ilustration

Tes Kesehatan untuk Calon Pejabat Negara

 Akhirnya Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo memberhentikan Ahmad Wazir Nofiadi Mawardi sebagai Bupati Ogan Ilir, Sumatera Selatan, setelah yang bersangkutan ditetapkan tersangka oleh Badan Narkotika Nasional, BNN. Menteri Tjahjo mengatakan, untuk tersangka korupsi pengadilan dibutuhkan untuk membuktikan kesalahan seseorang. Namun untuk kasus narkoba pembuktian seseorang menggunakan narkoba sudah cukup melalui tes urin, darah dan rambut oleh BNN. “Apalagi diperkuat pengguna tertangkap tangan saat memakai narkoba dan pengamatan serta penyelidikan yang telah dilakukan BNN. Dengan demikian tidak perlu lagi ada status pemberhentikan sementara bagi kepala daerah untuk kasus seperti Nofiadi. Langsung diberhentikan.” (Kompas, Minggu 20 Maret 2016, hal. 2).

Masih di berita yang sama, pengajar Fakultas Hukum Universitas Parahyangan, Asep Warlan Yusuf mengatakan bahwa narkoba termasuk dalam lima kejahatan serius yang sangat merugikan publik selain korupsi, pelanggaran hak asasi manusia berat, terorisme dan lingkungan hidup. Jadi sanksi yang berat harus dijatuhkan kepada pelakunya. Itu yang terjadi dengan Nofiadi, yang tertangkap ketika ia baru beberapa bulan lalu dilantik sebagai pejabat publik, menjadi pemimpin nomor satu di kabupaten berpenduduk sekitar 450 ribu jiwa (data 2013). Nofiadi memberikan contoh yang sangat buruk, alih-alih menjadi teladan bagi warganya.

Pertanyaan yang berkembang menjadi kemarahan masyarakat adalah: bagaimana mungkin seseorang dengan cacat moral seperti itu terpilih menjadi kepala daerah tingkat II? Sebuah jabatan politik yang termasuk sangat tinggi dan elit di negara ini? Kemudian ada yang mulai mempersoalkan tes kesehatan yang dilalui tersangka Nofiadi. Seberapa serius tes tersebut dilakukan, seberapa independen tim dokter yang melakukannya, dan seberapa canggih instrumen yang digunakan dalam pemeriksaaan kesehatan tersebut?

Artikel ini ditulis untuk berbagi pengalaman. Kebetulan pada 2009 dan 2014 lalu penulis dipercaya sebagai Ketua Tim Penilai Kesehatan Bakal Calon Presiden dan Wakil Presiden RI. Sebuah tugas yang melibatkan kerjasama kuat dalam sebuah tim medis multidisiplin. Spesialis penyakit dalam termasuk subspesialis jantung dan pembuluh darah, bedah, neurologi, kandungan (untuk bakal calon perempuan), mata, THT, dan juga psikiatri.

Untuk dicatat, seorang calon presiden dan wakilnya, dan juga calon kepala daerah tingkat I dan II, tidak harus bebas dari penyakit. Namun demikian perlu dipastikan bahwa selama masa tugasnya beberapa tahun ke depan, secara fisik dan mental yang bersangkutan memiliki kemampuan menjalankan tugasnya sehari-hari dan bebas dari disabilitas. Dengan kata lain yang bersangkutan tidak memiliki penyakit yang berpotensi menghilangkan kemampuannya beraktivitas selama ia menjabat.

Pemeriksaan kesehatan fisik meliputi pemeriksaan kondisi internal calon, termasuk kondisi jantung, pembukuh darah, paru, urologi, ortopedi, saraf, mata, telinga, hidung dan tenggorokan. Pemeriksaan penunjang terdiri atas tes ultrasonografi abdomen, kardio, treadmill test, rontgen, tes dengan spirometer, audiometer, MRI, hingga CT scan. Kemudian ditambah dengan pemeriksaan laboratorium meliputi tes darah dan urine yang terdiri dari hematologi, tes faal, ginjal, dan mencari ada atau tidaknya indikasi tumor.

