Worried Well: Masalah Dalam Komunikasi Dokter dan Pasien

KOM

Sebagai dokter saya harus menghadapi banyak sekali pasien dengan beragam kondisi kesehatan, beragam latar belakang sosial, ekonomi, agama, budaya, bahasa, etnis dan pendidikan, orientasi seksual, beragam usia dan pengalaman, dan juga beragam perilaku ketika sakit. Semuanya unik dan memberi banyak pelajaran berharga kepada saya, baik sebagai dokter maupun sebagai pribadi.

Kali ini saya ingin membahas mengenai berbagai perilaku pasien. Pada umumnya bisa dikatakan bahwa tanggapan orang terhadap vonis dokter dan nyeri sangat dipengaruhi oleh latar belakangan yang dimilikinya. Ada yang penerimaannya sangat baik, sabar, dan segera memutuskan untuk bekerja sama dengan dokter, tapi ada pula yang marah, tidak terima, mengingkari kondisinya. Nah, selain itu, ada pula pasien yang dalam istilah kedokteran disebut “worried well”. Artinya sebenarnya pasien ini baik-baik saja, namun karena pikiran dan asumsi tertentu yang dimiliki, dia tidak percaya pada diagnosa dokter atau bahkan tidak percaya pada hasil laboratorium yang didasarkan pada pemeriksaan yang teliti dan terukur.

Sebagai dokter yang banyak menangani pasien dengan HIV dan AIDS, kasus worried well ini tidak satu-dua kali saya dan tim hadapi. Ada beberapa di antara mereka yang datang ke ruang praktik saya dengan keyakinan dia sudah terinfeksi HIV karena berbagai macam penyebab, baik yang terkait dengan hubungan seks tidak aman, maupun karena menggunakan jarum suntik untuk narkoba. Sebenarnya beberapa kali pemeriksaan sudah mengindikasikan bahwa keyakinannya itu tidak terbukti, alias selalu HIV negatif. Namun ia tidak yakin.

Pasien-pasien seperti ini biasanya memerlukan waktu lama untuk berkonsultasi, lebih dari 60 menit, dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sukar dihentikan. Jika pasien biasa membutuhkan sekitar 10-15 menit untuk konsultasi, pasien-pasien “istimewa” ini membutuhkan tak kurang dari satu jam untuk membahas gejala-gejala yang dirasakannya. Tidak mudah meyakinkan mereka bahwa mereka sebetulnya baik-baik saja dan tidak perlu khawatir.

Biasanya the worried well ini justru orang-orang yang secara pendidikan baik dan memiliki akses informasi di atas rata-rata. Dengan teknologi sistem informasi yang seperti sekarang, mencari informasi sudah semudah menggerakkan jari. Namun masalahnya, seperti pernah saya tulis dalam artikel sebelumnya, Tak Sesat di Belantara Informasi: Menjadi Pasien di Era Internet”, justru saking mudahnya orang tidak kritis mengenai validitas dan reliabilitas data. Oleh karena itu, saya katakan di dalam artikel tersebut, risiko mengambil keputusan salah karena didasarkan pada informasi yang tidak jelas sangat besar.

Mendiagnosa Diri Sendiri

Satu hal yang seolah gampang untuk dilakukan dengan datangnya banjir informasi seperti sekarang adalah mendiagnosa diri sendiri. Setiap artikel mengenai penyakit apapun, biasanya menyertakan gejala-gejalanya. Atas dasar bacaan ini biasanya pasien akan mencoba mendiagnosa diri sendiri mengenai kondisi yang dialaminya.

HIV dan AIDS adalah salah satu penyakit infeksi yang informasinya bertebaran di internet. Dari yang sangat serampangan ditulis sampai artikel ilmiah yang sudah melalui seleksi dan tinjauan ahli (peer-reviewed). Masyarakat yang tidak memiliki dasar-dasar kedokteran tidak akan mudah membedakan mana artikel berkualitas dan mana yang tidak. Akibatnya, banyak yang segera menjadi senewen dan merasa dirinya positif mengidap virus perusak kekebalan tubuh ini begitu merasa ada keluhan yang mirip dengan gejala yang tertulis di artikel populer yang dibacanya. (Kalangan “awam” biasanya lebih menyukai artikel populer yang jauh lebih “readers-friendly” ketimbang artikel di jurnal ilmiah yang penuh dengan istilah medis dan ilmiah).

