Tiga Upaya Besar Dalam Penanggulangan Tuberkulosis

Masalah terbesar dalam penanganan penyakit tuberkulosis adalah putus obat. Penyebab paling sering adalah masalah biomedis, yang meliputi (1) efek samping yang kadang hebat pada beberapa pasien (seperti mual, kembung, air seni berwarna merah, hingga gangguan pada fungsi liver), dan (2) karena pasien sudah merasa sehat sehingga malas meneruskan minum obat.

Kedua, seperti penyakit lainnya yang membutuhkan tata laksana ketat semisal HIV, masalah perilaku adalah hal yang sangat penting. Tidak hanya perilaku pasien dan keluarganya yang harus diintervensi untuk tetap melanjutkan minum obat meski sudah merasa sehat, tetapi perilaku dokter juga penting diperhatikan. Maksudnya, begitu diagnosa ditegakkan dan obat akan diberikan dokter harus yakin benar bahwa pasien betul-betul mengerti cara minum obat yang benar dan jangka waktu yang dibutuhkan untuk benar-benar bebas dari baksil TB: 6 bulan (untuk infeksi TB saja), dan 12 bulan (untuk koinfeksi TB-HIV). Jika pasien juga mengidap HIV, dokter harus memastikan bahwa pasien mengerti obat ARV harus diminum seumur hidup.

Selain penyuluhan efektif dan metode DOTS (Directly Observed Treatment, Short-Course) yang sudah lazim dikenal, dokter juga harus memastikan pasien mengerti adanya berbagai efek samping serta cara-cara membantu pasien mengatasi efek samping tersebut. Komunikasi yang baik serta monitoring (pengawasan) yang ketat akan memastikan tercapainya keberhasilan pengobatan.

Yang tak kalah pentingnya adalah masalah struktural. Kemiskinan sering menjadi penyebab kegagalan terapi. Pasien yang tidak bisa datang ke puskesmas karena tidak punya ongkos atau memilih membeli beras untuk keluarganya ketimbang membayar angkot ke puskesmas masih kerap menjadi kendala keberhasilan pengobatan TB di kantong-kantong kemiskinan di Indonesia. Padahal obat anti-TB tersedia gratis. Atau status gizi pasien yang buruk, yang menyebabkan obat kurang efektif bekerja sehingga kesembuhan sempurna mustahil dicapai.

Semua ini adalah masalah struktural yang berada di luar wilayah medis namun sangat berpengaruh pada keluaran intervensi medis. Kerjasama lintas sektor sangat penting, jika kita ingin kematian sia-sia akibat TB – yang sebenarnya bisa diobati – bisa dicegah.

 

Download