Tes Psikiatri

Selain rangkaian tes fisik yang harus dijalani, pasangan calon pemimpin juga harus menjalani tes psikiatri untuk melihat profil kepribadian dengan menggunakan satu set instrumen yang bernama Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI). Instrumen MMPI ini adalah instrumen yang paling sering dipakai di seluruh dunia untuk mengukur kepribadian sebagai bagian dari kesehatan mental. Karena kompleksitasnya, tes ini hanya dapat dilakukan oleh profesional terlatih yang memiliki kemampuan mengidentifikasi struktur kepribadian dan kecenderungan psikopatologi dalam diri seseorang. Karena itu, penulis berpendapat bahwa pemeriksaan sebaiknya dilakukan di institusi kesehatan di tingkat provinsi setidaknya, mengingat masih kurangnya tenaga ahli di bidang ini di institusi kesehatan tingkat kabupaten.

Sejarah. Tes MMPI disusun pertama kali oleh Starke R. Hathaway, PhD, dan J.C. McKinley, MD, pada akhir tahun 1930-an. Keduanya adalah staf pada University of Minnesota dan karena itu hak cipta instrumen ini ada pada universitas tersebut, seperti diabadikan oleh namanya. Pada awalnya dulu, sebelum datang era komputer, penilaian jawaban dilakukan secara manual dengan mencocokkannya dengan lembar jawaban yang sudah disiapkan. Namun sekarang tentu saja semuanya sudah dilakukan dengan komputer, sehingga instrumen ini secara formal dinamai MMPI-2. Lisensi program yang dipakai juga masih di tangan yang sama, tepatnya di University of Minnesota Press.

MMPI 1. Tapi perbedaan antara versi pertama dan versi kedua tidak hanya terletak di soal komputerisasi. MPPI awal masih menggunakan empirical keying approach, yang merujuk pada tes perkembangan mental dan menekankan pada perbedaan antara kelompok orang yang dianggap normal, dan kelompok lain yang dianggap memiliki diagnosa berbeda alias menunjukkan jejak patologis tertentu. Perbedaan antara tes ini dengan tes perkembangan mental lainnya yang ada pada waktu itu adalah MMPI bersifat ateoretik (tidak berdasarkan teori tertentu), sehingga hasilnya tidak bisa dinisbahkan kepada teori-teori psikodinamika yang sudah berkembang pada waktu itu. Pendekatan ateoretik ini sengaja diterapkan untuk menangkap aspek psikopatologis yang menonjol di luar perubahan-perubahan kejiwaan yang sudah ditengarai sebelumnya dalam teori psikologis klinis masa itu. Akan tetapi karena ukuran yang dipakai masih didasarkan pada ciri psikopatologi yang sudah diketahui, maka sebenarnya pendekatan ini tidak sepenuhnya ateoretik.

Pada awalnya, Hathaway dan McKinly menggabungkan 1000 item yang mereka ambil dari berbagai sumber termasuk sejarah kasus, laporan psikologis dan jenis-jenis tes yang sudah ada. Dari situ mereka memilih 504 item yang dinilai independen satu sama lain. Skala ditentukan secara empiris dengan memberikan item kepada kelompok kriteria dan kelompok kontrol. Kelompok kriteria yang digunakan untuk mengembangkan instrumen MMPI adalah pasien psikiatri di University of Minnesota Hospital.