Di banyak artikel yang mudah dijumpai, gejala-gejala umum terkait HIV. Mulai dari sakit tenggorokan, demam, ruam yang tidak gatal, pembengkakan kelenjar limfa, diare, penurunan berat badan, kelelahan, nyeri sendi dan nyeri otot. Atau, jika perjalanan penyakit sudah lanjut, maka disebutkan gejalanya antara lain demam yang berlangsung lebih dari 10 hari, rasa lelah yang tidak kunjung selesai meski sudah banyak beristirahat, berkeringat di malam hari, bintik-bintik ungu yag tidak hilang di kulit, sesak nafas, diare berkepanjangan, infeksi di mulut, tenggorokan dan vagina, serta berdarah atau memar tanpa sebab yang jelas.

Sebenarnya bisa dilihat, bahwa gejala-gejala yang disebutkan di atas bukan gejala yang khas. Artinya ada banyak penyakit lain yang juga menampakkan gejala yang sama. Berkeringat dan demam di malam hari bisa jadi gejala TB. Demikian juga dengan pembengkakan di kelenjar limfe. Infeksi di mulut, tenggorokan dan vagina bisa jadi gejala infeksi virus herpes, atau karena kurangnya kita menjaga hygiene mulut kita. Begitu juga rasa lelah yang terus-menerus yang bisa jadi disebabkan karena stress, miastenia gravis, anemia, defisiensi vitamin dan mineral.

Karena itu, standar emas untuk memastikan apakah seseorang sudah terinfeksi HIV adalah melalui pemeriksaan darah serologi HIV atau pemeriksaan darah langsung virus HIV di laboratorium. Sayangnya, banyak orang – yang sadar perilakunya berisiko misalnya menggunakan jarum suntik bergantian dengan sesama IDU atau melakukan hubungan seks berisiko tanpa pengaman – lebih memilih untuk membandingkan sendiri gejala yang dia rasakan dengan teks-teks yang didapatkan secara acak dari internet dan tidak mau melakukan test darah. Untuk diingat saja, gejala-gejala yang dirasakan seseorang bisa jadi memang obyektif, namun ada pula yang disebabkan karena faktor subyektif: karena pikiran yang makin lama makin berat seiring dengan keyakinannya bahwa ia positif mengidap HIV.

Bahkan setelah beberapa kali tes darah serologi HIV dinyatakan negatif, tidak ada infeksi HIV, orang tersebut masih yakin dirinya terinfeksi virus HIV, sehingga ia akan pindah dokter karena tidak yakin dengan penjelasan dokter sebelumnya.

Pikiran adalah kemampuan luar biasa yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Pikiran mampu memberikan sugesti kepada kita, baik positif maupun negatif. Sekadar menyebut contoh: mengapa rumah sakit dan petugas kesehatan di rumah sakit cenderung menggunakan warna putih, biru, atau hijau, tentu ada alasannya. Karena warna-warna itu di pikiran manusia diasosiasikan dengan kebersihan dan kesehatan, memberi sugesti untuk perasaan yang lebih baik jika kita sedang tidak enak badan atau sakit.

Jadi, kembali ke diagnosa diri, sebaiknya jika seseorang merasa ada yang tidak beres dengan kesehatannya, sebaiknya ia tidak berhenti dengan membaca artikel-artikel yang didapatkan secara random dari internet. Artikel-artikel tersebut, saya selalu menyarankan pada pasien-pasien yang melek teknologi, silakan di-print sebagai bahan diskusi dengan dokter ketika konsultasi. Jangan mengambil kesimpulan sendiri, karena bahkan dokter pun masih butuh memeriksa dan “mewawancara” pasien secara langsung untuk menegakkan diagnosa.

