imunosupresan adalah azathioprime (Imuran), siklofoafamid (Endoxan), Cyclophosphamide, methotrexate.

Selain itu, obat-obatan yang sering dipakai odapus untuk mengatasi keluhan-keluhannya antara lain:

  • ASPIRIN: mengurangi rasa nyeri, anti peradangan. Namun ada yang lambungnya tidak tahan aspirin.
  • ACETAMINOPHEN: mengurangi nyeri. parasetamol, panadol, dumin. Tidak mengurangi reaksi inflamasi.
  • NSAIDs: Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs, yang berfungsi menekan reaksi inflamasi dan khususnya bermanfaat mengurangi nyeri dan kaku sendi. Contoh: ibuprofen, naproxen.
  • OBAT MALARIA: terbukti bermanfaat untuk pengobatan penyakit lupus, mencegah kambuh, mengurangi kerusakan organ tubuh dan sekarang terbukti mengurangi angka kematian. Ini adalah hasil penelitian Grupo Latino Americano de Estudio de Lupus yang melibatkan 480 orang denganh lupus. Pada penelitian tersebut didapatkan angka kematian 11.5% untuk yg tidak minum obat malaria,  dibandingkan 4.4% yang mengkonsumsi obat antimalaria.
  • Odapus kadang memerlukan obat anti pembekuan. Misalnya pada pasien dengan DVT (deep vein thrombophlebitis) atau bekuan di pembuluh balik (vena)  yang sering ditemukan di betis, atau pasien dengan APS (antiphospholipid syndrome) dengan gejala  sakit kepala, keguguran berulang yang memerlukan pengobatan dengan injeksi heparin melalui infus, yang dilanjutkan dengan tablet warfarin (simarc) ataupun simarc tambah aspirin. Pemberian warfarin perlu pemantauan INR (International Normalized Ratio) atau waktu pembekuan darah secara berkala.
  • Antibodi monoklonal, bekerja terhadap CD20 yang ada di limfosit B. Obat ini sudah lama dipakai untuk pengobatan kanker kelenjar getah bening. Walaupun ada laporan beberapa pasien lupus membaik dengan rituximab, namun belum didukung bukti kuat yang berdasarkan penelitian, kecuali untuk lupus sistemik yang disertai gejala trombosit amat rendah, yang tidak responsif dengan pengobatan, steroid, immunoglobulin intravena dan ada kontra indikasi untuk splenektomi.
  • BELIMUMAB (Benlysta). Antibodi monoklonal Belimumab ini telah disetujui FDA untuk pengobatan lupus. Obat ini bermanfaat pada sekitar 30% odapus dan  kurang bermanfaat untuk  masyarakat African Americans. Belimumab belum terbukti untuk pengobatan lupus ginjal

Melihat keluarannya, bisa disimpulkan bahwa lupus sudah ada obatnya. Meskipun penyakit lupus sendiri amat heterogen dari segi gejala, terapi dan prognosis (perjalanan penyakitnya), namun sebagian besar keluhan pasien lupus sudah dapat diatasi. Hanya saja disiplin memegang kunci bagi keberhasilan tata laksana lupus karena pengobatan yang bersifat jangka panjang. Akan tetapi ini akan sebanding dengan hasilnya. Dewasa ini angka kematian akibat penyakit lupus cenderung terus menurun, pasien lupus boleh hamil dan bahkan sebagian besar dari odapus juga mempunyai anak, dan, kecuali sangat sedikit, lupus juga bukan penyakit menurun apalagi menular.

Kerjasama yang baik antara pasien, dokter, dan keluarga sangat menentukan keberhasilan pengobatan.