Pasien-pasien psikiatri tersebut dibagi ke dalam delapan kelompok berdasarkan diagnosis kejiwaannya, yakni (1) hipokondriasis atau keterpakuan pada ketakutan menderita suatu penyakit padahal sebenarnya tidak; (2) pasien depresi; (3) histeria, yakni kondisi ketika seseorang menunjukkan adanya masalah fisik tapi tanpa diketahui penyebabnya; (4) psikopati, yakni individu yang menunjukkan kecenderungan kriminal dan antisosial; (5) paranoid, yakni individu yang menunjukkan gejala terkena waham; (6) psikoastenik, yakni individu dengan gangguan yang dicirikan oleh penyangkalan berlebihan atau ketakutan yang tidak rasional; (7) skizofrenia, atau inidvidu yang mengalami gangguan psikotik seperti halusinasi dan masalah pemikiran atau penalaran yang tidak logis; dan (8) hipomania, yaitu individu yang mengalami gangguan yang dicirikan oleh hiperaktivitas dan mudah marah.

MMPI-2. Revisi pertama atas MMPI versi awal, disebut juga MMPI-2, standar diagnosanya ditetapkan berdasarkan jumlah sample baru orang dewasa yang diambil secara nasional di Amerika dan dirilis pada tahun 1989. Orang dewasa yang dimaksud adalah mereka yang berusia minimal 18 tahun. Selanjutnya revisi demi revisi dilakukan bagian per bagian, untuk memudahkan klinisi melakukan interpretasi data. MPPI-2 saat ini memiliki 567 item pertanyan berupa pernyataan – jauh lebih ringkas dari versi MMPI awal – yang harus direspon oleh klien, dengan format pertanyaan benar-salah. Umumnya memerlukan 1-2 jam untuk menyelesaikannya, tergantung pada kecakapan membaca seseorang. Namun untuk kondisi tertentu, misalnya karena klien dalam kondisi sakit atau tim pemeriksa tidak punya waktu cukup, MMPI-2 memiliki versi yang lebih pendek, hanya terdiri dari 370 item pertanyaan.

MMPI-A. Selain untuk klien dewasa, ada versi lain instrumen MPPI juga dirancang untuk klien remaja, yakni MMPI-A(dolescent). MMPI-A ini dirilis pada 1992 dan memiliki 478 item pertanyaan. Sementara versi ringkasnya terdiri dari 350 item pertanyaan.

MMPI-2 RF, adalah versi MMPI-2 yang lebih disempurnakan lagi dengan memanfaatkan metode statistik yang sangat kompleks untuk mengembangkan skala rating klinis yang baru (Restructured Clinical/RC Scales). Versi ini dirilis pada 2003 dan disebut MMPI-2 Restructured Form (RF).

Skala Validitas

Sudah disebutkan di atas bahwa untuk menginterpretasikan secara valid MMPI diperlukan keahlian tinggi. Dalam MMPI-2 dan MMPI-2 RF dikenal pengelompokan skala validitas, yakni:

  • Ukuran untuk mendeteksi respon yang inkonsisten, yakni skala CNS (“Cannot Say”), VRIN (“Variable Response Inconsistency”), dan TRIN (“True Response Inconsistency”);
  • Ukuran untuk mendeteksi apakah seorang klien melebih-lebihkan prevalensi kejadian atau tingkat keparahan gejala psikologis yang dialaminya, yang terdiri dari skala F (“Infrequency”), Fb (“Faking bad”), Fp (“Faking psychopathology”), FBS (“Fake Bad Scale”); dan
  • Ukuran untuk mendeteksi apakah klien sengaja menutupi atau menekan gejala-gejala psikologis tertentu, yang terdiri dari skala L (“Lie”), K (defensive atau pengingkaran), dan S (“Superlative Self-Presentation”).