Komunikasi Dokter-Pasien

Komunikasi efektif antara dokter-pasien adalah hal yang paling sentral untuk keberhasilan terapi. Keberhasilan membangun pola komunikasi yang baik akan sangat menentukan persepsi mengenai kualitas layanan yang bermutu. Kebanyakan ketidakpuasan dari pihak pasien biasanya disebabkan karena ketiadaan komunikasi yang baik. Sayangnya, saya juga harus jujur mengakui, masih banyak dokter yang membutuhkan capacity building di bidang komunikasi ini. Mungkin sekali termasuk saya sendiri.

Hubungan dokter-pasien bersifat unik. Meski terjadi transaksi material di antara keduanya, namun kenyataannya kualitas hubungan sangat dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan pasien terhadap dokter.  Sebaliknya, kepercayaan itu sangat dipengaruhi oleh seberapa jauh dokter menunjukkan penghormatan terhadap kehidupan dan pribadi pasien.

Selama ini anggapan umum mengatakan bahwa dokter Indonesia kurang komunikatif atau peduli dengan kondisi pasiennya. Tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 seharusnya menjadi titik tolak bagi perubahan pola komunikasi yang menempatkan dokter berkuasa penuh atas hidup dan kualitas hidup pasien.Dokter Indonesia diuntungkan tidak hanya dari segi kesamaan bahasa, namun juga kesamaan latar belakang budaya, dan (mungkin) agama. Yang terakhir ini bisa sangat sensitif, karena biarpun agama dokter sama dengan pasien, namun perbedaan mazhab atau aliran bisa menjadi masalah jika tidak diperhatikan dengan hati-hati.

Komunikasi dokter-pasien seyogyanya  mengarah pada terciptanya hubungan kemitraan (partnership) antara keduanya. Dokter menguasai ilmu kedokteran, namun pada akhirnya pasien yang “berhak” atas kehidupannya. Karena itu dokter perlu mendengarkan dan merespon keluhan, kekhawatiran serta preferensi atas pilihan yang dibuat pasien. Dokter juga harus membantu pasien menetapkan pilihan pengobatan terbaik melalui pemberian informasi yang dibutuhkan pasien.

Banyak rambu-rambu komunikasi yang tidak boleh dilanggar oleh dokter dalam berhubungan dengan pasien, seperti prinsip kerahasiaan,  diskriminasi, memanfaatkan pasien untuk kepentingan pribadi, apalagi sexual abuse. Banyak dari rambu-rambu ini yang sangat dipengaruhi oleh budaya, dan karenanya merupakan “advantage” bagi dokter Indonesia.

Ada beberapa potensi hambatan yang bisa mengurangi efektivitas komunikasi dokter dan pasien. Dari sisi pasien, mungkin mereka merasa “mengganggu” waktu dokter yang sangat berharga sehingga secara sepihak menyeleksi informasi untuk disampaikan kepada dokter, padahal mungkin justru informasi itu yang sangat dibutuhkan untuk diagnosa. Atau mereka menyembunyikan fakta-fakta yang mereka pikir bisa membuat mereka malu atau tidak nyaman jika terungkap di kemudian hari. Namun masalah yang lebih sering adalah pasien tidak mengerti istilah-istilah kedokteran yang bagi dokter adalah istilah sehari-hari, atau karena dokter dianggap tidak mendengarkan sungguh-sungguh keluhan pasiennya.

Ada beberapa tips sederhana untuk mengurangi potensi masalah tersebut: mulai dari mendengarkan sambil duduk, memastikan posisi pasien juga nyaman ketika berkonsultasi, menjaga kontak mata, tidak memotong pembicaraan pasien, bersikap sabar ketika pasien terdiam dan mencari kata-kata yang pas, menunjukkan pengertian dengan gesture non-verbal seperti menganggukkan kepala, tidak mengingkari nyeri yang dikeluhkan pasien, hingga menanyakan secara eksplisit hal-hal yang menjadi kekhawatiran pasien.