Secara mudah ada 7 skala validitas yang digunakan dalam MMPI-2, yakni:

  1. Skala ?: Disebut juga sebagai skala tidak tahu adalah sejumlah pernyataan yang dibiarkan kosong. Jika ada 30 atau lebih butir pernyataan yang tidak dijawab maka hasilnya dianggap tidak valid dan tidak bisa diinterpretasi, sehingga harus dikembalikan kepada klien untuk diisi lagi. Jika hanya kurang dari 10 butir pernyataan yang tidak diisi, maka dibiarkan saja karena tidak mempengaruhi hasil. Seseorang yang banyak tidak mengisi butir pernyataan, biasanya tergolong orang yang tidak kooperatif, kurang dapat mengambil keputusan karena ragu-ragu, terlalu berintelektualisasi, dan terkadang memiliki ciri-ciri obsesif.
  1. Skala L (Lie Scale): Terdiri dari 15 pertanyaan, awalnya skala ini dibuat untuk mendeteksi kekurangan-kekurangan kecil yang ada pada setiap orang. Skor yang tinggi berarti bahwa klien berusaha menampakkan diri sebaik mungkin di hadapan orang lain, menyembunyikan hal-hal yang kurang baik tentang dirinya, sehingga dia mengisi MMPI dengan tidak secara jujur atau banyak berbohong. Sebaliknya, orang yang mendapat skor rendah termasuk orang yang tegang, kurang mawas diri, dan berpendirian agak kaku.
  1. Skala F (Infrequency): skala ini terdiri dari 64 pernyataan dan jarang sekali dijawab sesuai dengan arah skoringnya. Jika skornya tinggi maka kebenaran tes kurang dapat dipercayai. Sebaliknya, bila terdapat skor yang rendah pada skala ini, maka subjek mengerti benar apa yang ditanyakan dan mengisi tes sesuai instruksi. Individu dengan skor yang rendah biasanya tergolong orang yang konvensional, dapat diandalkan dan mempunyai minat-minat terbatas.
  1. Skala K: skala yang terdiri dari 30 butir pernyataan untuk mengukur sikap subjek terhadap tes. Skor tinggi subjek berarti subjek bersikap defensif, serta tidak mau mengakui kekurangan atau kelemahan psikologisnya. Skor yang sedang berarti subjek memiliki kekuatan ego yang baik, dapat menyesuaikan diri dengan keadaan dan memiliki kemampuan adaptif yang baik. Sementara skor rendah berarti subjek terlalu terbuka, terlalu kritis terhadap dirinya, kurang puas dengan kedaannya, serta bersedia mengakui gangguan dan gejala-gejalanya.

Selain itu tiga skala berikut ini adalah skala tambahan untuk menguji secara lebih teliti validitas keempat skala tersebut.

  1. Skala Fb: terdiri dari 40 pertanyaan yang sebetulnya analog dengan Skala F hanya penempatannya di bagian kedua dari tes MMPI. Nilai Fb yang tinggi boleh jadi menunjukkan klien tidak lagi memberikan perhatian penuh kepada pernyataan, dan memberikan pola respon yang lebih random.
  1. Skala VRIN: ini adalah indikator validitas tambahan yang terdiri dari 67 pasang pernyataan yang serupa atau berlawanan. Jika klien menjawab secara inkonsisten terhadap pernyataan yang diberikan, satu poin ditambahkan kepada skala ini. Jika hasilnya sama dengan atau lebih besar dari 13, ada kemungkinan hasil tesnya tidak valid. Meski demikian, skala ini masih terus dikembangkan dan diuji.
  1. Skala TRIN: sama seperti skala VRIN, skala ini pun masih bersifat eksperimental. Terdiri dari 23 pasang pernyataan yang saling berlawanan. Dua respon “benar” atau dua respon “salah” pada beberapa pasang pernyataan akan menunjukkan adanya inkonsistensi yang bisa mengurangi validitas tes.

Skala Klinis

Selain skala validitas, skala klinis juga sangat penting untuk menganalisa gambaran psikiatris klien. Analisa dilakukan untuk melihat ada-tidaknya faktor-faktor yang mencuat yang berbeda dari kelompok “normal” yang diamati. Skala klinis dimulai dari 1 – 0, dan secara garis besar, menurut sumber Wikipedia, diartikan sebagai berikut:

  • Skala 1: skala yang terdiri dari 33 pernyataan dan menggambarkan dimensi gangguan fisik dan fungsi tubuh. Skor tinggi berarti subjek terlalu memperhatikan kesehatan tubuhnya dan merasakan keluhan-keluhan somatik lebih dari yang biasa. Skor rendah berarti subjek memiliki energi yang penuh, ambisius, tidak memiliki hambatan-hambatan, dan tidak menghiraukan keluhan fisik.
  • Skala 2: skala yang terdiri dari 60 butir pernyataan yang menggambarkan dimensi depresi. Skor tinggi berarti individu mengalami depresi, suka memikirkan sesuatu dengan perasaan cemas dan pesimistik. Skor sedang berarti subjek bereaksi baik terhadap psikoterapi. Skor rendah berarti subjek mempunyai pandangan hidup yang optimistik, gembira, spontan dan kurang mengalami hambatan.
  • Skala 3: skala yang terdiri dari 60 pernyataan yang menggambarkan konversi. Skor tinggi menunjukkan adanya ketidakmatangan, represi yang bersifat histeris, mudah terpengaruh oleh sugesti-sugesti dan mudah bereaksi secara emosional. Skor rendah berarti subjek kurang spontan dan seorang yang kurang senang berpatisipasi dengan orang-orang lain.
  • Skala 4: skala yang terdiri dari 50 pernyataan dan menggambarkan kemmanfaat dari pengalaman, dan bereaksi terhadap nilai-nilai sosial. Skor tinggi berarti subjek adalah impulsif, kurang mampu memberikan reaksi emosional yang mendalam, dan marah terhadap orang lain. Skor sedang berarti subjek adalah orang yang suka berpetualangan, suka bergaul dan suka berbicara banyak. Skor rendah berarti subjek adalah seorang yang penurut dan tidak banyak tingkah lakunya.
  • Skala 5: skala yang terdiri dari 60 pernyataan untuk wanita dan 60 pernyataan untuk pria serta menggambarkan minat dan perhatian terhadap orang yang tidak sejenis. Skor tinggi pada pria berarti dia termasuk orang yang sensitif, memiliki minat dan kesenangan yang bersifat feminin. Skor tinggi pada wanita berarti dia termasuk orang yang kompetitif, agresif, maskulin dan aktif. Skor rendah pada pria berarti dia suka berpetualang, lebih suka bersikap dan bertindak aktif. Pada wanita, skor rendah berarti minat yang bersifat sangat feminin, pasif dan bersedia menerima tugas-tugas yang berat.
  • Skala 6: skala yang terdiri dari 40 butir pernyataan dan mengambarkan dimensi kecurigaan, merasa dikejar dan gejala paranoid. Skor tinggi pada skala ini berarti subjek mempunyai sifat sangat curiga yang besar, disertai dengan kurangnya perhatian terhadap lingkungannya, kurang ada kontak sosial dan keras kepala.
  • Skala 7: skala yang terdiri dari 48 pernyataan dan menggambarkan sindrom neurotik, seperti fobia, obsesi dan kompulsif. Skor tinggi berarti subjek mengalami kecemasan, berpendirian kaku, sangat ragu-ragu, dan memiliki kepercayaan diri kurang. Skor rendah berarti subjek dapat berpikir teratur dan baik, realistik dan dapat menggunakan kemampuan-kemampuannya dengan lancar dan mudah.
  • Skala 8: skala yang terdiri dari 78 pernyataan dan menggambarkan dimensi psikopatologi pikiran aneh serta tingkah laku yang banyak kaitannya dengan skizofrenia. Skor tinggi berarti subjek kurang suka bergaul, suka menarik diri dari lingkungannya, melakukan hal-hal yang berada di luar norma-norma masyarakat. Skor rendah berarti subjek merupakan orang yang konvensional, terkontrol, dan memiliki ciri-ciri orang penurut.
  • Skala 9: skala yang terdiri dari 49 pernyataan dan menggambarkan dimensi hipomania, emosionalitas, impulsivitas, pikiran-pikiran dan aktivitas-aktivitas yang berlebihan. Skor tinggi berarti subjek mempunyai tingkat energi yang tinggi, kurang tenang, gelisah, tidak sabar dan hiperaktif. Skor tinggi sekali berarti subjek menderita gangguan bipolar tipe manik. Skor rendah berarti subjek mempunyai tingkat energi yang rendah, tidak kompetitif, dan kurang percaya diri.
  • Skala 0: skala yang terdiri dari 70 pernyataan dan menggambarkan dimensi minat untuk berpatisipasi secara sosial. Skor tinggi berarti subjek adalah pemalu, kurang pandai bergaul dengan orang lain, sensitif dan lebih suka menyendiri. Skor rendah berarti subjek suka bergaul, ramah, dan banyak mengadakan hubungan interaktif dengan orang lain.