Dari sisi pasien, seringkali perlu bantuan keluarganya atau sahabat untuk mendampingi ketika bertemu dokter agar merasa lebih berani untuk mengungkapkan keluhan-keluhannya, khususnya untuk yang berpenyakit kanker, lupus, infeksi HIV atau yang berpenyakit menahun yang lain.

Mencegah Ketergantungan Pasien

Namun di sisi lain, seraya membangun komunikasi yang efektif, dokter juga perlu menjaga agar pasien tidak tergantung kepada dokter. Gejala ketergantungan pasien terhadap dokter bisa ditengarai dari beberapa gejala, seperti:

  • Konsultasi yang terlalu sering untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.
  • Menanyakan masalah yang itu-itu saja.
  • Pasien tidak mau ditangani oleh dokter atau perawat lain, atau tidak percaya kepada masukan dari dokter lain.
  • Tidak mau menghentikan pengobatan atau konsultasi.
  • Memberikan hadiah dan pujian secara berlebihan.
  • Mengeluhkan gejala yang sama terus-menerus, kendati dokter sudah mengatakan tidak menemukan penyebabnya setelah dilakukan pemeriksaan yang menyeluruh.

Situasi ini memang tidak selalu mudah ditangani dokter. Kendati dokter mungkin sudah mengetahui bahwa ketergantungan itu mungkin sekali berakar dari masa lalu pasien yang mempengaruhi hubungannya dengan orang lain. Tidak hanya dengan dokternya. Atau kesepian menahun yang menyebabkan pasien “lari” ke ruang praktik untuk meredakan ketidaknyamanan akibat kesepiannya itu.

Akan tetapi, di sisi lain, dokter juga perlu meneliti ke dalam dirinya, apakah ketergantungan orang lain terhadapnya adalah hal yang ia sukai. Namun yang jelas, jika terjadi hubungan emosional atau keterlibatan dokter yang jauh dengan pasiennya di luar batasan profesional, dokter harus menjadi yang pertama menyadari hal tersebut dan mengembalikan hubungan dengan pasien ke proporsi yang tepat.

Beberapa hal yang bisa dilakukan dokter untuk pasien yang tergantung maupun yang memiliki tipe worried well, antara lain dengan menanyakan, “Ada hal lain yang ingin ditanyakan?”, atau mencari tanda-tanda depresi jika diperlukan. Cara lain, dokter bisa mengingatkan dengan halus, misalnya dengan mengatakan, “Bapak/Ibu ingat tidak, bahwa selama 6 bulan ini kita sudah bertemu hampir 20 kali? Sudah sangat sering dan saya mulai merasa bersalah jika kondisi Bapak/Ibu tidak juga membaik.”

Atau, dokter bisa mulai berbagi tanggungjawab dengan pasien dengan mengatakan, misalnya, “Ada beberapa pilihan pengobatan, tetapi keputusan tetap harus di tangan Bapak/Ibu dan keluarga, sebab ini terkait dengan hidup Bapak/Ibu sendiri. Saya hanya membantu.”

ila dokter merasa bahwa penyakit pasien merupakan kasus sulit, yang mungkin di luar kompetensinya, ada baiknya untuk merujuk ke dokter spesialis lain yang lebih berkompeten. Dalam hal “the worried well”, konsultasi ke psikiater perlu dipikirkan.

Akhirnya, dokter bisa membalikkan hubungan yang diwarnai ketergantungan itu dengan menjadikan pasien sebagai “anggota tim” dalam rangka mencapai keberhasilan pengobatan. Menyepakati tujuan pengobatan, waktu pertemuan, serta menegosiasikan hal-hal apa yang termasuk atau tidak termasuk dalam rencana tersebut. Mudah-mudahan dengan demikian tidak hanya hubungan dokter dan pasien menjadi lebih sehat, tetapi juga target pengobatan bisa dicapai.