Penutup: Kesesuaian MMPI dengan Budaya

Salah satu kontroversi yang kerap dan masih terus mengemuka terhadap instrumen MMPI ini adalah bias budaya. Banyak ahli psikologi dan psikiatri yang meragukan kesesuaian instrumen ini jika digunakan untuk mengukur kondisi mental seseorang yang berasal dari budaya yang berbeda dari penemu dan penyempurna metode ini. Bahkan di Amerika sendiri, negara di mana MMPI “dilahirkan”, ada kecenderungan berbeda jika yang menjalani tes adalah warga keturunan Afrika. Penelitian yang dilakukan di kalangan tahanan, pasien di rumah sakit, pasien psikiatri, serta pelajar dan mahasiswa menunjukkan kelompok Afro-Amerika cenderung mendapatkan nilai lebih tinggi dibanding warga kulit putih (WASP) dalam skala L, F dan S yang mengasosiasikan kelompok Afro-Amerika dengan kerentanan psikopatologis. Para kritikus meyakini bahwa ras bukan faktor yang membedakan hasil tes, melainkn kondisi sosial-ekonomi yang harus diakui masih besar jaraknya di antara dua kelompok berbeda warna kulit tersebut.

Bagaimana dengan negara-negara lain yang mengadopsi MMPI? Yang jelas, MMPI bukanlah sebuah instrumen yang final apalagi universal. Sejauh ini menurut University of Minnesota Press yang memegang hak cipta MMPI, instrumen ini sudah diterjemahkan ke dalam 22 bahasa, beberapa di antaranya adalah bahasa-bahasa Asia, termasuk bahasa Indonesia.

Terlepas dari semua kritik membangun yang ada, MMPI di Indonesia dianggap sebagai alat resmi untuk mendiagnosa psikodinamika seseorang. Untuk diketahui, instrumen ini selain untuk mengetahui kapasitas psikiatris seseorang yang akan memegang posisi eksekutif penting di masyarakat (presiden hingga bupati), juga digunakan untuk kepada polisi, tentara, pilot, pemadam kebakaran, dan posisi lain yang sangat memerlukan kesehatan jiwa. Tapi selain itu MMPI juga digunakan untuk perencanaan perawatan dan pengobatan pasien, dan evaluasi kesehatan mental tersangka suatu kasus atau sebagai alat forensik kesehatan mental.

Dengan kata lain, bukan hanya dari kalangan medis, tapi kalangan peneliti ilmu sosial pun sebenarnya membutuhkan instrumen ini. Misalnya seorang kriminolog. Tapi yang lebih penting dari itu, kita tentu tidak ingin kasus Nofiadi terulang lagi, di tengah upaya keras dan sungguh-sungguh kita memerangi narkoba yang sudah menjerat terlalu banyak warga negara, dan satu dari lima masalah sosial paling serius yang dihadapi oleh bangsa ini.

Semoga bermanfaat.